Dari Perhiasan Monel hingga Batu Akik

Dwi Handayani memamerkan koleksi dagangannya. (MURIANEWS/HANA RATRI)

Dwi Handayani memamerkan koleksi dagangannya. (MURIANEWS/HANA RATRI)

KUDUS – Tren batu akik, hingga saat ini masih cukup tinggi. Peluang inilah yang membuat beberapa masyarakat untuk terjun dalam bisnis tersebut. Seperti halnya Dwi Handayani, warga asli Jekulo dan kini bermukim di Jepara. Berawal dari bisnis perhiasan monel sejak delapan tahun silam, saat ini dirinya juga sudah merambah batu akik. Namun, dalam hal ini, dirinya hanya melayani pemesanan pelanggan. “Sebenarnya saya memulai usaha perhiasan monel sudah delapan tahun.Yang aku jual adalah perhiasan monel, seperti kalung, anting, cincin, dan gelang. Awalnya jual eceran kepada teman, tapi sekarang sudah membuka jual grosiran,” kata Dwi, saat ditemui di rumah ibundanya di kawasan Klaling, Jekulo.

Di rumah tersebut, Dwi memamerkan berbagai perhiasan monel yang dijual dengan harga bervariatif. Mulai dari Rp 10 ribu. Meski tidak memiliki toko, Dwi tetap menggunakan jasa perajin asal Jepara. Selama usahanya, ia memiliki seorang perajin tetap hingga sekarang. “Aku tidak ambil banyak dari toko, tetapi beli bahan untuk diserahkan kepada perajin monel,” kata Dwi.

Perempuan berdarah Kalimantan-Jawa ini telah memiliki pelanggan tetap. Mulai dari wilayah Kudus, Jepara, Semarang, hingga Kalimantan, Pontianak dan Pangkalan Bun. Untuk penjualan cincin batu akik, Dwi mengaku banyak yang meminatinya. Mereka selalu memesan sesuai dengan bentuk yang diinginkan pelanggan. Khusus untuk pelanggannya di Kalimantan, Dwi selalu menyiapkan 20 kodi atau sekitar 400 cincin batu akik.

“Untuk batunya, aku ambil dari beragai daerah, seperti Pacitan, Kebumen, dan Kalimantan. Cangkang yang asli buatan sendiri itu dari monel, karena memang bahan khas yang saya buat ya dari monel. Kalau titanium, rodium, dan germanium, aku ambil di Semarang,” katanya.

Untuk cincin batu akik, ia jual mulai dari harga Rp 50 ribu sampai ratusan ribu rupiah. Namun, jika ada pelanggan yang sudah memiliki batu dan hendak diukir sesuai ukuran cangkang yang diinginkannya, Dwi akan menyesuaikan harganya.

“Yang pastinya kalau mau beli cincin batu, harus tahu kualitas dan bahannya, terutama dari segi pemilihan cangkangnya. Kalau cangkang paling awet ya monel. Kalau pilih titanium, juga pilih yang baik agar tidak berkarat. Dan lebih penting, jangan tergoda dengan jenis batunya. Dulu harga cincin batu akik paling mahal berkisar Rp 75 ribu sekarang sudah ratusan ribu. Intinya, menurut saya untuk sebuah batu tidak ada harga patokannya,” pungkasnya. (HANA RATRI/KHOLISTIONO)