Berebut “Keplek” Jadi Tradisi Tahunan Warga Kampung Kaborongan

Ratusan Warga Kampung Kaborongan tengah berebut keplek yang akan digunakan untuk mengambil berkat yang sudah didoakan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ratusan Warga Kampung Kaborongan tengah berebut keplek yang akan digunakan untuk mengambil berkat yang sudah didoakan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Setiap setahun sekali, tepatnya bulan Apit dalam kalender Jawa, sebagian besar warga di Kabupaten Pati menggelar sedekah bumi sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan melalui alam yang telah menghidupi. Masing-masing daerah punya cara dan tradisi yang berbeda serta unik.

Di Kampung Kaborongan RT 10 RW 1, Kelurahan Pati Lor, misalnya. Berebut “Keplek” menjadi ajang tahunan yang diadakan di Kompleks Makam Brimbing Keris Penjawi.

Bagi warga Kaborongan, keplek adalah kartu berisi nomor yang akan digunakan untuk mengambil berkat atau makanan yang sudah didoakan di Makam Brimbing Keris Penjawi. Hal tersebut diharapkan agar warga setempat bisa mengambil berkat dengan teratur.

Kendati demikian, berebut keplek menjadi satu ajang yang merekatkan antara satu warga dengan warga yang lainnya. “Tradisi ini bisa merekatkan dan membaurkan warga. Kerukunan dan kebersamaan tercipta dari adat seperti ini,” kata Lurah Pati Lor Adi Rusmanto kepada MuriaNewsCom.

Karena itu, ia berharap agar warga Pati bisa melestarikan tradisi sedekah bumi yang memiliki dampak positif bagi warga. “Tradisi sedekah bumi itu warisan budaya leluhur yang harus dilestarikan,” ungkapnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)