Tim Voli Kudus Berjaya di Kejurprov di Sragen

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Impian Kudus merebut gelar juara dalam pertandingan bola voli Kejurprov Junior di Sragen semakin dekat. Karenanya dalam pertandingan tersebut, Kudus sudah menjadi juara grup di Grup J.

Kemenangan Kudus terjadi usai mengalahkan tim satu grupnya. Mulai dari Rembang, Wonogiri dan Kebumen. Pelatih Voli Kudus Agung Pribadi mengatakan, kemenangan Kudus dengan mudah didapatkan berkat latihan berat yang dilakukan.

Kekalahan tahun lalu membut Kudus kerja keras. Yaitu dengan meningkatkan kemampuan para pemain dengan latihan secara rutin. Bahkan mendekati pertandingan latihan dilakukan tiap hari
“Latihan fisik dan teknik terus kami lakukan.dan tahun ini pemain juga lebih siap dalam menyongsong pertandingan,” imbuhnya.

Hasil latihan terbukti, meski sehari tanding lebih dari sekali, yakni melawan Rembang. Dan dilanjutkan Jumat (30/10) melawan Wonogiri menang 2 – 0. Dan tadi melawan Kebumen menang 2 – 0.

Meski sudah lolos, rasa waswas dalam kompetisi merebut juara masih terus berjalan. Unggulan dan tim tangguh dalam laga masih belum dijumpai. Baik itu Semarang maupun Solo.
“Kita persiapkan secukupnya. Tidak ada strategi khusus. Tinggal menunggu nanti irama pertandingan bagaimana maka menyesuaikan strategi,” imbuhnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

4 Peristiwa yang Bikin Geger Kota Ukir Selama Oktober

JEPARA – Kabupaten Jepara selama Oktober 2015 telah terjadi beberapa kejadian atau peristiwa yang menggegerkan Kota Ukir. Berikut beberapa kejadian yang dihimpun MuriaNewsCom.

1. Pelajar MTs dibunuh ayah kandung saat tolong ibunya
Pelajar MTs di Jepara, Afrianto alias Rian, (15), warga Desa Geneng, RT 03/RW 01, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, tewas. Niat menolong ibunya yang disiksa sang ayah, berujung maut saat dirinya justru diduga terbunuh di tangan ayahnya sendiri.
Rian tewas setelah dipukul ayahnya bernama Seraju, (45), pada Rabu (28/10/2015), sekitar pukul 05.00 WIB. Saat itu, dia hendak menolong ibunya bernama Siti Hadroh (37), yang diduga dianiaya ayahnya. Pelaku saat ini sudah ditangkap polisi.

Pelaku (kanan)Seraju diinterogasi polisi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pelaku (kanan)Seraju diinterogasi polisi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

2. Pemuda Tewas saat Pertunjukan orkes dangdut
Orkes dangdut yang berlangsung di lapangan Kenari, Desa Purwogondo, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, pada Sabtu (24/10/2015) malam lalu, memakan korban. Satu orang pemuda tewas dan satu orang kritis, usai ditusuk sesama pengunjung.

Korban penusukan saat berlangsungnya orkes dangdut. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Korban penusukan saat berlangsungnya orkes dangdut. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

3. Gempa Jepara
Pada Jumat 23 Oktober 2015 berdasarkan informasi dari Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), telah terjadi gempa berukuran 5.0 SR di wiyalah Jepara dan sekitarnya. Tepatnya berpusat di 26 km timur laut Jepara, atau di 47 km barat laut Pati dan 84 km timur laut Semarang. Gempa terjadi sekitar pukul 01.10 WIB.

Ilustrasi Gempa Jepara

Ilustrasi Gempa Jepara

 

4. Hutan Gunung Muria Terbakar
Hutan di lereng Gunung Muria yang berada di Kabupaten Jepara, terbakar pada 21/10/2015. Kemudian juga terjadi beberapa hari kemudian. Hutan milik Perhutani ludes dilalap api. Lahan yang terbakar itu sebagian besar berada di wilayah Bategede, Jepara. (AKROM HAZAMI)

Hutan yang terbakar di Kabupaten Jepara. (Polsek Nalumsari)

Hutan yang terbakar di Kabupaten Jepara. (Polsek Nalumsari)

Hewan Peliharaanmu Sakit, Silakan ke Klinik Hewan di Grobogan Ini

klinik hewan (e)

 

GROBOGAN – Keberadaan puskesmas hewan atau klinik hewan di kantor Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan ternyata mendapat respons positif dari masyarakat. Hal ini bisa dibuktikan dengan mulai banyaknya orang yang memeriksakan hewan piaraannya di tempat tersebut.

“Jumlah warga yang ke sini memang mulai banyak. Sebulan sudah ada 15 sampai 20 orang yang datang,” kata Kadisnakkan Grobogan Riyanto melalui Kasi Pelayanan Kesehatan Hewan Bambang Yulianto.

Meski angka pengunjung belum begitu signifikan namun, menurut Bambang, hal itu dinilai merupakan hal yang cukup positif. Dari kondisi itu bisa dibilang kalau sudah mulai muncul kesadaran warga terhadap kesehatan hewan piaraannya.

Di sisi lain, masih belum banyaknya orang yang datang itu disebabkan keberadaan klinik hewan itu baru ada sekitar dua tahun lalu.

Lebih jauh Bambang mengungkapkan, selama ini, hewan piaraan yang diperiksakan ke klinik hewan sudah cukup beragam. Paling banyak adalah jenis kucing. Kemudian, anjing, kura-kura, kambing dan beragam jenis burung.

“Untuk pemeriksaan hewan besar, seperti sapi, kerbau, dan kuda juga kita layani. Tetapi, untuk hewan besar ini, kami yang mendatangi ke rumah warga karena tidak memungkinkan untuk dibawa ke klinik sini,” jelasnya.

Mengenai jenis penyakit yang ditangani selama ini, Bambang menyatakan, cukup beragam. Namun, kasus yang sering muncul biasanya gatal-gatal, diare, luka, serta kurang vitamin. Selain itu, banyak pula orang yang sengaja membawa hewan piaraannya ke klinik sekadar untuk divaksinasi. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Ratusan Warga Iringi Pemakaman Ulama Hj Sholichah Basyir

Ratusan warga tampak hadir dalam pemakaman Hj Solichah, Sabtu (31/10/2015) siang. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Ratusan warga tampak hadir dalam pemakaman Hj Solichah, Sabtu (31/10/2015) siang. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Ratusan warga dari kalangan pelajar, santri, kiai, pendidik hingga umum memadati penghormatan terakhir saat pemakaman Hj Solichah, Sabtu (31/10/2015) siang tadi.

Dalam pemakaman tadi, nampak para siswa dari berbagai sekolah. Sejumlah tenaga pendidik atau guru juga berada di areal pemakaman.

Hj Sholichah Basyir mulai dingajikan semalam. Hal itu diungkapkan seorang santri Ponpes Darul Falah Jekulo, Kudus, yang temui MuriaNewsCom, Afifuddin yang ikut mengiring jenazah saat pemakaman tadi.

“Semalam sudah dimulai, ramai yang datang. Bukan hanya dari kalangan santri namun juga dari kalangan umum seperti masyrakat sekitar dan sebagainya,” katanya.

Selama pemakaman, ratusan peziarah mengikuti proses pemakaman mulai dari upacara pemberangkatan. Pelayat juga memenuhi masjid untuk mensalatkan jenazah sebelum dimakamkan.

Jenazah, dimakamkan di pemakaman umum desa setempat. Lokasi pengamanan jenazah berada di sebelah selatan makam suaminya, KH Ahmad Basyir.

Isak tangis juga tidak kunjung usai meski para pelayat sudah meninggalkan lokasi. Khususnya bagi para santri yang memiliki hubungan lebih dengan almarhumah. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

4 Emas Kejurprov sudah Dikantong Petenis Meja Kudus

foto bersama, Heni Sandra Nurwati ketua Pengkab PTMSI Kudus beserta seluruh atlet tenis meja Kudus di Kejurprov Karanganyar 2015. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

foto bersama, Heni Sandra Nurwati ketua Pengkab PTMSI Kudus beserta seluruh atlet tenis meja Kudus di Kejurprov Karanganyar 2015. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Tenis Meja yang dimulai sejak 29 November lalu hingga saat ini sudah memperlihatkan hasil. Dari beberapa kategori pertandingan di Pemula, Kadet Dan Junior putra putri, Kudus sudah mengantongi 4 emas dan 1 perunggu.

“Karena melihat peluang yang rata. Yakni materi pemain Kudus dengan pemain dari kabupaten lain yang rata jadi harus berjuang lebih keras, ” ujar Heni Sandra Nurwati, Ketua Pengkab PTMSI Kudus.

Berikut hasil perolehan sementara Kejurprov tenis meja Kudus. Di kelas Pemula, putri Kudus meraih emas dengan skor 3-2 dari Semarang. Pemula putra juga meraih emas dengan skor 3-0 dari Semarang. Sementara Kadet putri berhasil meraih emas dari Pati dengan skor 3-2.
Untuk Junior putri mendapatkan emas setelah mengalahkan Semarang 3-0 dan Junior putra harus puas dengan perunggu. (AYU KHAZMI/AKROM HAZAMI)

Enak Tenan, Kata Wong Kudus. 9 Kuliner Khas Kota Kretek Ini Tak Ada Duanya

KUDUS – Kabupaten Kudus selalu menjadi kota yang menarik untuk dikunjungi. Cocok bagi warga luar kota yang ingin menghabiskan akhir pekannya. Atau masa libur akhir tahun. Jelas, wisata religi di Kota Kretek menjadi satu magnet yang tak dimiliki kota lain. Dari berziarah ke Menara Kudus, sampai juga ke Makam Sunan Muria. 2 jejak Walisongo itu berada di kota dengan sembilan kecamatan.

Jadi bagi kamu yang berwisata ke Kudus, jangan lupa cicipi masakan khasnya, atau kamu akan terbawa mimpi dan entah kapan bisa mencicipinya. Karenanya, masukkan daftar mencicipi makanan khas Kudus dalam list kunjunganmu ke Kudus.

1. Setiap kota memang punya soto. Tapi Soto Kudus selalu berbeda
Soto Kudus adalah soto yang berasal dari Kudus. Jelas dong. Hehe. Soto kudus, hampir mirip dengan soto Lamongan, tapi Soto Kudus berisi suwiran ayam dan taoge. Terkadang Soto Kudus juga menggunakan daging kerbau dengan kuahnya yang lebih bening.
Soto Kudus dalam penyajiannya memiliki tradisi dihidangkan dalam mangkuk kecil untuk satu porsi. Persis dengan soto lainnya, Soto Kudus ditemani sambal dan jeruk nipis. Hidangan ini cocok untuk disantap saat siang hari, atau saat musim hujan. Seger dan lezat.

Soto_Kudus

 

2. Gak biasa sarapan? tapi bagaimana dengan sarapan Lentog Tanjung?
Yap, Lentog Tanjung biasanya menjadi hidangan sarapan yang membangkitkan semangat pagimu. Yang unik dari lentog adalah ukuran lontongnya yang sebesar betis orang dewasa. Biasanya Lentog Tanjung dinikmati sebagai menu untuk sarapan, terdiri dari 3 bahan utama, ada lontong yang dipotong kecil-kecil, sayur gori (nangka muda) dan lodeh tahu.

lentog tanjung

 

3. Siang panas dan lapar, Garang Asem cocok disantap
Garang Asem merupakan makanan tradisional khas Jawa Tengah. Garam asem adalah masakan olahan ayam berkuah santan yang dimasak menggunakan daun pisang dan didominasi oleh rasa asam dan pedas. Beberapa kota di provinsi Jawa Tengah memiliki makanan tradisional ini. Antara lain Semarang, Demak, Kudus, Pati, dan Pekalongan. Garang asem biasa disajikan sebagai lauk pendamping nasi, ditambah dengan tusukan ayam asam manis, tempe goreng, dan perkedel.

Garang_asem

 

4. Bosan dengan sate yang itu-itu saja, Coba rasakan Sate Kerbau Kudus
Sate Kerbau Kudus adalah makanan khas Kabupaten Kudus, yang terbuat dari daging kerbau. Karena di Kudus ada kepercayaan melarang penyembelihan sapi. Sate yang terbuat dari daging kerbau. Daging disajikan tidak dalam bentuk biasanya, tetapi daging dipotong dan dicincang halus dan dilekatkan pada batang sate dengan bumbu kecap, kelapa (srundeng) dan kacang, rasanya mirip dengan dendeng. Berikut cara mengolah kerbau hingga bisa menjadi sate yang nikmat. Perta daging dipotong dan dipukul-pukul. Kemudian, ditambah gula jawa dan ketumbar. Jangan lupa bumbu dapur lainnya. Setelah daging didiamkan selama lima jam, baru siap dibakar.

sate kerbau

5. Lezatnya Pecel Pakis Colo jelas beda dengan lainnya
Pecel Pakis Colo. Peziarah makam Sunan Muria, bisa mampir menikmati menu ini. Menu ini berasal dari Desa Colo, karena di daerah tersebut ditemukan tanaman paku-pakuan seperti tanaman pakis. Banyaknya tanaman ini membuat warga memanfaatkan tanaman paku-pakuan tersebut menjadi pecel.
Pecel Pakis Colo terdiri dari pakis, kacang panjang, toge, kacang tanah, cabai keriting, garam, dan gula merah

Pecel_Pakis_Colo

 

6. Jangan ngaku pencinta kuliner kalau belum coba Sayur Kangkung Santan
Sayur Kangkung Santan. Hmm mendengar namanya saja sudah terbayang kelezatannya. Sayur kangkung dengan kuah santan ini biasanya disantap untuk masak siang. Ini merupakan menu tradisional khas orang Kabupaten Kudus. Silakan dicoba. Jangan bungkam rasa penasaranmu, sobat.

sayur-kangkung-santan

 

7. Lezatnya menu sederhana nan lezat, Tahu Kecap
Sudah mulai lapar?Segera cari menu ini di Kudus. Sebelum kehabisan. Masakan Tahu Kecap ini mudah dibuat dan rasanya pun enak. Menu ini paling enak dimakan dengan nasi hangat, dan disajikan di atas daun pisang. Masakan ini merupakan salah satu masakan darurat, karena hanya bermodalkan 2 bahan masakan saja maka bisa tercipta masakan khas Kudus yang lezatnya gak ketulungan.

tahu-kecap-khas-kudus

 

8. Ini bukan ikan pindang biasa. Tapi ini Nasi Pindang Kerbau
Kalau mendengar namanya, yang belum tahu akan terjebak saat memegang piring berisikan menu itu. Mana pindangnya? haha. Itu bukan pindang ikan seperti yang ada di warteg atau warung lain. Tapi menu ini pindang Kerbau. Nasi Pindang adalah masakan yang berupa nasi dan daging disajikan dengan kuah pindang dan daun melinjo atau daun. Nasi Pindang adalah makanan khas dari orang Kabupaten Kudus.

nasi-pindang-kudus

 

9. Menumu sebelum balik dari Kudus, Opor Bakar Sunggingan
Opor Bakar atau lebih dikenal dengan nama “Opor bakar Sunggingan” atau “Opor bakar Kudus” adalah makanan khas pagi masyarakat Kabupaten Kudus. Tepatnya dulu dari Desa Sunggingan.

Opor_Sunggingan

 

Sebenarnya sajian ini belum termasuk sebagai kuliner pusaka, karena merupakan kreasi baru. Tetapi, kreasi baru ini telah bertahan selama 50 tahun dan menjadi ikon kuliner kebanggaan Kudus, sehingga pantaslah untuk kita golongkan ke dalam kategori khusus ini. Seperti cara memotong daging yang dilakukan para penjual nasi di lintasan Kudus-Pati ini, ayam bakar ini “dicincang” dengan menggunakan gunting. Tampaknya, cara menggunting daging dan ayam dengan gunting memang lebih praktis, karena tidak memerlukan talenan untuk memotongnya. Ayam kampung dimasak utuh, dengan bumbu-bumbu yang dihaluskan dimasukkan ke dalam rongga perut ayam.

Oke, selamat berburu kuliner wahai wisatawan. (AKROM HAZAMI)

Rusak, Jalur Danyang-Kuwu Grobogan Ancam Pengendara Celaka

Kendaraan melintasi jalan rusak di bagian tengah di sepanjang jalur jalan raya Danyang-Kuwu Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kendaraan melintasi jalan rusak di bagian tengah di sepanjang jalur jalan raya Danyang-Kuwu Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Hati-hati buat pengendara yang hendak melintasi jalan raya Danyang-Kuwu. Khususnya bagi yang tidak biasa melewati jalur tersebut. Pasalnya, di beberapa titik ada ruas jalan beton yang rusak di bagian tengah.

Dari pantauan di lokasi, ruas jalan yang rusak mulai masuk Desa Kandangan, Kecamatan Purwodadi hingga Desa Sembungharjo, Kecamatan Pulokulon. Panjang jalan yang rusak ini bervariasi. Antara lima sampai 10 meter.

Bagi kendaraan roda empat, kondisi jalan yang rusak ini tidak begitu terasa. Tetapi buat kendaraan roda dua sangat berbahaya. Soalnya, jika roda sudah terperosok dalam rekahan tersebut, kemungkinan terjatuh cukup tinggi.

“Kondisi jalan rusak ini sudah berlangsung sekitar dua bulan lalu. Awalnya, rekahannya kecil saja tetapi karena dilalui kendaraan berat tiap hari ukurannya jadi melebar dan panjang,” kata Sujadi, warga Kandangan.

Menurut warga, rekahan jalan itu sebelumnya sudah sempat di tangani dinas terkait. Yakni, dengan menjejali rekahan itu dengan kerikil dan kemudian ditutup aspal.
Meski demikian, upaya ini tida bisa tahan lama. Buktinya, rekahan itu kembali muncul seperti sebelumnya.

“Harusnya di bagian pinggir cor beton ada semacam pondasi penahan yang kuat. Kalau rekahan cuma diisi kerikil dan ditutup aspal tidak akan kuat lama. Bagi warga yang tidak terbiasa lewat sini sebaiknya hati-hati,” imbuh Harnanto, warga lainnya.

Selain jalan rusak, ada pula ruas jalan yang beda tinggi. Di mana, salah satu ruas beton ambles karena talud jalan tidak begitu kuat. Jalan yang beda tinggi ini kebanyakan sisi pinggirnya cukup dekat dengan parit saluran pembuangan air. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Pengurukan Lokasi Bangunan Kuno Banjarejo Grobogan Ditunda, Ada Apa?

 

Warga melihat lokasi penemuan bangunan kuno di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga melihat lokasi penemuan bangunan kuno di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Rekomendasi dari tim Balai Arkeologi Yogyakarta agar lokasi ditemukannya bangunan kuno di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, ditutup dulu hingga saat ini belum dilakukan.

Karena, setiap hari di lokasi penemuan bangunan mirip pondasi itu masih ramai pengunjung.
“Sebenarnya, saya ingin menindaklanjuti rekomendasi dari Balai Arkeologi. Namun, mengingat masih banyak pengunjung maka rencana penutupan lokasi saya tunda dulu. Sebab, kasihan kalau ada orang jauh-jauh datang tetapi tidak bisa menyaksikan bangunan kuno,” kata Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, setiap hari sedikitnya ada 100 orang yang melihat bangunan yang diperkirakan dari abad ke-15 itu. Bahkan, pada hari Minggu pengunjungnya bisa mencapai 1.000 orang. Selain warga sekitar, pengunjung juga datang dari luar kota dan ada yang datang dari Kalimantan.

Mengingat banyaknya pengunjung, Taufik kemudian meminta warga untuk membuat jalur khusus dari pinggiran Dusun Medang Kamulan. Dengan jalur di tengah sawah itu kendaraan bisa masuk mendekati lokasi bangunan kuno. Dari situ, pengunjung tinggal berjalan kaki sekitar 100 meter saja untuk sampai tempat yang dituju.

“Kondisi saat ini memang memungkinkan untuk bikin jalur di tengah sawah. Soalnya, tanah sawah kondisinya sangat keras lantaran tidak pernah tersiram hujan dan kebetulan juga tidak ada tanamannya sama sekali,” imbuhnya.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat diperkirakan sudah mulai masuk musim hujan. Jika hal ini sudah terjadi maka penutupan lokasi akan dilakukan. Sebab, jika dibiarkan terbuka maka bangunan kuno itu dikhawatirkan bisa rusak tergerus air hujan.

Beberapa hari lalu, Ketua tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto yang melakukan kunjungan ke lokasi memberikan beberapa rekomendasi. Di antaranya, mengamankan dan melindungi struktur bata yang ditemukan di areal sawah di wilayah Dusun Nganggil. Caranya. dengan menutup bangunan dengan paranet atau karung plastik yang berpori dan kemudian diuruk tipis dengan tanah.

“Hal ini perlu dilakukan karena lubang galian warga yang menampakkan struktur bata menciptakan lubang panjang dan dipastikan akan tergenang air saat hujan. Rendaman air hujan dikhawatirkan akan merusak bata dan konstruksinya. Selain itu ekspose sinar matahari juga dapat mempercepat proses kerapuhan bata,” ujar Ketua tim dari Balai Sugeng. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Robby Adiarta : Untuk Sukses, Harus Berani Putuskan Urat Malu

Jpeg

Robby Adiarta yang merupakan pemilik Angkringan Cekli Kudus sedang mengisi seminar kewirausahaan di SMK Raden Umar Said Kudus, Sabtu (31/10/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Sebagai pembicara dalam seminar wirausaha yang digelar di SMK Raden Umar Said Kudus, Robby Adiarta yang juga pemilik Angkringan Cekli tersebut mengatakan, jika ingin sukses, maka harus berani memutuskan urat malu.

Memutuskan urat malu diartikan, sebagai wirausahawan harus percaya diri, menghilangkan rasa malu untuk mencapai kesuksesan.

”Kita jangan malu sama orang-orang yang bekerja di kantoran, pejabat, dan lainnya. Namun wirausaha itu harus kreatif menciptakan usaha. Sehingga kedepannya bisa maju,” kata Robby.

Selain itu, guna meningkatkan semangat wirausaha pada jiwa siswa, pihaknya juga telah mencontohkan dengan menghadirkan pelaku usaha lainnya. Sehingga siswa bisa mencontoh kesuksesan pelaku usaha tersebut.

”Para pelaku usaha tersebut biasanya percaya diri, mentalnya kuat, kreativitasnya tinggi. Seperti halnya Andika Khairuliawan Kudus. Beliau dahulunya sebelum menjadi pengusaha aksesoris motor, pernah ditawari menjadi PNS di kantor Kementerian Pertahanan, dan perusahan Toyota. Namun dia tidak menggantungkan itu semua. Beliau lebih memilih menciptakan usaha sendiri,” paparnya.

Dia menilai, dengan semangat wirausaha muda itulah yang nantinya bisa membanggakan orang disekelilingnya. Khususnya orang tua. Selain itu juga bisa sebagai sarana balas jasa kepada orang tua. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

SMK Raden Umar Said Kudus Rutin Gelar Seminar, Agar Siswanya Jadi Pengusaha Sukses

Jpeg

Robby Adiarta yang merupakan pemilik Angkringan Cekli Kudus sedang mengisi seminar kewirausahaan di SMK Raden Umar Said Kudus, Sabtu (31/10/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Sebanyak 150 siswa jurusan produktif grafika dan persiapan grafika, SMK Raden Umar Said Kudus siang ini mengikuti seminar wirausaha. Kegiatan tersebut merupakan jadwal rutin tahunan pihak sekolah untuk menggali semangat wirausaha mandiri siswa.

Kepala SMK Raden Umar Said Kudus Fariddudin mengatakan, meskipun sekolah ini telah bekerja sama dengan 70 perusahan untuk menciptakan lapangan pekerjaan pasca kelulusan siswa, tetapi siswa juga harus dididik untuk mandiri berwirausaha. Sehingga mereka tidak serta merta menggantungkan pekerjaan dari perusahaan atau pabrik.

Seminar yang diisi pembicara Robby Adiarta yang merupakan pemilik Angkringan Cekli Kudus tersebut, diharap dapat membeberkan pendidikan wirausaha yang baik. Sehingga akan timbul semangat wirausaha dalam diri siswa.

”Jika mereka ditumbuhkan jiwa berwirausaha mandiri, maka disaat lulus nanti mereka terpacu membuat usaha sendiri. Selain itu, mereka juga bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi semua orang,” papar Fariddudin.

Dia menambahkan, yang terpenting dalam kegiatan seminar wirausaha ini ialah bisa menggugah jiwa, semangat serta memberikan pendidikan terhadap dunia usaha. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Barongan di Desa Barongan Terus Dilestarikan

Barongan (e)

Pagelaran barongan sering ditampilkan pada acara-acara besar di daerah Kudus, karena sebagai salah satu kebudayaan yang dimiliki Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

KUDUS – Kesenian Barongan di Desa Barongan, terus dilestarikan hingga kini. Masyarakat di Desa Barongan terus melestarikan kesenian Barongan salah satunya dengan mempertunjukkannya pada kegiatan kirab dan even besar.

Kepala Desa Barongan Bambang J mengatakan, masyarakat tidak canggung lagi memainkan barongan. Terlebih saat keramaian seperti 17an dan kegiatan keramaian desa lainnya.

”Banyak masyarakat yang sudah pandai memainkan barongan. Meski budaya lokal, namun warga sangat menikmatinya karena warisan sejarah,” katanya.

Bahkan, anak-anak desa tersebut juga pandai memainkannya untuk kebutuhan lainnya. Sepeti menjelang 17an tahun lalu, sejumlah anak-anal asal Barongan memainkan barongan untuk mendapatkan dana yang digunakan untuk kemeriahan kegiatan 17an. (FAISOL HADI/TITIS W)

Inilah Alasan Desa di Kudus Ini Dinamai Barongan

Barongan (e)

Pagelaran barongan sering ditampilkan pada acara-acara besar di daerah Kudus, karena sebagai salah satu kebudayaan yang dimiliki Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

KUDUS – Setiap desa, memiliki sejarah tersendiri dalam pemilihan namanya. Begitu pula dengan Desa Barongan, terdapat sebuah sejarah yang panjang dengan pembentukan nama tersebut.

Desa Barongan, yang terdapat di Kecamatan Kota memiliki hubungan dengan Sunan Muria, diceritakan Pakar Sejarah Sancaka Dwi Supani, asal mula Desa Barongan adalah dengan cikal bakal bernama Mbah Barong, seorang santri Sunan Muria yang mengajarkan agama di daerah tersebut.

”Jadi dahulu, mbah Barong mengajarkan ilmunya di sini, setelah diminta kanjeng Sunan Muria untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dalam mengamalkan ilmunya, mbah Barong juga mengajarkan sebuah kesenian lokal yakni barongan. Para santri di pondok buatannya yang terbuat dari bambu, diajari kesenian tersebut.

”Dari situlah daerah dinamai Desa Barongan, karena cikal bakal yang bernama Mbah Barong dan Kesenian Barongan,” imbuhnya.

Mbah barong wafat pada 15 Muharram, jadi setiap 15 Muharram dilakukan pengajian dan haul mbah Barong. (FAISOL HADI/TITIS W)

Sekali Dropping Kedungdowo Butuh 2 Tangki

Kedungdowo (e)

Dusun Krajan desa Kedungdowo Kaliwungu membutuhkan dropping air bersih hingga 2 tangki setiap harinya karena kekeringan. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

KUDUS – Kekeringan yang melanda Desa Kedungdowo Dusun Krajan menjadi salah satu lokasi paling parah. Setiap harinya pemerintah mengupayakan dropping air bersih hingga dua tangki setiap hari.

”Di Dusun Krajan, ditempati sekitar 200 lebih KK. Sehingga membutuhkan banyak air bersih untuk mampu mencukupi kebutuhan warga,” ungkap Darojatun Kepala Desa Kedungdowo, Kaliwungu Kudus.

Namun dirinya mengaku sangat terbantu dengan berbagai lembaga yang sudah selama satu bulan ini rutin dropping air ke lokasi. Di antaranya dari BPBD, KNPI, Djarum dan beberapa lembaga lain. Dirinya berharap semoga kemarau panjang segera usai mengingat saat ini kekeringan semakin meluas diberbagai daerah. (AYU KHAZMI/TITIS W)

Kedungdowo Sempat Dropping Air Setiap Hari

Kedungdowo (e)

Suasana Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu selama musim kemarau daerah tersebut dropping air setiap hari. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

KUDUS – Meski hujan sudah turun di Kudus kemarin malam namun hal tersebut belum mampu menaikkan debit air sumur dan sungai. Sebab air yang turun dalam kurun waktu sebentar tersebut dirasakan masih sangat kurang untuk membuat sumber air terisi.

Dibeberapa daerah Kudus, seperti di Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu sempat di dropping air bersih setiap hari selama 1 bulan. ”Sejak sekitar awal bulan lalu, di desa kami mengalami kekeringan parah terutama di dusun Krajan,” ujar Darojatun, Kepala Desa Kedungdowo, Kaliwungu, Kudus.

Pihaknya menambahkan sebenarnya ada tiga sumur besar sumbangan dari pemerintah dengan kedalaman mencapai 100 meter. Dengan kondisi dua sumur yang masih baik, sementara satu sumur butuh perawatan. Namun ternyata sumur tersebut juga belum bisa sepenuhnya membantu kekeringan di Desa Kedungdowo. (AYU KHAZMI/TITIS W)

Warga Pati Salat Istisqa di Tengah Kepungan Mendung

Salat Istisqa 2 (e)

Warga Pati tengah menjalankan salat istisqa di tengah kepungan mendung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Musim penghujan sepertinya sudah mulai tiba. Pati bagian selatan seperti Kecamatan Kayen dan Sukolilo sudah diguyur hujan sekitar 30 menit pada Jumat (30/10/2015) malam.

Mendung pun tampak terlihat jelas di bagian Pati Kota, Sabtu (31/10/2015). Kendati begitu, ratusan warga Pati antusias dan khusyuk melaksanakan salat istisqa.

”Keadaannya memang sudah parah. Kekeringan sudah sampai di wilayah Pati Kota yang selama ini tidak pernah mengalami kekeringan, itu saja sampai kekeringan. Ini sudah menjadi perhatian bersama, sehingga salat istisqa kami gelar,” ujar Slamet Budi Santosa, salah satu peserta salat istisqa saat dimintai keterangan MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, pada zaman Nabi Musa yang dikerahkan untuk minta hujan sekitar 70.000 jamaah. Karena itu, salat istisqa mestinya dilakukan secara serentak dengan serius dan sungguh-sungguh.

”Ini pesertanya sekitar 500 orang. Meski demikian, kami berharap Tuhan mengabulkan doa dan harapan kami,” harapnya. (LISMANTO/TITIS W)

Ratusan Warga Pati Gelar Salat Istisqa di Alun-alun Pati

Salat Istisqa (e)

Ratusan warga tengah rukuk saat salat istisqa di Alun-alun Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Ratusan warga Pati menggelar salat istisqa di Alun-alun Pati, Sabtu (31/10/2015). Mereka berharap agar hujan segera turun, kendati hujan sudah berlangsung di kawasan Pati bagian selatan, Jumat (30/10/2015) malam kemarin.

Di wilayah Pati bagian kota dan utara sendiri, hujan sampai sekarang tak kunjung datang. Hujan benar-benar diharapkan, lantaran sumber air di bagian Pati Kota sudah mulai mengering.

”Kami berharap hujan segera datang. Sumber air di wilayah Pati Kota sudah mulai mengering. Ada sekitar 500 warga yang ikut salat istisqa pagi ini,” ujar Slamet Budi Santosa, salah satu peserta salat istisqa kepada MuriaNewsCom.

Ia menambahkan, hujan mestinya sudah berlangsung dua bulan yang lalu, yaitu September. Hal itu yang melatari mereka untuk menggelar salat istisqa di jantung Kota Pati agar hujan yang bisa menghidupi seluruh makhluk segera tiba. (LISMANTO/TITIS W)

Banyak Perusahaan Asing di Jepara Tak Kooperatif

WNA Bermasalah 2 (e)

WNA bermasalah yang diamankan oleh petugas imigrasi kelas III Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Seiring dengan keberadaan perusahaan asing atau penanaman modal asing (PMA) yang semakin banyak di Kabupaten Jepara. Membuat jumlah tenaga kerja asing (TKA) juga tak sedikit. Akibatnya, potensi rawan dengan keberadaan TKA bermasalah pun ikut meningkat.

Terlebih, baru-baru ini sejumlah warga Negara Asing (WNA) yang juga berstatus sebagai TKA di Jepara diciduk Kantor Imigrasi Kelas II Pati, lantaran bermasalah. Hal itu menunjukkan Jepara masih rawan dengan TKA bermasalah.

Meski begitu, pemerintah melalui Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Jepara mengaku kesulitan melakukan pengawasan lantaran banyak perusahaan asing yang tak kooperatif. Hal itu disampaikan Kepala Dinsosnakertrans Jepara melalui Kasi Wasnaker Muryanto.

Menurut dia, perusahaan seringkali tidak melaporkan jika mendatangkan TKA. Saat dilakukan pantauan, yang ditunjukkan hanya TKA yang tercatat dalam izin mempekerjakan tenaga asing (IMTA).

”Banyak perusahaan yang tidak kooperatif. Maksudnya, perusahaan kerap merahasiakan TKA yang melanggar ketentuan keimigrasian,” kata Muryanto kepada MuriaNewsCom.

Peraturan yang sering dilanggar yakni soal izin bekerja (visa kerja) maupun izin tinggal. Mereka kerap hanya mengantongi izin (visa) kunjungan. Izin bekerja itu menjadi syarat awal untuk mengurus izin tinggal.

”Meski hanya bekerja di perusahaan itu dalam beberapa hari, dan hanya bertugas memantau kualitas produk pabrik, TKA harus tetap mengurus persyaratan yang ada,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Banyak Perusahaan Asing di Jepara, Sebabkan Banyak WNA Bermasalah

WNA Bermasalah (e)

WNA bermasalah yang diamankan oleh petugas imigrasi kelas III Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Banyaknya industri penanaman modal asing (PMA) di Kabupaten Jepara, menjadi alasan terkuat rawan adanya warga Negara asing (WNA) yang bermasalah. Hal itu dibenarkan Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Jepara melalui Kasi Wasnaker Muryanto.

Menurutnya, banyaknya industri dan usaha milik investor asing di Jepara membuat rawan dengan adanya tenaga kerja asing (TKA) yang bermasalah. Terlebih, di sejumlah perusahaan besar tersebut, TKA memang sengaja dipekerjakan sebagai tenaga ahli. Hanya saja, sebagian diantara mereka tak memiliki kelengkapan dokumen sebagaimana yang disyaratkan.

Hal itu terbukti dari temuan Kantor Imigrasi Kelas II Pati beberapa waktu lalu di Jepara yang menciduk lima WNA yang diketahui melanggar peraturan keimigrasian. Dua di mejahijaukan, tiga lainnya dideportasi ke negara asal mereka.

Berdasarkan data yang dimiliki, tercatat terdapat 171 TKA yang berizin mempekerjakan tenaga kerja asing (IMTA) di Jepara. Mereka bekerja di sektor mebel, garmen dan usaha pariwisata. ”Potensi pelanggaran terkait TKA memang besar. Untuk itu, kami akan memperketat pengawasan,” kata Muryanto kepada MuriaNewsCom. (WAHYU KZ/TITIS W)

Setengah Jam Diguyur Hujan, Petani Undaan Kegirangan

Petani Undaan Kegirangan (e)

Salah satu petani mengecek sawahnya yang semalam tadi diguyur hujan, tentunya membuatnya senang karena menunjang untuk proses pemupukan pertama. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Turunnya hujan pada Jumat (30/10/2015) petang kemarin selama 30 menit, membuat girang petani di seluruh Undaan. Pasalnya hujan turun tersebut bertepatan dengan waktu pemupukan tanaman padi. Sehingga petani berharap turunnya hujan tersebut bisa membantu proses pemupukan semakin merata.

Petani wilayah Sambung, Kecamatan Undaan Winarno mengatakan, meskipun hanya setengah jam hujan, namun tanaman padi yang berusia sekitar 25 hari tersebut bisa nampak hijau. Selain itu, usia 25 hari tersebut merupakan waktu yang cocok untuk pemupukan tahap pertama.

Dia menilai, setelah turunnya hujan tersebut juga pasti akan dimanfaatkan petani lainnya untuk melakukan pemupukan padi pada esok harinya. Sehingga memudahkan padi menyerap pupuk.

”Bila tanaman itu tumbuh segar, hijau alami, maka penyerapan pupuk juga akan cepat ke ranting tanaman. Sedangkan bila tanaman itu nampak layu, kuning maka penyerapan zat pupuk akan lamban. Bahkan pemupukan tersebut dapat diulang kembali,” paparnya.

Dia menambahkan, memang setelah hujan turun tadi malam, saat ini para petani banyak yang melakukan pemupukan padi. Sebab mereka juga tidak ingin ketinggalan segarnya tanaman padi tersebut. Sehingga mereka langsung ke sawah memupuk dan menyemprot tanamannya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Pertandingan Pertama, Kudus Bekuk Rembang

Ilustrasi

Ilustrasi

KUDUS – Pertandingan voli laga pertama Kudus dalam Kejurprov Junior di Sragen, mempertemukan Kudus melawan Rembang. Dalam laga tersebut, Kudus berhasil menekuk Rembang dengan skor 2 – 0.

Kemenangan tersebut, seketika membuat para pemain menjadi sangat semangat. Terlebih, kemenangannya yang diraih bukanlah kemenangan yang tipis. Melainkan Kudus memang telak melawan Rembang.

Dalam laga awal, pemain binaan Agung Pribadi itu langsung menunjukkan taringnya. Terbukti di pertandingan indoor itu, Kudus memang dengan memenangkan laga awal dengan skor 25 – 12.

Selisih jauh tidak mengendurkan irama pemain. Hingga kemenangan telak kembali terulang dalam pertandingan kali kedua, yang berakhir dengan skor 25 – 14.

”Awal yang bagus kami memang dengan skor yang tinggi. Mudah-mudahan dalam pertandingan berikutnya kami diberikan kelembaban kembali,” katanya saat dihubungi MuriaNewsCom.

Selama tahap seleksi laga tersebut, Kudus putra berada dalam grup J. Dalam grup tersebut, Kudus mendapatkan jumlah tim yang tidak mendukung. Sebab pada grup lain yang hanya terdapat tiga tim, di J terdapat empat tim.

Selain kudus, di grup tersebut terdapat Rembang, Wonogiri, Kebumen. Meski secara kemampuan dengan tim tersebut, Kudus di atas angin. Namun segala sesuatu dimungkinkan terjadi dalam pertandingan.

”Target kita tetap juara grup. Dan dalam atau grup, yang paling kita waspadai adalah Wonogiri,” imbuhnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Warga Gabus Pati Manfaatkan “Sampah Kayu” Jadi Tanaman Mahal

Bisnis Bibit Jambu 2 (e)

Abdul Kalim tengah menunggui bibit jambu yang ia siram menggunakan pompa air otomatis. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Bagi sejumlah petani jambu, ranting-ranting pohon jambu yang tak terpakai biasanya dipangkas dan dibuang menjadi sampah yang tidak produktif. Beda halnya dengan Abdul Kalim, petani jambu Desa Kuryokalangan, Kecamatan Gabus, Pati.

Ia memanfaatkan “sampah kayu” tersebut untuk dijadikan sebagai bibit tanaman, sehingga menjadi tanaman yang menghasilkan pundi-pundi rupiah.

”Saya punya sekitar 103 batang tanaman jambu. Biasanya, ada sejumlah batang yang harus dibuang dan tidak terpakai. Daripada dipotong dan dibuang, sebelumnya saya cangkok dulu. Setelah itu, baru saya potong sehingga bisa dijadikan bibit tanaman yang menghasilkan uang,” tuturnya kepada MuriaNewsCom, Sabtu (31/10/2015).

Dari kayu tak terpakai yang dibuat bibit tersebut, Kalim bisa menggunakannya untuk memperbanyak tanaman jambu yang ia kembangkan. Selain itu, ia menjual bibit itu kepada warga yang ingin menanam jambu di pekarangan rumah.

”Bibit itu saya gunakan untuk memperbanyak budidaya jambu. Selain itu, saya jual kepada warga sekitar. Banyak juga petani jambu dari luar daerah yang pesan bibit dalam jumlah yang tidak sedikit,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Bisnis Bibit Jambu di Pati Prospeknya Luar Biasa, Ini Buktinya!

Bisnis Bibit Jambu (e)

Abdul Kalim, petani jambu asal Desa Kuryokalangan tengah menghidupkan pompa air untuk menyirami bibit jambu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Sekali kayuh, dua tiga pulau terlampaui. Begitu bisnis yang dilakoni Abdul Kalim, petani jambu asal Desa Kuryokalangan, Kecamatan Gabus.

Tak hanya budidaya jambu, Kalim juga membuat sepetak lahan untuk mengembangkan bibit dan dijual kepada petani jambu dari berbagai daerah. Beragam jenis bibit jambu unggulan pun ia tanam, mulai jambu citra, jambu madu, dan banyak lagi lainnya.

”Dalam bisnis, jika permintaan banyak dan ketersediaan sedikit pasti menjanjikan. Di Pati, bibit jambu yang disukai pasaran masih minim. Ini menjadi peluang yang menjanjikan. Hanya butuh keterampilan cangkok tanaman dan ketelitian, kita bisa kembangkan bisnis ini,” ujar Kalim kepada MuriaNewsCom, Sabtu (31/10/2015).

Ia mengatakan, satu bibit jambu ia hargai dengan murah. Ukuran 60 hingga 70 cm saja, ia hanya mematok Rp 20 ribu saja.

Salah satu keuntungan yang luar biasa, kata dia, ketika ada petani jambu yang membuka lahan baru dan membutuhkan ratusan bibit jambu cangkokan. ”Per seratus bibit jambu saja, kita sudah bisa mengantongi Rp 2 juta,” tukasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Desa Jetiskapuan Terinspirasi Undaan Bangun Gapura Megah

Gapura Megah (e)

Gapura megah masih tahap pembangunan di Desa Jetiskapuan, Kecamatan Jati hal tersebut terinspirasi dari Kecamatan Undaan agar memudahkan sebagai penanda alamat. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Setiap pelancong yang melewati jalan Kudus-Purwodadi pasti melihat langsung karakteristik setiap desa di Kecamatan Undaan. Yaitu terpampang gapura megah sebagai penanda alamat di setiap gang. Dan salah satu desa di Kecamatan Jati terinspirasi dengan salah satu kekhasan wilayah Undaan tersebut. Yakni Desa Jetiskapuan, Jati yang ingin membangun gapura megah di depan gang desanya.

Panitia pembangunan gapura Desa Jetiskapuan, Jati Ah. Rodli mengatakan, pihaknya mengakui wilayah Undaan mempunyai gapura megah sebagai penanda desa. Hal itu dinilai efektif dan unik. Sehingga apa salahnya jika ditiru oleh desa lain.

Pembangunan gapura yang berada di gang Abdurrahman ini, nantinya ditarget selesai pada Desember mendatang. Selain itu, pembangunan tersebut juga dianggarkan dari dana desa.

”Mudah-mudahan Desember bisa rampung. Aggaran yang kami siapkan sekitar Rp 70 juta. Itupun murni dari anggaran desa tanpa swadaya masyarakat,” paparnya.

Dia menilai, pembangunan gapura disetiap gang memang harus dimaksimalkan. Sebab kedepannya bermanfaat sebagai penunjuk jalan, dan tanda suatu daerah.

”Sebenarnya pembangunan gapura ini penting. Akan tetapi di Desa Jetiskapuan ini tidak ada gangnya. Namun yang ada ialah gang namun jalan buntu. Misalkan kok ada gangnya maka kami usulkan ke desa supaya bisa dibangunkan gapura. Selain itu, pembangunan gapura ini hanya berada di jalan poros desa yang menghubungkan RW1, RW 2, dan RW 3 sampai ke jalan Lingkar Ngembal,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Ini Sebab Tingkat Kriminalitas di Jepara Meningkat

Kriminalitas (e)

Aparat Polsek Pecangaan ketika mengamankan tersangka pencurian beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Angka kriminalitas di beberapa tempat di Kabupaten Jepara cenderung meningkat. Salah satunya juga terjadi di wilayah hukum Polsek Pecangaan. Meningkatnya tindakan kriminal tersebut dituding karena beberapa alasan.

Salah satunya faktor ekonomi. Desakan ekonomi seseorang dapat memicu tindakan kriminal. Hal ini diketahui juga berdasarkan hasil penyelidikan dan interogasi sejumlah pelaku tindakan kriminal di Polsek Pecangaan.

Selain itu, keberadaan pabrik-pabrik baru di Jepara juga dapat memicu meningkatnya tindak kriminal. Hal itu disebabkan, tingkat gesekan di masyarakat menjadi lebih besar. Hal itu membuat potensi meningkatnya tindak kriminal menjadi tinggi.

”Saat ini sejumlah pabrik di Jepara masih ada yang belum beroperasi. Itu juga dapat memicu para calon karyawan melakukan tindakan kriminal dengan melakukan pencurian dengan alasan memenuhi kebutuhan hidup,” kata Kapolsek Pecangaan AKP Bajuri kepada MuriaNewsCom.

Saat ini, iklim investasi di Bumi Kartini memang tengah menggeliat. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya pabrik-pabrik berkelas Internasional yang berdiri di Jepara. Misalnya di wilayah Kecamatan Mayong, Kalinyamatan, dan Pecangaan. Hal itu juga dituding menjadikan potensi meningkatnya tindakan kriminal menjadi tinggi, disamping mendongkrak perekonomian masyarakat sebagaimana cita-cita pemerintah. (WAHYU KZ/TITIS W)