Ini Lho Kasus Kuswanto yang Sebenarnya

Kuswanto (duduk paling kiri) saat menjalani kasus penganiayaan oknum polisi. (MuriaNewsCom)

Kuswanto (duduk paling kiri) saat menjalani kasus penganiayaan oknum polisi. (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Kapolsek Mejobo, AKP Suharyanto, mengatakan Kuswanto, mantan korban penganiayaan oknum polisi, diketahui menganiaya korban dua kali, dalam waktu yang berbeda.

Korbannya adalah Sofi’i, warga Karanganyar RT 03 / RW 02, Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kudus.

Penganiayaan pertama, saat korban berada di halaman gudang rosok, di Desa Jepang RT 03 / RW 01, Kecamatan Mejobo. “Saat itu, tersangka Kuswanto membenturkan kepalanya ke kepala korban berkali-kali. Lalu, kepala bagian belakang korban dipukul menggunakan tangan kosong,” kata Suharyanto.

Tak lama kemudian, ucap Kapolsek, di tempat yang sama tersangka kembali menganiaya korban di tempat yang sama. “Tersangka kembali memukul korban menggunakan tangan kosong, dan mengenai bagian kepala. Kejadiannya pada awal Mei 2015 silam,” ucap perwira polisi berpangkat tiga balok di pundak itu.

Diterangkan, sebelumnya pihak kepolisian sudah memediasi antara korban dan pelaku, agar kasus tersebut dapat diselesaikan secara kekeluargaan. “Tapi ndak ada titik temu, hingga akhirnya kasus tersebut diproses secara hukum,” terang dia.

Disampaikan, berkas perkara Kuswanto sudah P-21 sejak tanggal 11 Agustus silam. Namun, saat dipanggil untuk dimintai keterangan, Kuswanto tak pernah hadir.
“Ia kemudian ditangkap anggota saat melanggar rambu lalulintas di perempatan Jepang, pada Rabu (36/8) siang kemarin. Kala itu, Kuswanto mengendarai motor tanpa memakai helm dan menerobos lampu merah,” ujar dia.

Disinggung mengenai motif perkara, menurut Suharyanto, Kuswanto tersinggung lantaran korban menawar murah barang bekas, yang hendak dijual. “Jadi, awalnya tersangka bersama seorang teman menawarkan besi bekas ke korban. Karena dirasa korban menawar terlalu rendah tersangka tersinggung, merasa dihinakan,” urainya.
Kuswanto merupakan korban salah tangkap dan penganiayaan oknum Polres Kudus, Bripka Lulus Rahardi, pada akhir November 2011. Kendati sebelumnya ada kesepakan damai, kasus ini kembali mencuat setelah Kuswanto melapor ke KontraS dan LPSK. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)