Pengusaha Garmen di Gabus Pati Kena ‘Pukul’ 

ejumlah pekerja tengah menjahit bahan kain untuk dijadikan celana. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

ejumlah pekerja tengah menjahit bahan kain untuk dijadikan celana. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Imbas kenaikan dolar Amerika terhadap rupiah sampai sekarang masih dirasakan sejumlah pengusaha. Mereka seperti kena ‘pukul’ atau kena imbas dolar naik. Salah satunya, pengusaha garmen di Desa Kuryokalangan, Kecamatan Gabus, Pati.

Safuan, Misalnya. Ia merasa terbebani dengan dampak menguatnya dolar Amerika terhadap rupiah. “Dolar menguat, kenaikan bahan baku mencapai 10 persen. Padahal, kami dituntut pasar untuk tidak menaikkan produk garmen,” ujar Safuan saat ditemui MuriaNewsCom, Senin (21/9/2015).

Karena itu, ia mencoba untuk mengakali dengan cara membeli bahan baku secara kiloan. “Kami siasati dengan membeli bahan secara kiloan. Makanya, sampai saat ini harga produk garmen masih tetap, tidak naik,” imbuhnya.

Kendati demikian, ia mengaku kelimpungan merasakan imbas menguatnya dolar hingga tembus Rp 14.453. “Selain itu, saya menyiasati dengan cara memperkecil ukuran bahan antara 1 hingga 2 cm,” tandasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)