Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Harga Anjlok, Petani Garam Alih Profesi



Reporter:    /  @ 02:19:32  /  31 Oktober 2014

    Print       Email

GROBOGAN – Sejumlah petani garam di kawasan Bledug Kuwu beralih profesi menjadi buruh tani akibat harga garam anjlok. Sejak beberapa pekan terakhir, harga garam lokal di tingkat petani Rp 4.000 per kilogram, padahal sebelumnya Rp 5.500 per kilogram.

”Selain itu, kondisi cuaca yang kurang mendukung menyebabkan proses pembuatan garam Bledug Kuwu menjadi tidak optimal. Kualitas hasil produksi juga tidak maksimal seperti saat cuaca normal,” ujar salah seorang petani garam Slamet di Desa Grabagan, Kecamatan Kradenan, kemarin.

Menurut dia, sejak beberapa pekan terakhir panas matahari mulai berkurang atau sering mendung, bahkan beberapa kali turun hujan. Sehingga menganggu proses penjemuran butiran garam yang berasal dari letupan lumpur Bledug Kuwu. Karena proses penjemuran air asin memakan waktu sekitar lima-enam jam langsung di bawah terik matahari.

”Bagi petani yang khawatir merugi karena cuaca tidak mendukung, terpaksa beralih pekerjaan menjadi buruh tani, bangunan, atau serabutan. Karena kebutuhan ekonomi setiap hari harus tetap terpenuhi,” ujarnya. 

Menurut petani garam lainnya Sholeh (42), dahulu hampir seluruh tepian Bledug Kuwu yang luasnya mencapai 45 hektare, dipenuhi bangunan sederhana tempat pembuatan garam. Kini, hanya tinggal beberapa orang saja petani garam yang masih setia dan tekun dengan profesinya.

”Meskipun harga anjlok namun tidak berpengaruh terhadap permintaan garam Bledug Kuwudari dari pelanggan. Bahkan para pembeli biasanya mendatangi langsung lokasi produksi langsung,” katanya.

Selain sebagai obyek wisata alam, Bledug Kuwu dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai lahan pembuatan garam. Air garam yang menyertai setiap letupan lumpur dialirkan ke sebuah tempat penampungan berbentuk kolam. Dari kolam penampungan ini, air asin itu kemudian ditempatkan di bilah bambu dan dijemur di bawah terik matahari.

Kristal garam yang berasal dari air Bledug Kuwu, lebih halus dibanding kristal garam air laut. Warnanya pun lebih putih. Kandungan salinitas telaga lumpur di Bledug Kuwu mencapai delapan persen, sementara air laut umumnya hanya tiga persen. Karena itu, garam produksi Bledug Kuwu lebih gurih, dibanding garam biasa. Garam ini konon menjadi favorit para juru masak Keraton Kasunanan Surakarta tempo dulu. (Sumarni)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →