Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Pemimpin dan Pendidik Generasi Batik



Reporter:    /  @ 04:43:01  /  31 Oktober 2014

    Print       Email

Oleh: Lina Kushidayati, Dosen STAIN Kudus

 

Setiap 2 Oktober dirayakan sebagai Hari Batik Nasional karena Unesco menetapkan batik sebagai warisan budaya dunia khas Indonesia, apa maknanya? Batik dimaknai kain yang didekorasi dengan teknik pewarnaan dan lilin. Dalam referensi sejarah, tentang batik yang paling awal ditemukan pada tagihan muatan kapal Belanda pada 1641. History of Java karya Thomas Stamford Raffles terbit di London 1817 merupakan literatur Eropa pertama yang menceritakan teknik batik. Pada 1873 saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberi selembar batik yang diperoleh dari kunjungannya ke Indonesia pada Museum Etnik di Rotterdam. Pada 1900 batik Indonesia memukau pada pameran Universelle di Paris. Pada 1994 pada Konferensi Asia-Pasifiic Economic Cooperation 1994 di Bogor, batik memikat pemimpin dunia di antaranya Bill Clinton dari Amerika dan Nilson Mandela dari Afrika Selatan. 

 

Karya budaya adiluhung yang diciptakan oleh leluhur menjadi identitas budaya (cultural identity) tidak akan eksis jika respon budaya oleh generasi penerus tidak optimal karena ketidaktahuannya. Di sisi lain, fanatisme sempit menjadi pandangan umum jika karya adiluhung yang tidak pernah diposisikan ideal oleh bangsa, tetapi didalami dan dieksiskan oleh negara lain sehingga memunculkan konflik. Beberapa karya anak bangsa tapi tak terawatt, tapi diberi tempat di Negara lain sehingga muncul ketegangan karena pola pengakuan. Sebagaimana bentuk nyanyian, tari (pendet), seni pertunjukan (reog), benda budaya (keris, badik, gamelan, naskah, tenun dan sejenisnya, bahkan wayang), dan inovasi budaya (di antaranya makanan khas) karya adiluhung bangsa dibesarkan oleh Negara lain. 

Kita perlu belajar dari kepedulian terhadap karya adiluhung yang dicontohkan warga Jepang, Masakatsu Tozu, profesor bidang politik budaya Universitas Kikokushan Tokyo. Ia sejak 1960 mengoleksi batik Nusantara dan mendapat 5.500 helai batik koleksi yang tersimpan di museum pribadinya di Kyoto (Jawa Pos, 8/7/2009). Perlu dipahami –sebagai modal mengurangi tensi ketegangan antar-negara- bahwa kebudayaan yang berkembang di kawasan Asia menurut Sardono merupakan warisan bersama (shared heritage) sehingga perlu pemahaman bersama agar pada masa mendatang tak terjadi rebutan warisan antarbangsa (Kompas,3/8/2009). 

Kurikulum Membatik

Kesamaan pemahaman tersebut perlu ditanamkan sedari awal di antaranya melalui bangku pendidikan (kurikulum) sebagai media pewarisan terhadap substansi makna budaya dengan utuh. Di tengah optimalisasi potensi anak negeri yang dikemas dalam program industri kreatif versi Departemen Perdagangan yang memetakan 14 bidang yakni periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, mode, vidio-film-fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, tv dan radio, dan riset. Hal tersebut menandaskan bahwa kerajinan dan desain (di dalamnya ada yang berupa batik) menjadi program yang perlu direspon. Hal ini di tengah ‘mandulnya’ generasi terdidik mengais lapangan kerja karena anggapan bahwa ilmuwan identik dengan ‘kantoran’ bukan wirausahawan. Bangga menjadi pahlawan modern (bekerja dengan karya mandiri) perlu ditanamkan dengan bekal pengetahuan kreatif-praktis.

Peduli Karya Adiluhung

Kepedulian terhadap karya budaya leluhur berbentuk karya seni, karya sastra, maupun karya kriya atau karya adibusana merupakan ciri generasi berbudi. Kepedulian tersebut mulai dari bangga menjadi pengguna karya budaya, seperti batik hingga memahami makna budaya yang tersimpan dalam batik itu sendiri. Persepsi masyarakat terhadap batik mengalami pergeseran, semula batik diidentikkan dengan busana bangsawan, tetapi proses produksinya terkikis oleh perkembangan mode budaya pop dan industrialisasi berupa dinamika kreatifitas dengan sentuhan nilai estetika yang tinggi. Para pengamat batik menandaskan bahwa batik memiliki keterkaitan kuat dengan seni wayang, tari, dan lagu. Sehingga ragam hias batik Indonesia memiliki ciri yang terkait dengan komunitas pembuatnya yang sebagian menggambarkan suasana zaman, merekam alam sekitar, dan diproduksi untuk keperluan komersial, tapi sebagian lainnya memenuhi kebutuhan adat dan tradisi dengan filosofinya sebagai cermin kedaerahan. 

Pada 2 Oktober 2009, batik ditetapkan oleh Unesco sebagai Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity, yakni hasil karya tak benda bagi kemanusiaan. Hal ini perlu dikokohkan ulang, agar generasi masa kini tetap menghormati karya leluhurnya dengan cara memahami substansi makna budaya, bahkan mengeksiskan keberadaannya. Sejak abad ke-12 di Kediri adanya motif batik sehalus gringsing atau era Kerajaan Majapahit akhir abad ke-19, terutama pascaperang Diponegoro atau perang Jawa (1825-1830). Imbasnya keluarga Keraton dan pengikutnya meninggalkan kerajaan tertebar di berbagai daerah dan mengembangkan batik. Geliat ‘berbatik’ menjadi tren yang perlu disongsong dengan pertumbuhan 3 s.d 5 persen per tahun berkontribusi positif terhadap produk domestik bruto (Suara Merdeka, 27/6/2009). 

Pemerintah pun telah melindungi batik dalam bentuk pembedaan produk batik asli buatan lokal (printing) yang sesuai dengan proses pembuatan dengan yang diproduksi massal menggunakan cetakan motif batik. Untuk mendapatkan lisensi dunia, Kantor Menkokesra mendaftarkan batik pada Unesco sebagai produk paten Indonesia pada 2 Oktober 2009 yang dinilai oleh negara anggota subsidiary body (Uni Emirat Arab, Korsel, Kenya, Turki, Meksiko, dan Estonia) dalam sidang tertutup tanggal 11-15 Mei 2009 di Paris dan keputusannya ditetapkan 28 September s.d 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi. Emirat Arab yang menominasikan batik Indonesia dalam 76 warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage/ICH) oleh Unesco karena sarat dengan teknik, simbol, dan budaya yang tidak lepas dari kehidupan masyarakat sejak lahir hingga meninggal. 

ICH dalam Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage Unesco 2003 adalah praktik, representasi, ekspresi, serta pengetahuan dan keterampilan yang oleh komunitas, kelompok, dan dalam beberapa kasus juga individu mengakui sebagai bagian warisan budayanya bersifat tradisional dan masih dipraktikkan, terus dikreasikan, dan diturunkan ke generasi berikutnya, umumnya secara lisan. Keberadaan batik memiliki makna budaya, identitas kedaerahan, dan fondasi ekonomi kerakyatan. Jika di Kabupaten Salatiga terdapat batik khas plumpungan, di Cilacap oleh Euis Rohaini memopulerkan batik khas Cilacap hingga ke mancanegara (Inggris, Belanda, Korea, Jepang, dan Singapura). Begitu pula Pemkab Pati, sedang mengeksiskan batik khas bakaran. Tidak bedanya Pemkab Rembang memberikan bantuan pematenan motif batik sejumlah 20 motif dari 300 motif yang ada di Depkumham. 

Kabupaten Jepara, pegawainya diwajibkan mengenakan seragam batik pada hari yang ditentukan. Lasem memiliki motif burung phoenix dan Cirebon memiliki motif batik mendung yang menggambarkan simbolisme hubungan erat keduanya dengan Tiongkok, bukan karena rindu hujan. Lasem juga memiliki motif batik watu pecah dan Tegal bermotif beras mawur keduanya bermakna ungkapan protes pada Belanda. Batik Papua terinspirasi pada tifa, alat musik berbentuk genderang mini. Jika di Jateng tercatat 30 Kab/Kota yang memiliki industri batik (dari 35 Kab/Kota) berjumlah 13.352 unit sebagai pertanda bergeliatnya minat terhadap batik. Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film, Depbudpar RI membentuk forum komunitas batik yang berperan memfasilitasi komunikasi dan kerja sama antara spektrum komunitas batik dengan pemerintah dan swasta. 

Meskipun Malaysia telah mematenkan batik, keberadaan batik kita tetap eksis dan nominator daftar representatif warisan budaya tak benda-Unesco (Representative List of Intangible Cultural Heritage-Unesco). Konsekeunsinya pemerintah harus merespon keluhan produsen batik kaitannya dengan langkanya bahan baku berupa minyak tanah untuk memasak lilin atau malam dan perlunya disegerakan pematenan hak batik. Jika batik dijadikan menu pembelajaran (kurikulum) perlu penegasan aspek yang ditonjolkan meliputi fungsi, landasan, dan model. Fungsi kurikulum yang berkaitan dengan batik adalah kurikulum sebagai reproduksi kultural untuk mengidentifikasi skill, pengetahuan, dan apresiasinya. Landasan kurikulum mengacu pada filsafat/cita-cita hidup, kondisi sosial, realitas kebudayaan dan peradaban, dan perkembangan siswa. Adapun model kurikulum meliputi humanistik (memuaskan setiap individu dalam mengaktualisasikan potensi dirinya), rekonstruksi sosial (menyesuaikan kebutuhan sosial, baca: lapangan kerja), teknologi (responsif pangsa pasar), dan akademik (mengembangkan pola pikir). 

Jika ketiga hal tersebut didalami secara utuh, keberhasilan lulusan terdidik akan menggapai lorong pekerjaan, sekaligus tercipta kesejahteraan. Kepedulian terhadap karya budaya leluhur berbentuk karya seni, karya sastra, maupun karya kriya atau karya adibusana merupakan ciri generasi berbudi. Kepedulian tersebut mulai dari bangga menjadi pengguna karya budaya, hingga memahami makna budaya yang tersimpan di dalamnya. Optimalnya batik berdampak meningkatnya kesejahteraan rakyat yang menjadi kinerja pemimpin yang ngayomi. 

Pemimpin yang demikian, dalam Islam wajib ditaati kepemimpinannya yang nguwongke wong dalam bentuk terciptanya kemaslahatan. Prinsip dasarnya “Sesungguhnya Kami (Allah) benar-benar menguji kamu agar Kami (Allah) mengetahui orang-orang yang berjuang dan bersabar di antara kamu agar Kami (Allah) menyatakan (baik-buruknya) hal ihwalmu” (Surat Muhammad:31). Semoga pemimpin kita dirahmati-Nya karena peduli pada wong cilik. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →