Tebu Layu, Pengusaha Gula di Dawe Lesu

Salah satu pengusaha gula tumbu Desa Cendono Eki Suhendri mengaku produksinya menurun selama musim kemarau ini. Karena kondisi tebu yang tidak banyak mengandung air, sehingga menghasilkan gula sedikit. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu pengusaha gula tumbu Desa Cendono Eki Suhendri mengaku produksinya menurun selama musim kemarau ini. Karena kondisi tebu yang tidak banyak mengandung air, sehingga menghasilkan gula sedikit. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Rata rata pengusaha gula tumbu di wilayah Kecamatan Dawe saat ini mengalami penurunan. Hal itu disebabkan tebu mengalami penyusutan kandungan airnya (layu). Salah satu pengusaha gula tumbu Desa Cendono Eki Suhendri menjelaskan, dalam kurun waktu 2 bulan ini pihaknya hanya mampu memproduksi gula 5 kuintal (5 tumbu) saja. Produksinya menurun jika dibanding dengan bulan sebelumnya yang memproduksi sebanyak 1 ton hingga 2 ton. Penurunan tersebut dikarenakan banyaknya tebu yang mengalami layu bahkan tidak berair.

Menurutnya, musim kemarau inilah yang menyebabkan tanaman tebu layu hingga kualitasnya menurun. Sebab pada bulan lalu satu truck tebu (6 ton) bisa menghasilkan 7 kuintal gula tumbu. Akan tetapi akhir-akhir ini 1 truck tebu hanya menghasilkan 4 hingga 5 kuintal gula tumbu.

”Harga gula juga mengalami penurunan. Bulan lalu satu tumbu (1 kuintal) bisa sampai Rp 70 ribu, tetapi saat ini hanya laku dijual dengan harga Rp 60 ribu per kuintalnya,” paparnya.

Hal senada dibenarkan oleh pengusaha lain dari Desa Puyoh bernama Rokim. Ia menuturkan, setidaknya jika ada hujan turun satu malam saja, tebu-tebu yang ada di sawah bisa meningkat kadar airnya. Sehingga bisa kembali meningkatkan kualitas.

”Jika kadar air pada tebu meningkat, otomatis produktivitas gula juga meningkat. Kualitasnya juga bagus, harga juga bisa naik,” katanya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)