Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Dilema dan Problematika Medsos



Reporter:    /  @ 02:09:12  /  31 Oktober 2014

    Print       Email

Oleh : Nurul Hidayati Yunaida

Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

 

Di era yang serba berkembang ini, seolah-olah mengubah mindset generasi muda. Majunya teknologi, cepatnya informasi menjadikan anak-anak muda berpikir secara instan. Semua serba mudah dengan adanya teknologi. Namun, tak menutup kemungkinan dengan adanya kemajuan tersebut akan selalu berdampak positif bagi mental anak, terutama bagi anak muda zaman sekarang. Anak muda sekarang seolah-olah dimanjakan oleh media sosial (medsos). 

 

Adanya kemajuan media seakan-akan mempengaruhi kebiasaan anak-anak muda zaman sekarang. Bayangkan jika zaman dulu anak muda selalu memanfaatkan permainan tradisional bersama dengan teman-temannya, tapi sekarang adanya media sosial mereka tinggal download aplikasi permainan dan melakukannya sendiri. Bahkan permainan tradisional malah dianggap kuno. Inilah perilaku nyata saat ini. Seolah-olah akan berdampak pada sikap individualis anak dan kurangnya komunikasi anak terhadap lingkungan sekitar. Sehingga yang muncul  adalah sikap acuh tak acuh. 

Bahkan pernah sering kita mendengar perilaku seksual, tawuran antarpelajar, penghinaan murid dengan guru di medsos, yang pelaku-pelakunya adalah anak muda yang menjadi korban penyalahgunaan medsos. Media yang seharusnya digunakan untuk pembelajaran positif, kini malah disalahgunakan begitu saja tanpa adanya filter untuk menyaring mana yang baik dan mana yang buruk. Maka perlu diberikan bekal yang memadai bagi anak pengguna medsos. Terlebih dengan pengetahuan dan karakter didik anak. 

Inilah yang perlu dengung-dengungkan sejak awal perkembangan anak. Dimulai dengan karakter yang bagus, dengan mengajarkan perbedaan antara hal yang baik dan buruk itu pun akan mempengaruhi perilaku anak. Sehingga dalam menggunakan media sosial pun tidak asal-asalan mengumpat, menggunjing seenaknya yang akan memicu terjadinya konflik sosial. Seperti yang pernah terjadi sebelumnya yakni pada konflik antar beda suku, ras dan agama hanya gara-gara kesalahpahaman memahami status di medsos. 

Perkara sepele saja berupa umpatan, gunjingan, penghinaan pun akan dinilai negatif bagi pembaca di medsos. Bahkan tak seharusnya pula kita meluapkan  kekesalan, kekecewaan atau bahkan pernyataan frustasi dengan menjelek-jelekkan orang / kaum di media sosial. Inilah yang perlu diwaspadai dan perlu dipikirkan lebih dalam lagi sebelum mengutak-atik kalimat di media sosial. Perlu dipilah-pilah mana yang baik dan mana yang buruk untuk kedepannya. Terlebih, kehidupan kita saat ini dipengaruhi oleh dua dunia, yakni dunia nyata dan dunia maya, yang selalu mendewa-dewakan teknologi. 

Perkara sedikit saja di dunia maya akan menjadi beban pikiran, bahkan menggemparkan publik. Seperti kasus yang sering terjadi di Indonesia yang hanya mencela sedikit saja di medsos dinilai mencemarkan nama baik sampai harus menanggung beban di ranah pengadilan. Padahal perkara yang dicela pun adalah perkara yang sepele untuk dipikirkan. Maka perlu diwaspadai sebelumnya, sebelum berkata perlu dipikirkan terlebih dahulu. Jangan sampai yang  kau katakan di media sosial menjadikan pisau bagi dirimu sendiri. Sebab suara media, terdengar di seluruh pelosok negeri.  (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →