KHL Lebih Rendah dari UMK, Kosistensi Dewan Pengupahan Dipertanyakan

Ilustrasi 

Ilustrasi

 

KUDUS – Koordinator Konfederasi Serikat Buruh Indonesia (KSBI) Kudus Selamet Machmudi mengatakan, hasil survei Kebutuhan Hidup Layak (KHL) buruh pada bulan Agustus 2015 lebih rendah dibandingkan dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK). Jika UMK Kudus saat ini adalah Rp 1.380.000, hasil survey KHL Agustus ini hanya pada angka Rp 1.327.000.

Dengan kondisi ini, dikhawatirkan berdampak terhadap UMK Kudus untuk ke depannya, yakni anjlok dari angka saat ini.

Terkati hal ini, katanya hal itu patut dipertanyakan rasionalitasnya, karena jika dibandingkan situasi kenaikan harga kebutuhan pokok yang saat ini melemahkan daya beli masyarakat, hal itu dinilai tak sinkron. ‚ÄĚKonsistensi perwakilan pekerja dalam dewan pengupahan patut dipertanyakan,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, Keberadaan mereka selalu terlambat dalam mengantisipasi hasil survei yang merugikan buruh. Dari tahun ke tahun kejadiannya sama, yakni pada awalnya bersama Apindo dan Disnakertrans melakukan survei pasar, namun pada akhirnya menolak hasil survei.

Dia menambahkan, kesiapan dewan pengupahan yang dipilih mewakili buruh mengikuti survei KHL nyaris tidak ada sama sekali. Sehingga, tidak memiliki argumentasi riil mengenai kebutuhan buruh sehari-hari.

“Ada 60 item yang dijadikan objek survei yang diduga tidak memiliki kesamaan jenis dan kualitas dengan yang dibeli buruh. Dapat dipastikan upah buruh mengalami kenaikan pada tiap tahunnya. Tren kenaikan upah disesuaikan dengan kenaikan harga kebutuhan hidup. Namun, kenaikan upah belum tentu memenuhi syarat kelayakan,” ujarnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)