Prospek Jamur Tiram yang Menjanjikan

Warga Desa Kuwukan, Kecamatan Dawe, sangat memaksimalkan hasil produksi asli wilayah itu. Satu di antaranya adalah jamur tiram. Bahkan, warga memanfaatkan jamur tiram menjadi usaha rumahan yang menjanjikan.

Sebab warga percaya, usaha rumahan bila digeluti dengan teliti, pasti akan menghasilkan pundi-pundi rupiah yang menjanjikan. Sehingga penghasilan itu berguna untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
Usaha jamur tiram memang memerlukan modal yang tidak banyak. Sebab dalam perawatannya, warga hanya memerlukan penyiraman air. ”Usaha jamur tiram ini memang sebagai pendukung kehidupan ekonomi kami. Dan pembuatan jamur tiram ini pun sudah kami geluti  selama 15 tahun,” kata Pipit Widiyanti, pengusaha jamur tiram.
Jamur tiram memang cocok dibudidayakan di  daerah pegunungan semacam Desa Kuwukan ini. Sehingga dalam proses pertumbuhan jamur, bisa maksimal dan hasil panennya juga bagus.
Selain itu,  perempuan berusia 25 tahun tersebut menuturkan, dalam proses pembuatannya juga cukup mudah. Yaitu dengan cara menggunakan serbuk kayu randu (kapas), plastik ukuran 1 kg, kapur (gamping), bekatul, air dan jagung sebagai media bibit jamur tersebut.
”Cara pembuatannya yaitu semua bahan tersebut dicampur, setelah dicampur maka diendapkan selama satu hari atau satu malam. Setelah itu, bahan yang sudah dicampur tersebut dibungkus ke dalam plastik,” paparnya.
Dengan adanya proses dari pencampuran bahan dan pembungkusan selama 1 hari itu, nantinya akan membuat pot jamur lebih padat sebelum diisi bibit jamurnya. Selain itu, nantinya juga ada proses lanjutan. Proses tersebut akan membuat jamur tiram bebas kuman.
”Untuk mengantisipasi datangnya kuman, serbuk kayu, batu kapur, bekatul yang sudah dimasukan ke dalam plastik tersebut akan direbus selama satu hari atau satu malam. Sehingga bahan baku tersebut bisa terhindar dari kuman,” ungkapnya.
Setelah perebusan selesai, maka plastik yang sudah diisi dengan bahan baku tersebut akan ditiriskan. Nantinya akan diisi dengan bibit jamur yang berupa jagung. Selain itu, untuk hasil panennya bisa diunduh selama satu bulan ke depan.
”Satu kali pembuatan, kami bisa menanam jamur atau membuat pot sebanyak 125 buah. Di saat penen akan bisa menghasilkan jamur dengan masksimal. Untuk penjualannyaa sendiri, kami menghargai jamur tersebut seharga Rp 12 ribu/ kg-nya,” kata pipit.
Selain dikatakan menjanjikan, usaha ini juga membutuhkan biaya yang murah. Sebab untuk satu potnya yang terdiri dari serbuk kayu, batu kapur, bekatul yang sudah dimasukan dalam plastik tersebut dapat digunakan lagi sebanyak tiga kali pemakaian. ”Sangat ekonomis,” pungakasnya.(Edi Sutriyono / Akhrom Hazami)