Pasar Darurat Disiapkan di Terminal Lama

Pedagang Pasar Tayu, mengeluarkan sisa -sisa barang dagangan dari kiosnya. Pemkab Pati menyiapkan pasar darurat yang lokasinya berada di kawasan terminal lama. (KOMA / Kholistiono)

PATI – Pascakebakaran yang melanda Pasar Tayu pada Kamis (29/1), Pemkab Pati bakal menyiapkan lapak darurat bagi pedagang. Lokasi yang dipilih, rencananya yakni terminal lama, yang tempatnya masih di kawasan Pasar Tayu.

Wakil Bupati Budiono mengatakan, lapak darurat tersebut perlu dipersiapkan supaya pedagang yang kios maupun losnya terbakar, dapat melakukan aktivitas berjulan kembali seperti semula.

”Tentunya kami berharap perekonomian tetap berjalan. Makanya, lapak darurat ini perlu kita persiapkan, supaya pedagang juga tidak bingung mau berjualan di mana. Nah terminal lama, bisa menjadi alternatif sebagai lokasinya,” ujarnya, kemarin.

Wabup menyampaikan, untuk pembuatan pasar darurat tersebut, pihaknya akan berkoordinasi dengan stakeholder untuk membahas lebih lanjut. Baik dari segi anggaran maupun teknisnya nanti.

Untuk waktu sendiri, menurut Wabup, bakal dilakukan secepatnya. Karena hal ini menurutnya sangat mendesak. ”Secepatnya lah, karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak dan kita berharap perputaran ekonomi di Tayu ini tetap berjalan,” imbuhnya.

Dari data yang terhimpun, kios maupun los yang terbakar, jumlahnya mencapai ratusan. Terdiri dari  98 kios, 336 los pasar, 116 los darurat dan 160 los pasar ikan.

”Yang paling parah ini yang bagian dalam, karena memang sumber api berasal dari bagian dalam, dan memang hangus semua. Untuk kerugian ditaksir lebih kurang  Rp 10-15 miliar,” ujar Sentot Purnomo, Camat Tayu.

Sementara itu, Abdul, salah satu pedagang yang losnya ikut terbakar berharap, pemerintah segera membuat lapak darurat. Sehingga pedagang yang kini sudah kehilangan los dan kiosnya dapat kembali beraktivitas.

”Harapannya tentu kami ingin pemerintah segera tanggap akan hal ini. Jangan berlama-lama untuk membuat lokasi atau lapak darurat bagi pedagang. Karena kami juga butuh biaya hidup,” katanya.

Meski demikian, dirinya mengaku pasrah atas musibah yang dialaminya. ”Mau bagaimana lagi, mungkin ini sudah kehendak Tuhan. Namun, kami tetap berharap pemerintah memberikan solusi,” ungkapnya.  (Kholistiono / Ali Muntoha)