Dinonaktifkan, 6 Guru Swasta Ngadu ke LBH Ansor Jepara

Mudzakir didampingi ketua LBH Ansor saat konferensi pers di presroom wartawan Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Mudzakir didampingi ketua LBH Ansor saat konferensi pers di presroom wartawan Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Sebanyak enam guru yang mengajar di SD dan MI di Yayasan Pendidikan Al-Islam Jepara dinonaktifkan dari tugas mengajarnya oleh pihak pengurus yayasan. Lantaran keberatan dengan keputusan yang dianggap sepihak itu, mereka mengadukan ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Jepara, Jumat (31/7/2015).

Dari enam orang guru yang diketahui telah memiliki sertifikasi tersebut, satu orang dipindah dari SD ke MI yang bernaung di Yayasan yang sama, dan lainnya dijadikan staff, mulai tahun ajaran baru 2015-2016 ini.

Salah seorang guru yang dinonaktifkan, Mudzakir mengatakan, kebijakan Yayasan tersebut, secara tidak langsung merupakan ’pemecatan’ bagi dirinya dan lima lainnya. Sebab dengan tidak mengajar, maka sertifikasi yang didapatkan setelah 24 tahun dia mengabdi menjadi guru dipastikan hilang.

”Karena sertifikasi hanya berlaku jika seorang guru bisa memenuhi 24 jam mengajar dalam setiap bulannya. Tanpa sertifikasi, maka penghasilan yang didapatkan hilang,” ujar Mudzakir kepada MuriaNewsCom, Jumat (31/7/2015).

Kebijakan tersebut menurut Mudzakir, dilakukan secara sepihak. Alasan-alasannya juga dinilai tidak adil. Kebijakan itu konon didasarkan pada uji kompetensi yang dilakukan dengan melibatkan salah satu perguruan tinggi di Kudus, yang dinilai tidak sesuai. Kemudian juga didasarkan pada evaluasi tahunan, yang dilakukan oleh yayasan. Padahal selama ini evaluasi yang dimaksud bentuknya tidak diketahui secara jelas. (WAHYU KZ/TITIS W)