Sekolah Lima Hari Itu Bagus, Asal…

Muhammad Kanzunuddin, dosen PGSD UMK. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

Muhammad Kanzunuddin, dosen PGSD UMK. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

KUDUS – Beberapa waktu terakhir ini, wacana sekolah lima hari menjadi tren topik di bidang pendidikan. Terutama di Jawa Tengah, yang beberapa daerah sudah menerapkan sekolah lima hari yang dicanangkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Namun, adanya agenda sekolah lima hari ini terdapat pro dan kontra. Terutama dari kalangan pendidikan. Seperti Muhammad Kanzanuddin, praktisi pendidikan dari PGSD UMK.

“Sekolah lima hari itu boleh, tetapi harus dikaji lagi. Sekolah lima hari itu tidak apa-apa, tetapi waktu untuk berkreativitas membentuk pribadi siswa jangan sampai dihilangkan. Agar selain mendapatkan ilmu pengetahuan, siswa juga diajak untuk berkreasi mandiri,” ungkapnya, saat ditemui MuriaNewsCom.

Menurut Kanzanuddin, sekolah lima hari belum dapat diterapkan di Kudus. Pasalnya, sekolah lima hari dinilai tidak cocok diterapkan di desa-desa yang sudah menggunakan kebiasaan bersekolah selama enam hari dalam sepekan.

Namun, Kanzanuddin juga setuju dengan tujuan dari sekolah lima hari ini. Yakni agar waktu antara siswa dengan keluarga juga efektif dibandingkan di sekolah. Akan tetapi, hal tersebut harus dipertimbangkan lagi. Alasannya, tidak semua orang tua siswa pada hari Sabtu libur bekerja.

“Kalau sekolah lima hari diterapkan. Pada hari Sabtu anak-anak libur, tetapi pada hari itu juga orang tua siswa ada yang masih bekerja, terus nanti si anak yang mengontrol siapa? Malah jadi tidak efektif. Apalagi untuk orang tua siswa SMP dan SMA. Padahal, kalau di hari Sabtu mereka sekolah, masih ada yang mengontrol,” pungkasnya. (HANA RATRI/SUWOKO)