Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini

Butuh Replika Manusia Purba



Reporter:    /  @ 01:41:44  /  30 Oktober 2014

    Print       Email

KUDUS – Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta berniat untuk mendatangkan replika fosil manusia purba homo erectus yang pernah ditemukan di Situs Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, agar bisa dipamerkan di Museum Patiayam. Ini untuk menjawab rasa penasaran dari pertanyaan banyak pihak, apakah memang ada manusia purba di situs tersebut.

Kepala Balar Siswanto mengatakan, tahun 1979 lalu, Dr Yahdi Yaim dari Geologi Institut Teknologi Bandung, telah menemukan tujuh fragmen atau pecahan tengkorak manusia jenis homo erectus. ”Sekarang ini, fragmen itu disimpan dengan rapat di Bandung. Di masukkan dalam brankas, kemudian ditaruh di ruangan, dan ruangannya ditutup rapat. Sehingga tidak ada yang bisa membukanya,” tuturnya saat ditemui Koran Muria, di lokasi ekskavasi yang dilakukan Balar di Situs Patiayam, kemarin (29/10).

Temuan itu, menurut Siswanto, menjadi sangat penting dan terkait erat dengan apa yang dilakukan saat ini. Yakni mencari kembali jejak manusia purba di lokasi itu. ”Kami sepekan lalu sudah melakukan ekskavasi untuk menelusuri fosil manusia purba. Hanya saja, memang belum kami temukan sampai sekarang. Meski lokasi yang kami gali, adalah lokasi yang sama dengan lokasi penemuan dari Dr Yahdi Yaim dulu,” paparnya.

Siswanto mengatakan, banyak sekali memang pertanyaan dan keinginan yang disampaikan kepada dirinya, untuk bisa membawa kembali temuan fragmen tengkorak manusia itu ke Museum Patiayam. Sehingga akan menjadikan bukti bahwa memang ada jejak manusia purba di Situs Patiayam.

”Pak kepala desa juga menyampaikannya kepada kami. Hanya saja, ini soal keamanan dari temuan itu, ya. Karena fosil itu menjadi sangat berharga sekali nilainya. Sementara situasi Museum Patiayam, masih bisa dibilang seadanya. Namun, kami sudah berbicara kepada pihak yang mengurus fosil itu di Bandung. Setidaknya, kami mohon supaya replikanya bisa dibawa Kudus untuk diperlihatkan. Sehingga akan menjadi satu tambahan koleksi yang berharga untuk bisa dilihat,” terangnya.

Hingga sepekan penggalian, tim dari Balar menemukan adanya tiga fase pengendapan. Yakni fase tua, tengah, dan muda. Diprediksi, jejak manusia purba itu ada di fase tua, tepatnya di lokasi Dukuh Kancilan. Namun, sejauh ini hanya fragmen-fragmen binatang purba yang baru terlihat. ”Hanya saja, nanti tahun depan, kami akan kembali lagi. Setelah meneliti hasil temuan yang ada, untuk memastikan lagi di mana tepatnya ”kuburan” manusia purba itu ada,” katanya.

Upaya Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta untuk bisa menemukan jejak manusia purba itu sendiri, terkendala sejumlah hal. Salah satunya karena tidak leluasa dalam membuka lahan eksplorasi. Siswanto mengatakan, lahan yang dibuka untuk eksplorasi kawasan Patiayam, memang terbatas. ”Ini kan, kebanyakan tanah milik Perhutani. Jadi kita tidak bisa untuk membuka lahan secara luas. Terbatas memang,” jelasnya saat ditemui di Museum Patiayam, kemarin (29/10).

Termasuk juga, menurut Siswanto, banyaknya tanaman yang ditanam penduduk, juga menjadi salah satu hambatan. Sehingga jika ingin membuka lahan yang luas, harus terlebih dahulu disesuaikan dengan kondisi tanam dan panen petani. (Merie)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →