Perbaikan Infrastruktur Paling Diminta

Sejumlah pengendara menghindari jalan berlubang di Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, beberapa waktu lalu. Mayoritas masyarakat di Kudus, khususnya di Undaan, meminta perbaikan struktur dalam musrenbang tahun ini. (KOMA / Faisol Hadi)

KUDUS – Keinginan masyarakat agar infrastruktur yang ada di wilayahnya bisa dalam kondisi yang baik, menjadi masukan atau usulan terbanyak yang masuk dalam musyawarah rencana pembangunan (musrenbang). Baik di tingkat desa, kecamatan, maupun kabupaten.

Kepala Seksi (Kasi) Pemberdayaan Masyarakat Des Kecamatan Undaan Rifai mengatakan, kebanyakan usulan yang masuk dalam proses musrenbang, adalah perbaikan infrastruktur yang ada di masing-masing desa.

”Itu memang masih mendominasi usulan musrenbang. Misalnya saja soal perbaikan jalan. Hampir setiap tahun, masyarakat pasti mengusulkan. Termasuk juga pada musrenbang untuk tahun 2016 mendatang,” jelasnya, kemarin.

Rifai mengatakan, keinginan supaya infrastruktur jalan di desa-desa yang ada di Undaan dalam kondisi bagus, dianggap sebagai salah satu hal wajar dari keinginan masyarakat desa.

”Dan memang, forum musrenbang mulai dari desa, kecamatan dan kabupaten, memberikan tempat supaya usulan-usulan itu kemudian ditampung. Nantinya mana yang akan disetujui, sudah ada yang menentukan sendiri. Namun kita berupaya agar keinginan tersebut bisa dipenuhi,” terangnya.

Pembangunan infrastruktur memang lekat dengan kegiatan yang sangat lekat dengan Dinas Bina Marga Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Pada tahun 2015 ini saja, proyek pada dinas tersebut, alokasi anggarannya mencapai Rp 111 miliar.

Anggaran tersebut digunakan untuk membangun infrastruktur  jalan, jembatan, dan pengairan. Dana sebesar itu sekitar 75 persennya tersedot untuk perbaikan jalan dan jembatan. Lebih khusus lagi jalan, tetap menjadi prioritas karena kerusakan pada akses penghubung selalu terjadi setiap tahun. Penyebabnya, penggunaan dan usia jalan setiap hari semakin berkurang.

Kepala Dinas BMPESDM Samani Intakoris mengatakan, usia jalan umumnya mencapai lima tahun dan setelah itu dilakukan perbaikan. Namun seiring dengan meningkatnya jumlah pengguna jalan ditambah beban tonase yang semakin tinggi, dimungkinkan usia  jalan menjadi lebih pendek. Belum lagi kerusakan jalan pada kawasan tanah labil atau bergerak.

”Ada banyak faktor yang mempengaruhi kerusakan jalan. Yang jelas, perbaikan sarana penghubung tetap diprioritaskan karena berdampak langsung pada mobilitas warga setiap hari,” terangnya. (Merie)