Arif Beberkan Kunci Sukses Beternak Ayam Broiler

Arief Sukma Kurniawan ketika berada di lokasi peternakan ayam miliknya (MURIANEWS/M IQBAL NA’IMY)

KUDUS – Bicara tentang ternak ayam, Arief Sukma Kurniawan percaya, kuncinya terletak pada metode pemberian obat yang mencegah ayam terserang penyakit.

”Selain menggunakan obat herbal yang aman bagi ayam konsumsi, secara berkala juga diberikan obat yang berbeda,” ujarnya.

Pada umur 15 hari, ayam diberi campuran gula putih, agar kondisinya fit. Lalu umur 20 hari, diberi campuran pace dan jahe yang berfungsi sebagai penghangat.

”Untuk mengatasi ayam yang mencret, saya memisahkannya dan mencekoki dengan rebusan daun sirih,” lanjutnya.

Meski berat, dia selalu rutin mengecek ayam setiap tengah malam. Karena disaat itulah yang paling mudah mendeteksi ayam yang tengah sakit. ”Ciri-cirinya mudah terlihat. Ayam sakit mengeluarkan batuk berlendir,” katanya.

Satu rahasia besar yang Arief praktikkan selama ini dan terbukti sukses tambah bobot ayam, katanya, dia memberikan ramuan khusus yang terdiri dari empat bahan. 

”Ada sari temulawak, glukosa dan dua bahan lainnya. Silahkan datang ke peternakan saya jika berminat mencoba ramuan penambah bobot ayam ini,” katanya sambil promosi.

Bukan isapan jempol belaka, ramuan tersebut efektif tingkatkan bobot ayam sekaligus bantu percepat masa panen. ”Di hari ke-35, bobot ayam rata-rata sudah mencapai 2.173 gram dari bobot normal 1.989 gram. Selain itu juga bikin hemat pakan, hanya 8-10 karung pakan dalam satu periode panen,” ujarnya.

Arief memberi bocoran bagi mereka yang ingin menggeluti bisnis ternak ayam broiler. ”Rawat ayam dengan telaten, rawat yang sakit dengan kasih sayang. Kita harus sayangi mereka juga, karena mereka yang kasih kita makan,” katanya.

Dia meyakini bahwa fokus, kandang bersih dan pengobatan yang bedakan keberhasilan. Selama ini Arief berkutat pada kisaran prosentase panen 80-95 persen. ”Modal operasional berkisar Rp 6,5-Rp 7 juta. Bobot ayam saat dipanen sekitar 1,8-2,5 kilogram dengan harga standar Rp 3500,” ungkapnya.

Dengan kalkulasi tersebut, pendapatan kotor Rp 27 juta, sehingga bersih Arief mengantongi Rp 20 juta setiap kali panen. ”Itu belum termasuk insentif dan bonus dari pasar. Angka kematian ayam tergolong wajar, sekitar 200 ekor.

Rupiah yang diraihnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan ditabung. ”Saya mensyukuri keputusan saya menjalin kemitraan peternakan ayam broiler dengan perusahaan pakan ayam internasional,” kata warga Margorejo RT 5 RW 6, Dawe, Kudus. (M IQBAL NA’IMY / KHOLISTIONO)