Ruqyatul Hilal, Pertajam Ilmu Matematika Siswa

Ruqyatul hilal merupakan suatu kegiatan untuk menentukan tanggal pada bulan Hijriah. Karena untuk menentukan tanggal tersebut, siswa terlebih dahulu harus menguasai rumus matematika. Begitu juga yang diterapkan di MA Qudsiyyah, yang mengajarkan siswanya dalam mempelajari ruqyatul hilal yang secara tidak langsung, juga mendorong siswa menguasai matematika.

 ”Ruqyatul hilal merupakan praktik dari mata pelajaran falaq,” kata M. Yunus, salah satu peserta ruqyatul hilal MA Qudsiyyah Kudus.

Dengan adanya kegiatan itu, secara otomatis pihak sekolah membimbing dua materi sekaligus kepada siswanya. Yaitu matematika dan ilmu falaq (perbintangan). Sebab mata pelajaran tersebut merupakan satu serangkaian, yang menggunakan rumus matematika.

”Kegiatan itu biasanya dilakukan oleh pihak sekolah secara rutin. Di antaranya bertempat di Pantai Kartini, Pantai Bandengan, dan Teluk Awur, Jepara. Sebab prosesnya merupakan bukan sekadar untuk mengetahui tanggal pertama pada bulan Hijriah. Namun bisa dijadikan penambahan ilmu secara praktiknya,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaan ruqyatul hilal tersebut, pihak pembimbing menunjuk perwakilan kelas. Untuk satu kelasnya diwakili oleh siswa, yang memang benar-benar mahir dalam matematika. Karena memang nantinya setelah acara itu selesai, pihak sekolah memberikan tugas kepada siswa tersebut.

”Tugas itu berupa hitungan tentang tinggi bulan seberapa derajat dari pandangan pelupuk mata, terbenamnya bulan atau waktu yang diperlukan bulan tersebut, untuk terbenam. Karena hitungan itu berupa rumus matematika yang menggunakan derajat,” paparnya.

Selain itu, pihak sekolah akan memberikan nilai plus bagi siswa tersebut. Karena telah memahami ilmu matematika yang juga diterapkan pada meteri pelajaran ruqyatul hilal tersebut. Sebab tidak semua siswa dapat menguasai kedua materi itu secara bersamaan. Sehingga dalam praktiknya, hanya siswa pilihan saja yang diikutsertakan dalam ruqyatul hilal.

”Bersyukur bisa ikut ruqyatul hilal, dan berusaha memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin untuk menggali ilmunya. Sebab kegiatan ini jarang sekali dilakukan oleh tempat pendidikan manapun. Beruntung bisa bersekolah yang lebih mengedepankan ilmu salaf dan agama yang kuat,” imbuhnya.  (Edy Sutriyono/ Titis Ayu)