”Biayanya Hanya Sedikit Saja”

KUDUS – Pengacara yang mendampingi warga terdampak Logung, yang berasal dari Posbakum, membenarkan bahwa kasus tersebut tidak semuanya akan bisa dilakukan dengan sistem prodeo atau gratis. Meski demikian, pihak pengacara mengklaim tidak akan menghabiskan biaya yang besar, untuk melakukan persidangan.

Satu dari empat pengacara dari Posbakum, Widodo mengatakan, untuk sidang yang akan berlangsung nanti, tidak akan menghabiskan biaya yang banyak. Namun mengenai nominalnya, pihaknya enggan untuk  membicarakannya.

”Tidak banyak. Sebab mungkin hanya untuk akomodasi dan kebutuhan lainnya. Sedangkan untuk sidangnya sendiri, paling akan berlangsung selama 12 kali saja,” kata Widodo, kepada Koran Muria, Jumat (30/1).

Terkait gugatan yang diajukan pada 23 Januari lalu, diakui Widodo memang tidak akan bisa dilakukan sepenuhnya dengan biaya negara. Pasalnya, biaya negara alias jasa gratis itu, hanya akan berlaku untuk biaya pengacaranya saja. Di mana saat ini, ada empat pengacara yang mewakili warga.

Keempat pengacara tersebut, masing-masing adalah Suprayitno, Widodo, Dwi Hadiyanto, dan Kuswandi. Keempat pengacara itulah yang nantinya mendampingi sejumlah warga dalam sidang-sidang yang dilakukan di PN.

”Mereka tidak perlu mengeluarkan uang untuk pengacara. Sebab sudah dibiayai oleh negara semua khusus pengacaranya. Dan menurut surat yang kami terima dari PN, sidang pertama akan dilakukan pada Selasa (10/2) mendatang,” ujarnya.

Menurut dia, selama 12 kali persidangan nanti, pihaknya bakal berusaha untuk memenangkan apa yang menjadi tuntutan warga. Yakni dengan meminta ganti lahan, bukan dengan uang yang nominalnya juga tidak seberapa. Selain itu juga, warga juga meminta untuk tim Logung, dapat membeli semua tanaman milik warga yang berada di atas tanam milik warga. 

Sehingga dengan begitu, warga juga dapat menerima kosinyasi dan tidak kehilangan mata pencahariaan mereka. ”Kalau luasan tanah dari 64 warga yang menggugat, sejumlah sekitar 5,4 hektare. Sedangkan permintaan ganti rugi tanaman sekitar Rp 550 juta. Jumlah tersebut sudah terinci dari berbagai tanaman yang ada di sana,” jelasnya. (Faisol Hadi / Merie)