Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Ketoprak Tak Boleh Gunakan Mercon



Reporter:    /  @ 02:34:27  /  31 Oktober 2014

    Print       Email

Anak-anak menonton pertunjukan ketoprak langsung di atas panggung. Pertunjukan ketoprak tak boleh gunakan mercon, karena berbahaya. Terutama penonton anak-anak yang sering menonton dari atas panggung.

PATI – Pascainsiden ledakan mercon dalam pertunjukan ketoprak Wahyu Budoyo, di Desa Mojoagung, Kecamatan Trangkil, kepolisian memperketat pengawasan bahan peledak, termasuk mercon. Ketoprak tak lagi boleh menggunakan mercon, untuk mendukung efek suara dalam pertunjukan.

Apalagi dalam insiden itu, satu balita meregang nyawa, dan tujuh lainnya mengalami luka bakar akibat ledakan. Bahkan dari tujuh korban luka itu, lima di antaranya merupakan anak-anak.

Dari pantauan Koran Muria, pertunjukan ketoprak di beberapa tempat setelah peristiwa itu, tak lagi menggunakan mercon. Efek suara ledakan untuk membuka pertunjukan ketoprak dan saat adegan perang, diganti dengan efek suara elektronik dari komputer.

Kasat Intelkam Polres Pati AKP Sugeng Dwi Haryanto menjelaskan, penggunaan mercon atau bahan peledak lainnya harus berizin. Menurut dia, bahan peledak tak diizinkan digunakan pada pagelaran kesenian, termasuk ketoprak.

”Penggunaan petasan dalam bentuk apapun tidak diizinkan. Larangan penggunaan petasan juga berlaku pada pementasan kesenian. Yang diperbolehkan, hanya untuk pertambangan, karena memang ada izinya secara khusus,” katanya, kemarin.

Hal yang sama juga berlaku untuk penggunaan kembang api, meskipun lebih lunak. Menurut dia, kembang api yang mengandung petasan dan meledak di tanah tak diizinkan. Selain itu, peredaran kembang api juga mendapat pengawasan khusus.

”Perizinan penjualan kembang api juga tidak sembarangan. Karena berdasarkan ukuranya ditangani polda dan Mabes Polri. Semisal ukuran kurang dari dua inci, itu perizinanya di polda, sedangkan ukuran lebih dari dua inci, izinya di Mabes Polri,” imbuhnya.

Menurut dia, bahan peledak jenis petasan biasanya didapatkan di toko kimia di luar kota. Karena dari hasil pendataan yang dilakukan polisi, di Pati tak ada toko yang menjual bahan-bahan peledak tersebut.

Menurut dia, sesuai UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951, kepemilikan bahan peledak, termasuk petasan dalam jumlah besar bisa dikenai hukuman maksimal 20 tahun penjara. (Syamsul Falak / Ali Muntoha)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →