Bulog Tak Berkutik Hadapi Tengkulak

KUDUS – Mahalnya harga beras yang terjadi belakangan ini, memperlihatkan bagaimana petani masih tergiur untuk menjual hasil panennya kepada tengkulak yang berani membayar mahal. Sedangkan di satu sisi, kenyataan bahwa tengkulak masih berjaya, membuat Perum Bulog menjadi tidak berkutik sama sekali.

Sebagaimana diketahui, tengkulak memang berani membeli dengan harga cukup tinggi. Apalagi hingga saat ini, tengkulak asal Jakarta dan Jawa Barat (Jabar) itu terus berburu pasokan beras ke beberapa daerah di eks Karesidenan Pati. Termasuk Kudus, yang membuat pasokan beras di lapangan sempat menipis dan membuat harganya tinggi.
Kepala Perum Bulog sub-Divre II Pati Khozim mengatakan, pihaknya memang tidak mampu bersaing dengan tengkulak dalam hal pembelian beras. ”Pasalnya, kami ini hanya membawa harga yang berdasarkan instruksi presiden (inpres). Tidak bisa menentukan harga seenaknya sendiri, sebagaimana yang dilakukan para tengkulak,” terangnya belum lama ini.
Harga sesuai inpres yang dimaksudkan Khozim, adalah harga pembelian beras yang hanya Rp 6.600 per kilogramnya. Bandingkan dengan harga tengkulak yang berani membeli dengan harga Rp 10-11 ribu per kilogramnya. ”Wajar kalau kemudian petani lebih memilih menjual hasil panennya kepada tengkulak,” katanya.
Khozim mengatakan, pihaknya memang ”tersandera” dengan harga dalam inpres tersebut. Jangankan untuk membeli beras, untuk meyakinkan rekanan Bulog agar mau menyetor ke gudang saja, diakuinya sebagai salah satu hal yang sangat sulit dilakukan.
Dicontohkannya, dari mulai panen awal Januari lalu hingga saat ini, belum ada rekanan Bulog yang kemudian menyetor ke gudang perusahaan negara tersebut. Padahal, Bulog sendiri memiliki 90 rekanan di eks Karesidenan Pati, yang memang selama ini menjadi penyetor beras ke gudang Bulog.
”Anda boleh percaya boleh tidak. Sampai hari ini, belum ada satupun rekanan yang menyetor ke gudang kami. Bahkan sekilopun mereka belum setor. Karena ya itu tadi. Mereka lebih tertarik dengan harga yang ditawarkan oleh tengkulak,” tegasnya.
Karena itulah, menurut Khozim, jika kemudian pihaknya harus melakukan jemput bola ke lapangan guna membeli beras atau gabah langsung dari petani, maka tidak akan maksimal. Pasalnya, pihaknya tidak mampu bersaing dengan para tengkulak yang memang sedang memburu pasokan beras dari wilayah kantong-kantong beras di Karesidenan Pati ini.
Untuk itu, Khozim berharap ada perubahan pada inpres harga beras yang kemudian bisa mengatasi persoalan ini. Namun hal itu memang harus menunggu keputusan dari pimpinan tertinggi, yaitu Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) apakah akan mengubahnya atau tidak.
”Karena ini kan, inpres. Instruksi presiden. Yang kemudian bisa mengubahnya hanyalah Presiden. Kami tidak mampu berbuat apa-apa, termasuk tidak berdaya menghadapi harga beras yang kami miliki dengan tengkulak. Jadi kami berharap Presiden bisa memahami situasi dan kondisi kami di lapangan ini,” jelasnya.
Ketersediaan beras di Kabupaten Kudus selama beberapa bulan mendatang, memang diperkirakan aman. Karena mencapai 118.000 ton.  Total beras sebanyak itu, merupakan cadangan pangan dan beras yang dikuasai masyarakat, di luar beras yang dimiliki Perum Bulog. Sedangkan untuk pasokan milik Bulog sendiri, hanya ada 4.000 ton saja untuk wilayah Kudus.
Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Kudus Edi Supriyanto mengatakan, kebutuhan beras selama setahun untuk jumlah penduduk di Kudus yang jumlahnya mencapai 792.000 jiwa, adalah 73.481,76 ton. Dengan rincian, per jiwanya membutuhkan 92,78 kilogram per tahun.
”Sehingga jika ada pasokan sebanyak 118.000 ton, maka ada kelebihan atau sisa pasokan sebanyak 44.518,24 ton. Dengan demikian, tidak ada permasalahan dengan ketersediaan pangan selama setahun di Kabupaten Kudus ini,” katanya. (Faisol Hadi / Merie)