Loading...
You are here:  Home  >  Seni & Budaya  >  Artikel ini

Hasil Uji Lab BLH Blora Dikecam



Reporter:    /  @ 02:24:02  /  29 Oktober 2014

    Print       Email

Tim BLH Blora saat mendatangi pabrik gula GMM beberapa waktu lalu, untuk mengetahui ada tidaknya pencemaran limbah. Sampel air yang dikirim ke BLH Jateng, hasilnya belum diumumkan ke publik. (KORAN MURIA )

BLORA – Hasil uji laboratorium yang berisi tentang keterangan dugaan pencemaran limbah di Waduk Bentolo diragukan warga. Sehingga, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Blora mendapat kecaman dari warga, karena diduga menyembunyikan fakta yang sebenarnya. Sebelumnya, BLH Blora menelurusi dugaan pencemaran limbah dari pabrik gula Gendhis Multi Manis (GMM).

”Semestinya, hasil uji lab itu diumumkan ke publik, agar masyarakat tahu ada pencemaran atau tidak. Padahal, uji labnya sudah dilakukan lebih dari satu bulan yang lalu,” kata anggota DPRD Blora asal Todanan, Subroto, kemarin.

Subroto mengatakan, warga sekitar Waduk Bentolo sudah seharusnya berhak tahu atas hasil uji lab tersebut yang dilakukan BLH Blora. Sebab, jika terjadi sesuatu, maka warga sekitar yang akan menanggung akibatnya. Karena, sampai saat ini, pabrik gula yang ada di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan itu mengklaim jika pabriknya tidak melakukan pencemaran. 

”Warga justru curiga, mengapa BLH tak berani mengumumkan hasilnya. Jangan-jangan BLH sudah kongkalikong dengan GMM,” tegas politisi PDIP tersebut.

Direktur Lingkar Blora Seno Margo Utomo menambahkan, sikap BLH Blora yang terkesan menutupi hasil uji lab dinilai menyesatkan. ”Apa benar sudah dilakukan uji laboratorium, jangan-jangan tidak ada. Kalau ada, kenapa hasilnya tidak dipublikasikan,” ujarnya.

Menurutnya, jika BLH Blora tidak mau membeber hasil uji laboratoriumnya, maka masyarakat bisa meminta laboratorium independen yang terpercaya untuk melakukan uji laboratorium sendiri. Sehingga, hasilnya lebih bisa dipertanggungjawabkan, daripada menggunakan lembaga pemerintah yang arahnya justru membela pabrik. 

”Lembaga saya bisa melakukan uji laboratorium itu, dengan menggandeng pihak independen. Coba nanti kita bandingkan hasilnya,” tantang Seno.

Diketahui, warga Desa Tinapan, Kedungwung dan sekitarnya di Kecamatan Todanan mengeluhkan adanya limbah dari pabrik gula GMM. Limbah itu diduga masuk ke sumber air milik warga, sehingga membuat air berubah menjadi berwarna kemerahan dan berbau tak sedap. Semua itu dimulai, sejak pabrik gula mulai giling pada awal Juni lalu. (Aries Budi)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →