Angkot oh Angkot! Nasibmu Begitu Suram

Angkot berjejer menunggu antrean untuk dapat menarik penumpang di terminal Jetak Kudus. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Angkot berjejer menunggu antrean untuk dapat menarik penumpang di terminal Jetak Kudus. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Melihat lalu lalang angkutan kota (angkot) dengan berbagai warna, menjadi pemandangan yang khas dimiliki oleh Kudus. Transportasi umum yang memiliki banyak warna tersebut selalu menghiasi berbagai sudut Kudus dengan jalur yang berbeda-beda.

Namun keramaian angkot tersebut saat ini sudah mulai luntur tergantikan dengan banyaknya kendaraan pribadi yang memenuhi ruas jalan. Bahkan menimbulkan kemacetan yang sudah menjadi pemandangan sehari-hari.

Berubahnya budaya masyarakat yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi tersebut sangat dirasakan oleh para sopir angkot. Yang paling terasa adalah penurunan pendapatan para sopir dan pemilik angkot setiap harinya.

“Dulu, angkot menjadi langganan masyarakat karena lebih merakyat dan mampu mengantarkan keberbagai tujuan. Bahkan lebih mudah jika seseorang membawa barang bawaan yang banyak, ” ujar Nur Rahmat salah satu penarik angkot di Kudus.

Dirinya menambahkan, angkot bahkan sangat ramai di jam-jam tertentu seperti saat karyawan pabrik, pedagang pasar dan anak sekolahan berangkat dan pulang. Akan tetapi di jam tersebut sekarang seperti waktu biasa, bahkan sangat sepi.

Menurut Bejo Sutrisno, salah satu staf retribusi terminal jetak Dinas Perhubungan Kudus bahkan banyak dari angkot yang memilih untuk tidak beroperasi. “Dulunya ramai sekali tapi dapat dilihat sekarang hanya sedikit angkot yang tersisa,” ujarnya.

Bagaimana tidak, dengan jumlah penumpang yang sedikit akan mengurangi setoran. “Itu belum terhitung mereka harus antre untuk menunggu penumpang. Namun karena lamanya menunggu antrean dan penumpang membuat angkot yang terakhir datang kerap tidak jadi beroperasi, ” imbuhnya.

Bahkan jika tidak ditunjang dengan adanya bus dari jurusan Jepara, bisa saja angkot makin tidak eksis lagi. (AYU KHAZMI/AKROM HAZAMI)

Bupati Grobogan Sudah Tiba di Tanah Air, Jemaah Haji Grobogan Dijadwalkan 20 Hari lagi Baru Pulang

bupati grobogan  (e)

 

GROBOGAN – Bupati Grobogan Bambang Pudjiono siang tadi sudah tiba di tanah air, usai melaksanakan ibadah haji. Menjelang dzuhur, Bambang mengabarkan kalau pesawatnya sudah mendarat di Bandara Soekarno Hatta.

“Ini, saya barusan mendarat di Jakarta. Alhamdulillah, penerbangannya tadi lancar tidak ada kendala,” kata Bambang melalui pesan singkat.

Bambang yang berhaji dengan istri, berangkat ke tanah suci akhir Agustus lalu. Keduanya, tidak lewat jalur haji regular tetapi menggunakan layanan ONH Plus.Diperkirakan, malam ini, Bambang sudah tiba di Grobogan.

Sementara itu, kepulangan rombongan jemaah haji Grobogan ternyata masih cukup lama. Diperkirakan, jemaah haji Grobogan kembali ke tanah air pada 20 Oktober mendatang.

Plt Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kemenag Grobogan Fahrurrozi menyatakan, jemaah Grobogan yang terbagi dua kloter dijadwalkan tiba di Pendopo Kabupaten dalam hari yang sama, tetapi waktunya berbeda. Untuk kloter 56 dijadwalkan tiba pukul 12.25 WIB. Sedangkan kloter 57 tiba pukul 18.30 WIB.

“Untuk sementara, jadwal kepulangannya seperti itu. Mudah-mudahan, tidak ada perubahan,” katanya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Pedagang Sebut Pemkab Jepara Abaikan Pengembangan Pasar Tradisional

Pasar tradisional pusat kerajinan Kalinyamatan yang mangkrak akibat tidak ada pengembangan dan keseriusan (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pasar tradisional pusat kerajinan Kalinyamatan yang mangkrak akibat tidak ada pengembangan dan keseriusan (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Ditengah membanjirnya keberadaan toko modern di Kabupaten Jepara,justru pengembangan bagi pasar tradisional dinilai mandek. Hal ini tentu saja semakin membuat daya saing antara pasar tradisional dengan toko maupun pasar modern melemah.

Hal itu dikatakan Ketua Paguyuban Pasar Kalinyamatan Jepara Masri. Menurutnya, pengembangan bagi pasar-pasar tradisional yang ada di Jepara sangat minim, bahkan, dia menganggap mandek. Sebab, rata-rata kondisi pasar tradisional sejak dibangun kali pertama hingga saat ini kondisinya masih sama.

“Pemerintah seolah hanya membangun saja, tapi pengembangannya mandek. Tidak ada pengembangan maupun perbaikan yang berkelanjutan,” ujar Masri kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, kemandegan tersebut dapat dilihat dari sisi barang dagangan hingga suasana pasar yang kurang nyaman. Padahal, jika ingin bersaing dengan toko maupun pasar modern harus ada perbaikan, inovasi dan evaluasi yang berkelanjutan.

“Saya mencontohkan di Pasar Kalinyamatan sendiri saja. Disini, kondisinya masih sama dengan awal pasar ini dibangun,” ungkapnya.

Dia menyampaikan, stagnasi yang terjadi dalam dunia pasar tradisiona itu membuat situasi makin sulit bagi para pedagang. “Pembeli di pasar tradisional adalah masayarakat atau pengecer, dan pelaku bisnis pertokoan. Namun, bisnis pertokoan itu juga sepi karena sudah banyak berdiri mini market yang menjadi pesaing mereka,” katanya.

Pasar tradisioal yang kalah bersaing itu, berdampak pada tidak diminati oleh masyarakat. Ia menyebutkan mangkraknya pasar kerajinan di Kalinyamatan karena tidak diminati oleh masyarakat.

Di sisi lain, pemerintah membiarkan toko modern tumbuh subur di berbagai tempat. Lagi pula, katanya, barang yang dijajakan adalah produk-produk luar negeri. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Ajak Siswa di Pati untuk Kreatif Melalui Taman Baca

 Komunitas Satu Frekuensi menghadirkan relawan dari kalangan jurnalis untuk mengajak siswa SD lebih kreatif. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Komunitas Satu Frekuensi menghadirkan relawan dari kalangan jurnalis untuk mengajak siswa SD lebih kreatif. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Untuk memberikan edukasi kepada siswa sekolah dasar (SD) dengan misi sosial, Komunitas Satu Frekuensi Pati menggagas taman baca dan mengajak siswa SD untuk lebih kreatif.

Selain ikut mengajar mata pelajaran, sejumlah relawan juga memantik semangat siswa untuk kreatif di berbagai bidang. Misalnya, mendorong pemanfaatan barang bekas menjadi produk layak pakai.

“Taman baca ini hanya nama. Selain mengajak siswa untuk gemar membaca, sebetulnya sebagai wadah untuk belajar anak-anak di sekitar Pati Kota. Ada banyak hal yang diajarkan. Kami mengajak beberapa relawan untuk menularkan virus kreatif kepada anak-anak,” ujar Koordinator Komunitas Satu Frekuensi Ratna Ayu Widyaningrum kepada MuriaNewsCom, Rabu (30/9/2015).

Saat ini, sedikitnya ada 25 siswa dari berbagai desa yang ikut belajar kreatif ini. “Kegiatannya macam-macam. Ada les gratis, pelatihan membuat jepit rambut dan bando dari tutup botol bekas dan masih banyak lagi lainnya,” imbuhnya.

Ke depan, pihaknya akan mengundang trainer dari kalangan profesional yang mau bergabung secara sosial untuk menjadi relawan dengan memberdayakan anak-anak di Pati. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Jemaah Haji Asal Godong Grobogan Meninggal di Makkah

Ilustrasi

Ilustrasi

 

GROBOGAN – Kabar duka datang dari Tanah Suci Makkah. Satu jemaah haji Grobogan dari Desa Bugel, Kecamatan Godong, bernama Siti Khamdanah binti Kasbun Kasmiri dilaporkan meninggal dunia.

“Dari laporan yang kita terima, Ibu Siti Khamdanah meninggal pada Senin, (28/9/2015) sekitar pukul 07.00 waktu setempat. Jemaah haji ini sebelumnya tergabung dalam kloter 56 dan berangkat haji dengan Suaminya Mukibin,” ungkap Plt Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kemenag Grobogan Fahrurrozi.

Menurutnya, sebelum meninggal, jemaah berusia 45 tahun itu sempat sakit dan dirawat di maktab. Beberapa saat sebelum dibawa ke rumah sakit, yang bersangkutan sudah meninggal dunia.

Fahrur memastikan, jika meninggalnya jemaah itu tidak berkaitan dengan tragedi Mina. Pasalnya, saat peristiwa itu terjadi, jemaah Grobogan belum melakukan lempar jumrah.

Dengan meninggalnya Siti Khamdanah tersebut, berarti total ada dua jemaah haji Grobogan yang berpulang. Sebelumnya, Jumat (18/9) jemaah asal Kradenan, Siti Khotimah dilaporkan meninggal dunia saat dirawat di Rumah Sakit King Abdul Aziz Makkah. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Hebat! Seniman Pati Ajak Siswa SD Sulap Dongeng Jadi Musik Karawitan

Sejumlah siswa SD di Pati tengah belajar seni musik karawitan dengan lagu-lagu dongeng di buku. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah siswa SD di Pati tengah belajar seni musik karawitan dengan lagu-lagu dongeng di buku. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Aktivitas membaca cerita dan dongeng dalam buku sudah menjadi hal biasa bagi siswa sekolah dasar (SD). Namun, menyuguhkan dongeng-dongeng ke dalam bentuk seni musik karawitan bukan hal yang biasa.

Ini yang dilakukan Eri Nurbaya, seniman asal Pati yang memberdayakan anak-anak SD di Pati dengan seni karawitan. Lagu-lagu yang digunakan untuk seni karawitan tersebut, di antaranya lagu kancil nyolong timun, gundul-gundul pacul, tikus piti, lir-ilirdan lain sebagainya.

“Dongeng-dongeng dalam buku-buku anak SD itu memiliki nilai dan hikmah yang bagus untuk perkembangan anak. Karena itu, jika dongeng anak SD digali dan disuguhkan dalam bentuk kesenian, nilai positif dan hikmahnya akan punya peran yang baik untuk masa depan anak,” imbuhnya.

Selain menyangkut soal dongeng, Eri juga melatih anak-anak SD bermain seni musik karawitan. Mereka dilatih memukul bambu, gamelan, gong dan kendang yang menciptakan seni musik tradisional untuk menebar semangat anak.

“Kami juga menggandeng Komunitas Satu Frekuensi untuk melatih kreativitas anak di berbagai bidang. Misalnya, menulis puisi, cerpen, pemanfaatan barang bekas dan masih banyak lainnya,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Kayak Anak Sekolah, Jalan di Jepara Ini Juga Naik Kelas Lho

Jalan bundaran Ngabul yang turun menjadi jalan yang telah menjadi jalan nasional sesuai SK yang turun dari kementerian terkait. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Jalan bundaran Ngabul yang turun menjadi jalan yang telah menjadi jalan nasional sesuai SK yang turun dari kementerian terkait. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Pengajuan jalan provinsi dari wilayah Kecamatan Welahan hingga Keling Kabupaten Jepara menjadi jalan nasional telah disetujui. Tak hanya itu, Surat Keputusan (SK) terhadap persetujuan itu sudah turun.

Kepala Dinas Bina Marga Pengairan Energi Sumber Daya Mineral (DBMP-ESDM) Kabupaten Jepara, Budiarto mengatakan, status jalan provinsi dari Kecamatan Welahan hingga Kecamatan Keling dialihkan menjadi jalan nasional.

Menurut dia, jalur antar kabupaten yang menghubungkan Jepara dengan Demak – Semarang tersebut secara resmi dinyatakan dalam surat keputusan (SK) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

“SK dari kementerian itu sudah turun beberapa waktu yang lalu,” kata Budiarto kepada MuriaNewsCom.

Lebih lanjut dia mengatakan, penetapan jalan provinsi menjadi jalan nasional itu dilatari berbagai faktor. Salahsatunya, karena Jepara memiliki sejumlah aset nasional seperti PLTU Tanjung Jati B dan destinasi wisata Karimunjawa. Namun selama ini jalur penghubung aset nasional itu belum diakui sebagai jalan nasional. Dengan demikian kelas jalan pun berbeda. Sebab itu, peningkatan jalan mendesak untuk diajukan.

“Jika sudah menjadi jalan nasional, maka penganggarannya menggunakan APBN,” imbuhnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Keren! Pemuda di Blora Ini Bisa Ubah Pelepah Pisang Jadi Uang

Sri Mulyanto sedang menyelesaikan kerajinan kaligrafi yang berbahan baku pelepah pisang (MuriaNewsCom/Priyo)

Sri Mulyanto sedang menyelesaikan kerajinan kaligrafi yang berbahan baku pelepah pisang (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Kebanyakan orang beranggapan bahwa limbah pelepah pisang hanya sebatas sampah yang tidak bernilai. Pelepah pisang dianggap barang yang tidak terlalu berharga secara ekonomis dan layak dibuang.

Namun, di tangan Sri Mulyanto, pemuda yang tinggal di Desa Keser RT 01/02, Kecamatan Tujungan, Blora, pelepah pisang dapat diolah menjadi kerajinan yang indah dan bernilai ekonomi tinggi, yakni membuat lukisan kaligrafi dari pelepah pisang.

Ide awal untuk menggeluti usaha kerajinan kaligrafi berbahan baku pelepah pisang tersebut, bermula dari rasa cinta lingkungan dan jiwa seni. Saat itu, dirinya melihat banyak pelepah pisang di samping rumahnya, hanya sebagai sampah saja.

Dengan hanya bermodalkan kreatifitas yang tinggi dan rasa ingin selalu berinovasi, limpah pelepah pisang yang dulunya terbuang, kini bisa dibuah Sri Mulyanto menjadi peluang bisnis baru yang menghasilkan untung besar.

”Awal mula menekuni membuat lukisan kaligrafi dari bahan baku pelepah pisang ini pada tahun 2013 yang lalu, dan alhamdulillah saat ini bisa membantu perekonomian keluarga,” ujar Sri Mulyanto, Rabu (30/9/2015)

Untuk pembuatan lukisan kaligrafi dari pelepah pisang, katanya, tidak membutuhkan alat yang istimewa atau peralatan penunjang yang mahal. Cukup dengan menggunakan pisau cutter, gunting dan beberapa alat lainya saja.

“Yang jelas, kita berani bereksperimen atau berinovasi, dan hanya perlu ketelatenan saja.Pastinya akan menjadi sebuah karya yang bernilai,” ungkapnya. (PRIYO/KHOLISTIONO)

Petani Dibujuk Menanam Pakai Sistem Jajar Legowo

Petani menanam di sawah di Desa Terangmas, Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Petani menanam di sawah di Desa Terangmas, Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Terangmas, Kecamatan Undaan, Kudus, Forchah mengatakan, petani hendaknya diberikan bimbingan agar bisa mempraktikkan sistem pertanian Jajar Legowo dan Tegel.

“PPL diharapkan bisa bimbing mereka (petani,red) biar terarah,” kata Forchah.

Menurutnya, sistem Jajar Legowo dikenalkan pada tahun 2010 lalu. Sejauh ini sudah ada beberapa petani yang telah beralih ke sistem itu.

Beralihnya para petani yang mulanya menggunakan sistem Tegel merupakan langkah awal untuk bisa menggandeng petani lainnya. Yakni agar sama-sama menggunakan sistem Jajar Legowo secara serempak.

Selama ini, dia menilai, masih banyak petani desanya yang memaki sistem Tegel. Namun bila mereka terus mendapatkan bimbingan dan arahan ke sistem Jajar Legowo maka tidak menutup peluang akan beralih. “Karena mereka butuh arahan dan pengetahuan tentang sistem Jajar Legowo. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Pengurusan Label Halal Lebih Murah, Semoga Tidak Murahan

Seorang pembeli membeli produk makanan ringan dari sebuah toko. Dalam membeli, diharapkan dapat mengecek label halal yang ada dalam kemasan produk makanan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seorang pembeli membeli produk makanan ringan dari sebuah toko. Dalam membeli, diharapkan dapat mengecek label halal yang ada dalam kemasan produk makanan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Pengurusan label halal pada produk makanan dan minuman, dipastikan tidak memakan biaya yang banyak. Hal itu dipastikan lantaran pengurusan yang melalui dinas, harganya cepat.

“Setahu saya, yang memperpanjang kurang lebih Rp 2 juta. Kalau mengurus sendiri bisa lebih dari nominal tersebut,” kata Kabid UMKM pada Dinas Perinkop dan UMKM Kudus Abi Wibowo, kepada MuriaNewsCom.
Biasanya mereka para dalam pengurusan sertifikat halal dilakukan secara individu. Tapi, melalui dinas bisa dilakukan berkelompok, tentunya biayanya tidak terlalu mahal.

Sementara itu, pengajuan sertifikat halal memang yang paling membutuhkan dana pada pemeriksaan laboratorium. Semua bahan-bahan makanan diperiksa di laboratorium, sehingga dipastikan makanan tersebut benar-benar halal.

”Nantinya ada petugas dari MUI untuk survei ke tempat produksi, jadi tidak hanya dalam bentuk produk tapi juga cara pengolahan dan penyimpanan bahan makanan,” jelasnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Ini Penampakan Api yang Membakar Kantor Polda Jateng

Api membumbung tinggi dan membakar sebagian besar gedung kantor Polda Jateng di Jalan Pahlawan, Semarang, Rabu (30/9/2015). Para polisi yang bertugas di kantor itu tidak bisa bekerja maksimal. Pengirim Hendro warga Semarang

Api membumbung tinggi dan membakar sebagian besar gedung kantor Polda Jateng di Jalan Pahlawan, Semarang, Rabu (30/9/2015). Para polisi yang bertugas di kantor itu tidak bisa bekerja maksimal.
Pengirim Hendro warga Semarang

 

warga dan polisi hanya bisa melihat kantor Mapolda Jateng yang terbakar hebat, di Jalan Pahlawan Semarang, Rabu (30/9/2015). Kebakaran sampai saat ini masih diselidiki penyebabnya.  Pengirim Hendro warga Semarang

warga dan polisi hanya bisa melihat kantor Mapolda Jateng yang terbakar hebat, di Jalan Pahlawan Semarang, Rabu (30/9/2015). Kebakaran sampai saat ini masih diselidiki penyebabnya.
Pengirim Hendro warga Semarang

Hasil Pertanian Desa Ini Tiba-tiba Melimpah

Petani menanam di sawah di Desa Terangmas, Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Petani menanam di sawah di Desa Terangmas, Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Untuk bisa meningkatkan hasil pertanian warga, Pemerintah Desa Terangmas, Kecamatan Undaan, Kudus, dan penyuluh pertanian lapangan (PPL) setempat memperkenalkan sistem bertani Jajar Legowo kepada seluruh petani.

Sistem ini merupakan penanaman padi, yang setiap satu meternya akan diisi dengan empat baris benih petani.
Petugas PPL Kecamatan Undaan Alvian Eko menjelaskan, sistem Jajar Legowo berbeda dengan yang biasa yaitu sistem Tegel.

Sistem Tegel merupakan cara yang biasa dipakai pada umumnya. Sistem Tegel itu merupakan penanaman padi yang setiap satu meternya diisi 5 benih tanaman.

“Sistem Jajar Legowo itu nantinya bisa memperbanyak populasi atau tanaman padi. Jajar Legowo itu lebih rompang (agak renggang) dibanding dengan sistem Tegel (rempet). Namun satu baris yang aada di sistem Tegel tersebut akan ditanamkan di antara empat baris yang ada di sistem Jajar Legowo. Atau bisa disebut digabungkan dengan sistem Jajar Legowo,” paparnya.

Penggabungan satu baris benih yang ada di sistem Tegel ke sistem Jajar Legowo tersebut nantinya bisa membuat hasil panennya lebih berisi, pulen.

Kepala Desa Terangmas Sudarno mengatakan program ini sudah berjalan mulai tahun 2010 lalu. Dan hasilnya juga bisa dinilai meningkat.

”Petani perlu sabar. Sebab rata rata rata petani itu masih terbiasa menggunakan sistem Tegel saja,” katanya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Siswa Tegang Tonton Film di Bioskop Mini 3 Dimensi

Sejumlah siswa-siswi melihat bioskop 3 dimensi di Blora. (MuriaNewsCom/Priyo)

Sejumlah siswa-siswi melihat bioskop 3 dimensi di Blora. (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Pameran buku murah dengan tema Semarak Pesta Buku Kabupaten Blora semakin menarik para pengunjung. Bahkan, pengunjung dari kalangan SD,SMP, dan SMA, juga ikut hadir.

Hal itu tak lepas dari beragamnya acara yang digelar dalam momen itu. Mulai dari lomba Barongan, Baca Puisi, dan nonton bioskop 3 dimensi.

Acara digelar di Gedung Sasana Bhakti mulai Selasa (29/9) hingga Senin (5/10) mendatang.

“Pemutaran film 3 dimensi untuk umum baru pertama kalinya di Blora,” kata petugas bioskop mini 3 dimensi, Asrofi, Rabu (30/9/2015).

Adapun film yang diputar adalah tentang pengetahuan alam dan lingkungan. Dengan isi film yang demikian, menurutnya, sangat cocok ditonton siswa.

Pada pemutaran film 3 dimensi ini para pengunjung dikenakan biaya Rp 10.000/orang. Durasi untuk film selama 25 menit.

Dengan kapasitas penonton 60 orang untuk setiap kali pemutaran film. Masing-masing penonton akan dipakaikan kacamata tiga dimensi agar terasa ikut berada di dalam adegan film.

Ayu Wulandari, pelajar dari SDN Tempelan Blora yang ikut menonton pemutaran film 3 dimensi mengungkapkan rasa senangnya bisa nonton film.

“Tapi juga tegang, karena selama nonton film tadi merasa benar-benar berada di dalam film. Selain itu rasa senangnya bisa lihat dengan membayar murah sebab di Blora juga tidak ada bioskop,” ungkapnya. (PRIYO/AKROM HAZAMI)

Mudahnya Mengurus Label Halal di Produk Sekarang

Seorang pembeli membeli produk makanan ringan dari sebuah toko. Dalam membeli, diharapkan dapat mengecek label halal yang ada dalam kemasan produk makanan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seorang pembeli membeli produk makanan ringan dari sebuah toko. Dalam membeli, diharapkan dapat mengecek label halal yang ada dalam kemasan produk makanan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Pengusaha makanan dan minuman, tidak perlu bingung pengurusan sertifikat halal. Sebab pengurusan bisa melalui Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM yang memfasilitasi pengurusan ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah.

Kabid UMKM pada Dinas Perinkop dan UMKM Kudus Abi Wibowo, mengatakan bahwa pelaku usaha yang belum mendaftarkan usahanya sertifikat halal, tidak perlu repot. Sebagai dinas yang terkait, dapat membantu dalam pengurusan label halal tersebut.

”Kami sudah bekerjasama dengan Dinas Perindag Jawa Tengah. Sehingga, akses pengurusan sertifikat halal mudah,” katanya kepada MuriaNewsCom

Hingga kini, animo para pengusaha sudah mulai berdatangan mengurus label halal. Sedikitnya, terdapat sekitar 10 orang pengusaha makanan yang mengajukan pendaftaran sertifikat halal melalui dinas tersebut.

Dia menambahkan, sepuluh perusahaan itu yang sudah mengajukan, terdiri dari lima daftar baru dan lima lagi memperpanjang masa berlaku sertifikat halal sudah habis. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Obsesi SMP 1Dawe Kudus jadikan Sekolahnya Biar Lebih Rindang

Siswa melakukan penanaman di areal SMP 1 Dawe Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa melakukan penanaman di areal SMP 1 Dawe Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Saat ini SMP 1 Dawe Kudus giatkan penanaman di sekolahnya. Hal itu karena sekolah ingin membuat penghijauan beserta anak didiknya di lingkungan sekolah. Karenanya, semua siswa maupun guru diharapkan membawa satu jenis tanaman. Baik tanaman berbunga maupun buah buahan.

Kepala SMP 1 Dawe Aksis Dermawan menjelaskan, kegiatan menanam penghijauan ini merupakan tanggung jawab bersama.

”Setiap siswa diimbau bawa tanaman bunga, dan guru bawa tanaman buah,” katanya.

Penekanan penghijauan yang dilakukan itu, diharapkan akan membuat sekolah menjadi rindang. Imbasnya adalah lingkungan sekolah menjadi lebih adem dan nyaman. Sedangkan proses penanamannya juga dilakukan bersama-sama. Hal itu membuat komunikasi lebih erat.

“Meskipun sekolah ini berada di wilayah lereng Gunung Muria yang sejuk, tetapi penghijauan juga harus dijaga,”ujarnya.

Menurutnya, pohon yang ditanam pada taman depan kelas masing masing siswa nantinya juga akan selalu disiram, dirawat, serta dimanfaatkan. Dia menambahkan, yang penting bagi pihak sekolah bisa memberikan
pendidikan mengenai pentingnya penghijauan. (Edy Sutriyono/AKROM HAZAMI)

Meminimalisir Kebakaran Muria, Diperlukan Pendataan Ketat Para Pendaki

Kapten Infantri Subeki, Pasi Intel Kodim 0722/Kudus saat di pegunungan Muria memantau lahan hutan yang terbakar. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kapten Infantri Subeki, Pasi Intel Kodim 0722/Kudus saat di pegunungan Muria memantau lahan hutan yang terbakar. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Terkait adanya musibah kebakaran hutan di Desa Japan, Kecamatan Dawe. Maka perlu adanya pengetatan terhadap data atau jadwal kepada para pendaki atau biasa yang tergabung dalam komunitas pecinta alam.

Pasi Intel Kodim 0722/Kudus Kapten Infantri Subeki menjelaskan, hal itu bukan untuk menuduh kepada pihak tertentu. Namun untuk mencegah musibah kebakaran atau perusakan lingkungan.

”Alangkah bijaknya bila mahasiswa pecinta alam, siswa sekolah, atau elemen masyarakat yang melakukan pendakian harus dibuat pos-pos pengaduan,” katanya.

Dia menilai, pos tersebut ditempatkan di daerah pegunungan. Sehingga para pendaki itu selain bisa melaporkan ke koramil atau polsek setempat sebelum pendakian, mereka juga bisa lapor kepada pos jaga di wilayah gunung tersebut.

Sehingga jika ada musibah, misalnya kebakaran hutan bisa lekas terdekteksi. Apakah musibah tersebut akibat perilaku manusia atau bencana alam. ”Yang terpenting bagaimana menjaga hutan ini. Dan fungsi pos jaga itu juga bisa selalu memantau dan menjaga keselamatan para pendaki,” pungkasnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Cegah Pengangguran, Pemdes Ini Bantu Rekomendasi Warganya di Perusahaan Besar

Aan Setyawan, Kepala Desa Garung Kidul, Kecamatan Kaliwungu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Aan Setyawan, Kepala Desa Garung Kidul, Kecamatan Kaliwungu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)Usaha

 

KUDUS – Setiap desa pasti mempunyai cara dan trik untuk menciptakan lapangan pekerjaan kepada warganya. Baik dari memberikan pinjaman modal usaha, mempermudah izin usaha bahkan menggandengan perusahaan di wilayah tersebut.

Begitu halnya dengan Desa Garung Kidul, Kecamatan Kaliwungu. Desa yang berpenduduk sekitar 2.500 jiwa serta terdiri dari 20 RT dan 2 RW ini memanfaatkan berbagai perusahaan di wilayah tersebut.

Kepala Desa Garung Kidul Aan Setyawan menjelaskan, kerja sama tersebut harus bisa menguntungkan kedua belah pihak. Bila di sini ada perusahaan maju, maka warga juga harus bisa dilibatkan.

”Untuk saat ini perusahaan yang membuka peluang kerja terhadap warga desa ini ialah perusahaan cor (Ready Mix), LPG, dan salah satu perusahaan rokok,” ungkapnya.

Dengan adanya kerja sama tersebut, penduduk desa lebih banyak yang bekerja. Tentunya hal itu mengurangi jumlah pengangguran. Selain itu, jika pemerintah desa langsung yang menawarkan, maka akan mudah direspon oleh perusahaan tersebut.

”Meskipun masih banyak warga kami yang ditolak kerja. Tetapi jika kerja sama itu terus dijalankan, warga kami bisa dipertimbangkan untuk mendapatkan peluang kerja di beberapa perusahaan tersebut,” paparnya.

Dia menambahkan, pihak desa juga kerap membantu warganya dalam memberikan rekomendasi ke beberapa perusahaan. Sehingga pihak perusahaan tidak salah menerima karyawan. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Ratusan Kodim dan Polisi Kepung Api Muria

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Guna mengamankan wilayah pegunungan dari amukan api. Maka tentara TNI serta petugas kepolisan juga berjaga di sekitar api. Mereka mencoba memadamkan, dan beberapa petugas tersebut juga berjaga jika ada hal yang bahaya di sana.

Hal itu diungkapkan Kepala BPBD Kudus Bergas C Penanggungan. Menurutnya, petugas atau tim berjaga di kawasan Muria yang terbakar untuk mengamankan.

”Ada petugas yang standbye di sana. Ada dari TNI dan Polri juga. Selain itu sejumlah warga juga bersiaga di sekitar sana,” katanya saat dihubungi MuriaNewsCom.

Hal itu dibenarkan Kapolres Kudus AKBP M Kurniawan. Saat dihubungi MuriaNewsCom, dia menuturkan sejak kemarin petugas berjaga di kawasan Japan.

”Dari polres ada 15 personel yang disiagakan. Belum lagi ditambah dari polsek. Jadi para anggota kepolisian bertugas melokalisir wilayah tersebut,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Giatkan Minat Baca, KPAD Blora Gelar Pesta Buku

Sejumlah pelajar yang datang di pameran buku bertemakan Semarak Pesta Buku Kabupaten Blora 2015. (MuriaNewsCom/Priyo)

Sejumlah pelajar yang datang di pameran buku bertemakan Semarak Pesta Buku Kabupaten Blora 2015. (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Pameran buku murah yang bertemakan Semarak Pesta Buku Kabupaten Blora 2015 telah dibuka. Pameran yang berlangsung mulai Selasa (29/9/2015) hingga Senin (5/10/2015) ini berlangsung di Gedung Sasana Bakti. Acara tahunan ini diselenggarakan Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (KPAD). Acara yang dibuka langsung oleh Pj Bupati ini menarik ratusan pelajar dari jenjang SD, SMP hingga SMA.

”Dengan adanya acara ini bisa meningkatkan minat baca dan rasa keingintahuan masyarakat tentang ilmu pengetahuan. Karena membaca memperluas wawasan kita,” jelas Pj Bupati Blora Ihwan Sudrajat saat membuka pameran buku, Selasa (29/9/2015).

Menurutnya, dengan pameran ini semoga minat baca warga Blora semakin bagus sehingga meningkatkan kualitas SDM di Blora. ”Saya berpesan pameran buku ini tidak hanya dilaksanakan di Kota Blora, namun bisa dilakukan di wilayah-wilayah lain yang ada di Blora,” imbuhnya.

Kepala KPAD Blora Mohammad Soleh, selaku pelaksana acara mengatakan kegiatan ini merupakan agenda tahunan. Setiap harinya akan dimeriahkan berbagai acara pendukung di antaranya lomba baca puisi, lomba karaoke, lomba barongan pelajar, fashion show batik, bioskop 3 dimensi dan lainnya.

“Pameran dibuka setiap hari pukul 09.00 WIB hingga 21.00 WIB. Panitia juga menyediakan 28 stand pameran yang diisi dengan banyak sekali judul buku dari agen dan percetakan dari luar Kota Blora yaitu Kudus, Semarang, Solo, dan Jogja. Dan masyarakat digratiskan masuk untuk menikmati pameran buku tersebut,” paparnya. (PRIYO/TITIS W)

Polisi Amankan 30 BH Perawan yang Digunakan Ritual Maling

Sejumlah petugas Polsek Wedarijaksa menunjukkan BH perawan yang digunakan pelaku untuk ritual pencurian. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah petugas Polsek Wedarijaksa menunjukkan BH perawan yang digunakan pelaku untuk ritual pencurian. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Jajaran kepolisian sektor (Polsek) Wedarijaksa, Pati mengamankan 30 BH perawan yang digunakan AM, warga Desa Sambilawang, Kecamatan Trangkil untuk ritual pencurian, Selasa (29/9/2015).

Selain BH, polisi juga mengamankan enam buah handphone berbagai merek dan uang senilai ratusan ribu rupiah. ”Modusnya begini. Pelaku mengincar rumah yang akan dicuri. Sebelum mencuri, pelaku mencuri BH pemilik rumah terlebih dahulu. Setelah itu, pelaku membakar BH di sekitar rumah sasaran, baru dilanjutkan mencuri isi rumah seperti uang dan barang-barang berharga lainnya,” ujar Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho melalui Kapolsek Wedarijaksa Sulistyaningrum kepada MuriaNewsCom.

Ritual itu, lanjut Sulis, digunakan untuk menyirep (hipnotis) pemilik rumah yang menjadi target pencurian. ”Di rumah Suharno, pelaku berhasil menggasak dua HP android dan uang sebanyak Rp 2,3 juta,” imbuhnya.

Setelah dimintai keterangan, AM ternyata seorang residivis yang pernah melakukan tindak pidana pencurian sepeda motor. ”Pelaku sebelumnya sudah pernah keluar dari penjara dengan kasus pencurian sepeda motor. Ini diulangi lagi,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Bahaya, Api Mulai Menuju Arah Perkampungan

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Bahaya dari kebakaran di kawasan pegunungan Muria, nampaknya semakin melebar. Api di hutan yang tidak juga kunjung padam, membuat kebakaran semakin meluas. Dan kini, kebakaran yang menjalar malah mengarah ke areal pemukiman.

Hal itu diutarakan relawan BPBD Kudus Budi Juwana atau yang akrab dipanggil Mbah Bejo. Menurutnya api yang memakan hutan mengarah ke arah timur, yaitu ke area pemukiman para warga di Desa Japan Kecamatan Dawe.

”Saya lihat langsung karena saya juga di sana. Dan api yang di hutan langsung mengarah ke timur, atau daerah pemukiman warga,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, jika api tidak juga kunjung padam, bakal membuat puluhan rumah di daerah tersebut terancam. Terbukti dengan kepulan asap di sana.

Dia menuturkan, api akan semakin bahaya manakala mengarah ke arah timur atau selatan. ”Kalau ke selatan lebih gawat lagi, sebab mengarah ke makam Sunan Muria,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

PPT: Jangan Ada Lagi Korban Kekerasan Anak di Pati

Budi Prayitno meminta tidak ada lagi korban kekerasan anak di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Budi Prayitno meminta tidak ada lagi korban kekerasan anak di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sederet kasus kekerasan berbasis anak yang terjadi di Pati mendapatkan sorotan dari Pusat Pelayanan Terpadu Korban Kekerasan Berbasis Gender dan Anak (PPT-KKBGA) Pati.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Anak dan Remaja Budi Prayitno kepada MuriaNewsCom mengatakan, penanganan terhadap anak yang bandel tidak harus menggunakan fisik. ”Bisa kok, mendidik anak tanpa harus menggunakan kekerasan. Tergantung caranya,” tuturnya.

Karena itu, ia mengimbau kepada orangtua dan guru agar tidak lagi menggunakan cara kekerasan dalam mendidik anak. Selain soal psikis dan perkembangan anak, mendidik anak dengan kekerasan bertentangan dengan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

”Rencananya, kami akan memanggil guru-guru Bimbingan Konseling (BK) untuk memahami UU Perlindungan Anak. Kami berharap, mereka tahu bahwa mendidik anak dengan cara kekerasan bukan hanya mencederai psikis dan masa depan anak, tetapi juga melawan hukum,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Imbas Perbaikan, Omzet Retribusi Terminal Jetak Anjlok

Bus yang berada di luar Terminal Jetak, Kudus (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Bus yang berada di luar Terminal Jetak, Kudus (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Pascaperbaikan Terminal Jetak, Kudus, sejakpekan lalu, berdampak pada omzet retribusi bus yang dikelola oleh Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kudus.

Bejo Sutrisno, petugas retribusi di Terminal Jetak mengatakan, mulai saat pembenahan terminal, terjadi penurunan omzet pada retribusi. “Tidak terlalu banyak sebenarnya, hanya sekitar 20-30%,” ujarnya.

Menurutnya, turunnya omzet tersebut dikarenakan beberapa bus menurunkan penumpang diluar terminal dan langsung kembali ke jalan untuk mencari penumpang. Sementara, retribusi hanya ditarik pada bus yang masuk kedalam terminal.

Setiap bus yang masuk, katanya, membayar retribusi sebesar Rp 1.500, yakni setiap kali masuk dengan membawa penumpang. Untuk bus tanpa penumpang atau hanya beberapa orang saja tidak ditarik. “Meskipun retribusi memang wajib, tapi jika kenyataannya memang hanya sedikit penumpang, kami juga tidak bisa memaksa. Kecuali jika penumpang banyak, retribusi harus dibayar, ” ungkapnya.

Selain karena terminal yang tengah diperbaiki yang membuat bus memilih untuk langsung putar balik, ada alasan lain yang mendasari menurunnya jumlah retribusi tiap harinya. Diantaranya karena budaya masyarakat yang lebih memilih untuk membawa kendaraan pribadi dibandingkan transportasi umum.

Karyawan dan siswa yang biasanya sebagai penumpang bus atau angkot, kini lebih memilih membawa kendaraan pribadi. Sehingga, bus kurang diminati. (AYU KHAZMI/KHOLISTIONO)