Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Pati dan Rembang Penyuplai Garam Terbesar



Reporter:    /  @ 02:13:59  /  31 Oktober 2014

    Print       Email

Petani mengumpulkan garam di tambak. Petani di Jateng masih menggunakan cara konvensional untuk memroduksi garam, hanya sedikit yang menggunakan rekayasa geo membran. (ANTARA / Dedhez Anggara)

KOTA SEMARANG – Dua daerah di Jateng bagian timur, yakni Pati dan Rembang masuk dalam 10 besar daerah pemroduksi garam terbesar di Indonesia. Beberapa kelompok petani garam di dua daerah tersebut juga telah menerapkan teknologi geo membran dalam memproduksi garam.

”Kabupaten Pati dan Rembang masuk dalam 10 besar kabupaten penyumbang terbesar produk garam nasional,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jateng Edison Ambarura, dikutip Antara, Kamis (30/10).

Dijelaskannya, potensi lahan untuk garam di Jateng seluas 10.452,8 hektare. Namun hingga saat ini yang sudah dioptimalkan untuk produksi garam baru seluas 7.356,63 hektare. Sementara jumlah petambak garam sekitar 15 ribu orang. 

Secara nasional, produksi garam Jateng pada 2013 memberikan kontribusi 30 persen dari total produksi garam nasional.

Menurut dia, mayoritas petambak garam di Jateng masih menggunakan cara konvensional. Baru sedikit yang menggunakan Teknologi Ulir Filter (TUF) dan geo membran.

Beberapa desa yang sudah menerapkan TUF dan geo membran di Jateng yakni, Desa Gajah Kumpul, Kecamatan Batangan, Pati; Desa Purworejo, Kecamatan Kaliori, Rembang; Kedungmalang, Jepara; Sawojajar, Brebes; dan Berahan Kulon, Demak.

Menurut dia, penerapan teknologi geo membran perlu ditingkatkan. Agar petambak mampu memproduksi garam dengan jumlah besar dan mutu yang baik.

”Rekayasa geo membran itu penting karena terbukti kuantitas dan kualitas garam meningkat. Ini perlu didorong lagi supaya para petambak bersemangat mau menerapkan geo membran,” terangnya.

Menurut dia, ada beberapa hambatan yang dihadapi industri garam di Jateng. Di antaranya kesadaran dan kemampuan petambak garam masih rendah, dan peralatan produksi kurang memadai.  Selain itu, juga terbatasnya SDM yang memiliki kemampuan memadai, harga garam rakyat masih jauh di bawah harga patokan dan terbatasnya akses permodalan.

”Intinya problem ada pada lemahnya SDM, peralatan dan permodalan,” tukasnya. (Ali Muntoha)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →