Bikin Marah Pakai Jaring Cotok, 2 Nelayan Dirazia

Dua perahu nelayan pengguna jaring cothok diamankan oleh petugas, pada Kamis (30/4/2015). (KOMA / AHMAD FERI)

REMBANG – Dua nelayan bersama dua perahu yang mereka tumpangi terpaksa diamankan petugas dari peraian Rembang karena diketahui menggunakan alat tangkap jenis jaring cotok. Dua perahu berikut masing-masing satu orang nelayannya diamankan oleh razia gabungan yang dilakukan oleh Polisi Perairan, TNI Angkatan Laut, serta petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) pada Kamis (30/4/2015).

Dua nelayan itu adalah Abdul Mukhid warga Desa Tritunggal dan Suroso warga Desa Pasarbanggi Kecamatan Rembang. Mereka berdua sempat diamankan di Pos TNI Angkatan Laut (Posal) Rembang. Selain dua nelayan ini, sebenarnya masih ada kira-kira 30 perahu lain yang ditengarai menggunakan jaring cotok saat operasi berlangsung. Namun mereka berhasil kabur dari razia petugas.

Salah seorang petugas polisi di perairan Rembang, Imam Fatoni menjelaskan dua nelayan cotok itu ditangkap dari Perairan Pasarbanggi, kira-kira dua mil dari bibir pantai pada pukul 08.00 WIB. ā€¯Memang ada puluhan perahu cotok lainnya yang lepas karena keterbatasan petugas di lapangan,” ujar Imam.

Sementara itu, Abdul Mukhid mengaku nekat kembali menggunakan jaring cotok karena hasil tangkapan menggunakan jaring biasa disebutnya tidak seberapa. Dia bisa saja menggunakan gilnet atau jaring insang atau juga bubu. Namun ongkos untuk membeli alat tangkap tersebut disebut mencapai belasan juta rupiah. “Berbeda dengan jaring cotok yang harganya hanya Rp500 ribu. Saya memang pernah mendapat bantuan dari Pemerintah. Namun nilai bantuan itu hanya cukup untuk membeli mesin perahu. Kami pasti akan berhenti pakai jaring cotok jika dibantu jaring serambi yang ramah lingkungan,” ujar Mukhid. (AHMAD FERI / AKROM HAZAMI)