Polisi Datangkan Saksi Ahli

Salah seorang terlapor menunjukkan barang elpiji yang diangkut di dalam truk. Segel elpiji bersubsidi tersebut berwarna putih. Ini berbeda dengan segel yang biasa untuk Jepara yang berwarna merah.  (KOMA / Wahyu KZ)

JEPARA – Pihak Kepolisian Resor (Polres) Jepara akan menindaklanjuti laporan yang disampaikan LSM Aliansi Indonesia (LSM AI), berkaitan dengan distribusi gas elpiji 3 kilogram (kg) diduga ilegal. Rencananya, pihak kepolisian akan mendatangkan saksi ahli, untuk mendapatkan keterangan lebih jelas terkait pelanggaran yang dilakukan terlapor.

Kepala Sub Bagian (Kasubag) Humas Polres Jepara AKP Maryono menjelaskan, setelah pihaknya menerima limpahan laporan dari Polsek Keling, Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Jepara langsung melakukan pemeriksaan terhadap terlapor dan saksi.

”Dari hasil pemeriksaan sementara, ada dugaan pendistribusian secara ilegal dari terlapor. Yakni soal distribusi gas elpiji bersubsidi yang tidak dilengkapi dengan surat resmi,” ujar Maryono kepada Koran Muria, Jumat (30/1).

Menurutnya, dibutuhkan saksi ahli baik dari Pertamina maupun dari yang lain, agar dapat memperinci pelanggaran apa saja yang dilakukan terlapor. Meski demikian, dari pemeriksaan sementara terlapor dapat dikenakan pasal 53 huruf b dan d UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, jo pasal 10 Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 26 Tahun 2009 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Elpiji. ”Untuk memperjelas pasal yang dikenakan, perlu keterangan dari saksi ahli,” katanya.

Berkait dengan kasus tersebut yang lintas provinsi, pihaknya mengaku akan segera melakukan koordinasi dengan Polres Bojonegoro. Hal itu akan dilakukan lantaran dikhawatirkan kasus tersebut, tidak hanya satu kali saja. Dikhawatirkan ada pihak-pihak lain yang juga melakukan hal yang sama dengan mengirimkan gas elpiji bersubsidi dari luar kota ke Jepara.

Sementara itu, salah seorang terlapor, Pamuji, warga Desa Damarwulan, Kecamatan Keling, menjelaskan, pihaknya mengaku tidak mengetahui adanya 

larangan penjualan gas elpiji dari luar kota yang dijual di Jepara. Sebab, selain agen yang dijadikan tempat mendapatkan elpiji tidak melarang, juga selama ini dia mengaku aman-aman saja.

”Saya jual ke toko-toko atau pengecer. Selama ini saya tidak tahu kalau ada larangan. Saya sudah lima kali mengambil barang dan menjualnya,” ungkapnya. (Wahyu KZ / Merie)