Agama Harus Dilihat Dari Segi Tekstual dan Konstektual

Moh. Rosyid, dosen STAIN NU Kudus. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

Moh. Rosyid, dosen STAIN NU Kudus. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

 

KUDUS – Pengaruh radikalisme telah menyebar hampir di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia. Pengaruh tersebut begitu mudah masuk ke dalam tubuh manusia. Terlebih paham radikalisme yang mengatasnamakan agama. Moh. Rosyid, dosen jurusan Tarbiyah STAIN NU Kudus, mengatakan adanya sebagian orang masuk ke dalam lingkup seperti itu dikarenakan kurang memahami agama yang dianutnya.

”Seharusnya anak-anak muda sekarang ini perlu memahami agamanya dengan dua segi yakni tekstual maupun konstektual. Saya sebagai dosen di STAIN NU kerap mengajarkan kepada para mahasiswa untuk berteman dengan siapa saja. Tanpa memandang apa agamamu, apa sukumu. Sehingga ketika mahasiswa memahami agama secara tekstual dan konstektual, maka tidak terbawa dengan pengaruh radikalisme tersebut,” ungkapnya, saat ditemui di rumahnya, di daerah Kayuapu Wetan, Gondangmanis, Kudus siang ini.

Pria asal Demak ini mencontohkan sebuah buku yang ditulisnya. Buku “Mendialogkan Ahmadiyah, Belajar dari Cikeusik dan Kudus” merupakan salah satu buku yang dibuat untuk mengingatkan para mahasiswa tentang sejarah yang terjadi di era tahun 2000-an. Ia beralasan penulisan buku ini sangat perlu.

”Sejarah itu tidak boleh dilupakan, makanya saya tulis supaya mengingatkan tentang peristiwa tersebut,” ungkap Rosyid.
Selain pemahaman agama, Rosyid juga berpesan kepada anak-anak muda agar tidak fanatik terhadap agamanya. Menurutnya, fanatisme itu terjadi karena tidak melihat agama secara konstektual. Hal tersebut dapat dihindari dengan cara mengikuti berbagai kegiatan positif. Seperti kegiatan rebana yang dilakukan mahasiswa STAIN dalam sebuah PKM atau kegiatan lainnya. (HANA RATRI/AKROM HAZAMI)