Polisi Selidiki Limbah Pengeboran Minyak

Anggota Polres Grobogan bersama sejumlah warga Kabupaten Grobogan mengecek tempat pembuangan limbah di lokasi pengeboran minyak di Desa Botoreco, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora. (KOMA/Rubadi)

GROBOGAN – Kapolres Grobogan AKBP Indra Darmawan melalui Kasat Reskrim AKP Subagyo menyatakan, pihaknya tengah melakukan penyelidikan dan memeriksa beberapa saksi, termasuk karyawan PT PT Sarana Patra Jateng (SPJ) maupun PT Foster. Penyelidkan tersebut terkait dugaan pencemaran limbah pengeboran minyak yang berasal dari kedua perusahaan tersebut. Bahkan, Polres juga akan melakukan uji laboratorium terhadap sampel limbah di beberapa lokasi pertanian yang tercemar limbah.

”Kami sudah menerima aduan resmi dari warga yang tercemari limbah. Saat ini kami masih lakukan penyelidikan dan memeriksa sejumlah saksi, termasuk karyawan PT SPJ maupun PT Foster,” ujar  AKP Subagyo, Jumat (30/1).

Sementara itu, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jawa Tengah juga melakukan investigasi pencemaran lingkungan di enam belas dusun yang tersebar di Kecamatan Gabus dan Kradenan, Kabupaten Grobogan. Limbah yang mengalir ke saluran irigasi tersebut, diduga berasal dari aktivitas pengeboran minyak PT Foster dan PT SPJ, di Dusun Trembes, Desa Botoreco, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora. 

”Sudah dibentuk tim. Baik BLH maupun pihak pengebor untuk melakukan ivestigasi terkait limbah yang berasal dari pengeboran minyak di Kabupaten Blora,” ujar Kepala BLH Kabupaten Grobogan Ahmadi Widodo, Jumat (30/1).

Ia mengatakan, lantaran limbah mengalir di sejumlah desa di Kabupaten Grobogan, BLH Jateng juga turun tangan untuk mengatasi persoalan di dua kabupaten itu. Saat ini, sampel limbah masih dalam uji laboratorium di tiga tempat. Yakni laboratorium BLH Provinsi Jateng, sedangkan PT Foster melakukan uji laborat di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Dan PT SPJ melakukan uji laborat di Sucofindo.

”Tiga pihak melakukan uji laborat di tiga tempat. Uji laborat memang membutuhkan waktu cukup lama. Jika hasil sudah keluar, kami akan memberikan keterangan kepada media,” terang Ahmadi.

Kepala Desa Sengonwetan Priyo Utomo mengatakan, tidak hanya mencemari tanaman,  beberapa ekor hewan ternak milik warga juga mati akibat meminum air sungai yang tercemar limbah itu. Selain mengadu kepada pihak pengebor dan bupati Blora, warga juga melaporkan secara resmi ke Polres Grobogan. 

”Ini menyangkut mata pencarian warga Grobogan. Jika dinyatakan bersalah, maka tidak hanya sanksi yang dilakukan PT Pertamina terhadap rekanannya, tapi juga harus dihukum. Semua ada aturannya,” tandasnya.

Menurutnya, selama 1,5 tahun terakhir, ribuan petani di Desa Sengonwetan Kecamatan Kradenan gagal panen padi dan palawija akibat air yang mengalir ke lahan pertanian tercemar limbah hasil pengeboran minyak . Limbah dari aktivitas pengeboran minyak PT SPJ dibuang ke aliran Sungai Trembes, kemudian mengalir ke daerah hilir. Termasuk Desa Bendoharjo, Kalipang, Banjarejo, dan Karangrejo, Kecamatan Gabus, serta Desa Sengowetan, Kecamatan Kradenan. (Rubadi/Sumarni)