Sopir dan Pekerja Mebel Tertangkap Konsumsi Nakoba

Polres Jepara melakukan gelar perkara terhadap empat tersangka pemakai narkoba. (MURIANEWS/WAHYU KZ)

Polres Jepara melakukan gelar perkara terhadap empat tersangka pemakai narkoba. (MURIANEWS/WAHYU KZ)

JEPARA – Satresnarkoba Polres Jepara kembali mengamankan empat pengedar sabu-sabu di wilayah hukum Polres Jepara yang berprofesi sebagai sopir dan pekerja mebel. Empat tersangka ini berasal dari dua kasus yang berbeda.Tiga tersangka diamankan di Desa Bawu Kecamatan Batealit, sedangkan satu tersangka diamankan di Jalan Pemuda turut Kelurahan Potroyudan Kecamatan Kota. Empat tersangka masing- masing Abdul Latif alias Lingsang (34), Asrul Fauzi (29), Muhamad Rif’an (25) ketiganya warga Desa Bawu Kecamatan Batealit. Satu tersangka lain yakni Nur Fuadi (36) warga RT 4 RW 1 Desa Banjaran Kecamatan Bangsri.

Kasat Narkoba Polres Jepara AKP Mahendra menjelaskan, semua pengungkapan ini berawal dari informasi masyarakat. Tiga tersangka diamankan di rumah tersangka Asrul Fauzi di Desa Bawu pada 1 juni 2015 yang lalu sekitar pukul 23.00 WIB. Ketiganya sedang akan mengkonsumsi sabu-sabu sebelum diamankan oleh polisi.

”Berdasarkan informasi yang masuk kita tiindak lanjuti ke lokasi dan kita dapati ketiga tersangka ini dan satu paket sabu-sabu seberat 0,3 gram,” ujar Mehendra saat gelar perkara di Mapolres Jepara, Kamis (18/6/2015).

Berdasarkan pengakuan dari tersangka, lanjut Mahendra, barang haram itu didapatkan dari Roin yang berada di Papua. ”Tersangka Abdul Latif juga sudah cukup lama bergelut di peredaran barang haram ini,” katanya.

Sementara itu, tersangka Nur Fuadi diamankan pada 3 Juni yang lalu saat berada di Jalan Pemuda Jepara. Setelah menindaklanjuti infirmasiyang masuk didapati seseorang yang mencurgakan menggunakan sepeda motor, setelah digeledah didapati satu paket sabu-sabu seberat 0.5 gram.

”Kita mendapati sabu-sabu digenggaman tangan kanan tersangka, sehingga langsung kita amankan ke mapolres,” ujarnya.

Tersangka Fuadi ini, kata mahendra, mendapatkan barang itu dari Syamsudin melalui transfer di bank. Pengakuannya barang itu dibeli seharga Rp 700 ribu. ”Antara pelaku dengan bandarnya memang tidak saling mengenal, karena sekarang ini transaksisnya menggunakan sistem alamat. Yakni barang dikirimkan di lokasi tertentu dan tinggal diambil, sementara uangnya ditransfer di bank,” jelasnya. (WAHYU KZ|SUPRIYADI)