Dinas Pertanian Keluarkan Jurus Jitu untuk Pasarkan Kopi Muria

Tampak kegiatan tradisi Wiwitan Kopi. (MuriaNewsCom/Merie)

Tampak kegiatan tradisi Wiwitan Kopi. (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Kabupaten Kudus Budi Santoso berjanji bakal melakukan berbagai langkah agar kopi khas lereng Pegunungan Muria Kudus lebih dikenal khalayak luas. Salah satu caranya dengan melakukan branding Kopi Muria.

”Kopi khas pegunungan muria sudah dikenal banyak orang. Tapi memang masih susah memasarkannya. Karena itu, kami melakukan branding supaya lebih maju,” kata Budi Santoso saat mengikuti tradisi Wiwitan Kopi di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Senin (24/8/2015).

Ia menjelaskan, branding kopi ini menjadi salah satu cara yang paling jitu. Ini mengingat total lahan kopi di Kabupaten Kudus mencapai 452 hektare. Meski, mayoritas lahan kopi itu ditanami bibit jenis robusta, namun ada juga jenis arabica.

”Melihat potensi itu, sayang kalau tak dimanfaatkan secara maksimal. Kami yakin baik robusta ataupun arabica muria bisa terkenal,” ujarnya.

Ia menambahkan, khusus di lereng Pegunungan Muria yang masuk wilayah Desa Colo, luas lahan kopi sekitar 90 hektar. Tiap hektar lahan tahun ini mampu menghasilkan kopi dengan kisaran 1,5- 2 ton. Harga kopi panenan petani jika masih dalam bentuk biji kopi basah (belum dikeringkan atau diolah) sekitar Rp550 ribu per kwintal.

”Agar kualitas yang dihasilkan bagus. Lokasi ini juga sudah dikelola kelompok sadar wisata (pokdarwis) jadi tidak hanya menawarkan kopi khas Muria saja, namun juga pemandangan alamnya,” jelas Budi. (MERIE/TITIS W)