Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Merekonstruksi Semangat Pemuda



Reporter:    /  @ 02:17:49  /  29 Oktober 2014

    Print       Email

Oleh : Mochamad Widjanarko, Staf Pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus

 

Di zaman sekarang, siapa yang tidak kenal televisi ?  Sosok barang elektronik ini telah menyeruak kemana-mana, menghilangkan batas geografis yang ada,  di kota, di desa, di pegunungan,  di  Indonesia dan  di dunia.  Semua orang telah bisa menikmati fungsi ajaibnya, menonton  siarannya  dan  setiap  keluarga  nyaris memilikinya. 

 

Walaupun, kehadirannya dalam masyarakat modern diwarnai oleh penerimaan dan penolakan sekaligus. Televisi bukanlah lagi sekadar fenomena teknologis. Bagi masyarakat  modern sekarang ini, televisi juga merupakan fenomena sosiologis, politis, ekonomis, psikologis dan  kultural yang terpenting, ada dan hadir  di abad ke 20. Keberadaan televisi  secara intens  telah diproyeksikan sebagai media yang paling lengkap dalam menggabungkan  dan memadukan unsur suara dan gambar, sehingga kita acap kali menyebutnya:  “kotak ajaib”.  

Sebagai sebuah fenomena teknologis, televisi tidak terlepas dari dari revolusi informasi setelah  penemuan  mesin cetak oleh Gutenberg dan penemuan teknologi radio. Beberapa literatur menyebutkan bahwa awal teknologi televisi dimulai oleh Paul Nipkow dari Jerman pada  tahun 1884, ketika ia menemukan sebuah alat yang disebut sebagai jntra nipkow atau nipkow sheibe , di mana alat ini merupakan cikal bakal dari sistem televisi mekanik (Widjanarko dkk,  2006).

Rating dalam televisi merupakan proses supply dan demand, menjadi tolok ukur, suatu sistem yang digunakan untuk mengukur banyaknya penonton tanyangan dalam waktu minimum satu menit atau bahkan 17 detik. Rating selalu berurusan dengan jumlah (kuantitas) dan bahkan tidak pernah dipergunakan tolok ukur untu memperhitungkan mutu (kualitas) suatu tayangan atau motivasi yang mendasari pemirsa untuk menontonnya.

Di Indonesia, Nielsen Media Research (NMR) menjadi salah satu pemasok data rating televisi di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Makasar atau Palembang. Nielsen Media Research menerapkan metode perhitungan rating melalui penggunaan people-meter.  Alat ini mendeteksi frekuensi televisi yang menyala dan juga akan mendeteksi siapa yang menjadi penontonnya. People-meter merekam seluruh kegiatan menonton dalam hitungan menit.  Dari sini, informasi program yang ditonton, seperti judul, jenis waktu penanyangan dan sebagainya akan terdeteksi. Iklan yang disiarkan masing-masing stasiun televisi pun akan terdeteksi  selama  pesawat televisi dinyalakan dengan alat itu, dengan alat ini, angka rating seringkali diasumsikan sebagai perangsang bagi sejumlah iklan yang akan dipasang.

Iklan dalam televisi ibarat  darah yang menghidupi stasiun televisi swasta. Tanpa iklan, televisi stasiun swasta tidak akan beroperasi (Wirodono, 2005). Program-program yang dirancang oleh stasiun swasta dan ditawarkan kepada publik pemirsa sebenarnya merupakan siasat untuk mendapatkan pemasukan iklan sebanyak-banyaknya. Dalam keadaan seperti itu, wajarlah bila program-program yang berkembang pada saat ini adalah yang menawarkan banyak sensasi, kekerasan, gosip dan skandal. Tema-tema ini pula yang seringkali, secara sadar atau tidak, digemari dan ditunggu-tunggu oleh publik pemirsa. Semakin suatu program mampu menyedot banyak penonton, akan semakin tinggi rating program tersebut, dan semakin banyak memberikan pemasukan iklan.

Fakta sebenarnya inilah yang terjadi, televisi di Indonesia  telah menjadi sebuah arena tawar menawar antara publik pemirsa dan kepentingan kapitalisme yang bisa kita presentasikan diwakili oleh iklan. 

Menjadi ironis manakala generasi muda sekarang hanya ‘menjebakkan diri’ menjadi konsumen televisi dan media sosial yang hanya digunakan sekadar untuk mengubah diri menjadi individu yang merasa telah melakukan sesuatu, narsis dan sekadar untuk berkatarsis. 

Angkatan 20-an telah meletakkan pondasi dengan menggelar sumpah pemuda dalam situasi belum merdeka, angkatan ‘45 mengumandangkan proklamasi kemerdekaan, angkatan ‘66 membuat terobosan melawan gelombang orde lama dan angkatan ‘90 mendobrak kebekuan tirani, orde baru. Apa yang bisa dilakukan angkatan selanjutnya? Apakah remaja atau pemuda sekarang mengalami degradasi moral dan tidak lagi memiliki rasa nasionalis?

Tidak semua generasi muda yang diwakili remaja kita, tidak memiliki prestasi apa-apa. Berita metronews.com 23 Oktober lalu menginformasikan, remaja Indonesia menjadi juara umum olimpiade matematika dan sains, the Wizards at Mathematics International Competition (WIZMIC) 2014, di Lucknow, India. Indonesia meraih delapan medali emas, lima medali perak, dan tiga medali perunggu dalam kejuaraan yang digelar 18-21 Oktober 2014.

Ini hanya sedikit prestasi yang ditorehkan remaja Indonesia, yang lainnya tidak terpublikasi, kalah dengan berita politik dan selebritis. Contoh-contoh positif lainnya, yang dicatatkan oleh Gayatri Wailissa, remaja yang bisa 14 bahasa asing (polyglot), selain mahir berbahasa asing, Gayatri menguasai masalah lingkungan, perdamaian dan persoalan remaja,  hanya sayang meninggal muda belum lama ini.       

Contoh lain, dalam kegiatan alam ada  empat anak muda yang tergabung dalam Mahitala (Mahasiswa Parahyangan Pencinta Alam) yaitu Sofyan Arief Fesa, Xaverius Frans, Janatan Ginting dan Broery Andrew Sihombing telah menorehkan sejarah, bukan karena keinginan untuk menjadi orang nomer satu Indonesia dalam menggapai tujuh puncak dunia atau the seven summiteers tetapi lebih dalam lagi, ini aktivitas nyata yang bisa diberikan anak muda Indonesia dengan penuh semangat nasionalisme untuk mengangkat nama Indonesia di dunia dan menumbuhkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa Indonesia.

Pelaksanaan pendakian tujuh puncak dunia yang dikenal dengan ‘seven summits’ ini bukan secara tiba-tiba tanpa jadwal, rencana yang tidak jelas tapi aktivitas tersebut dilakukan dengan sangat cermat, teliti dan penuh risiko. Keempatnya berangkat membawa bendera Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Universitas Parahyangan (ISSEMU) yang telah diawali dengan mendaki puncak Cartensz Pyramid (4.884 m) di Papua pada tanggal 26 Februari 2009, kemudian Kilimanjaro (5.895 m) di Tanzania pada 10 Agustus 2010, puncak Elbrus (5.642 m) di Rusia pada 24 Agustus 2010, puncak Vinson Massif (4.897 m) di Antartika pada 13 Desember 2010, puncak Aconcagua (6.962 m) di Argentina pada 9 Januari 2011, puncak Everest (8.848 m) di Nepal pada tanggal 20 Mei 2011 dan menyelesaikan ke tujuh puncak di Denali (6.194 m) di Alaska, Amerika Serikat pada tanggal 7 Juli 2011.

Perjalanan dalam menorehkan diri menjadi orang pertama yang menggapai tujuh puncak dunia pertama di Indonesia dan tercatat sebagai tim mahasiswa termuda Indonesia pertama yang melakukan ekspedisi di Antartika, tidaklah mengurangi rasa hanya untuk berbangga diri tetapi telah mengajarkan tim untuk selalu belajar, dengan alam, orang lokal, alat-alat ekspedisi, bahan-bahan bacaan mengenai gunung yang akan di daki dan juga dengan pemandu yang berpengalaman mendaki gunung-gunung ekstrem di dunia.    

Perilaku nyata yang dilakukan oleh anak muda ini, bisa dijadikan contoh oleh banyak generasi muda bangsa Indonesia yang acap kali ‘hanya’ berpikir instan, hedonistik dalam kehidupannya serta tidak lagi menghargai sebuah kebersamaan. Setidaknya para generasai muda Indonesia bisa tergugah untuk melakukan hal-hal kecil dalam tindakannya untuk menjadi yang terbaik, misalnya, tidak hanya turun naik gunung saja dengan menikmati pemandangan alam atau kepuasan diri sendiri saja tetapi bisa lebih mengaktualkan diri dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan sosial, menggali potensi sosial masyarakat yang ada di sekitar gunung yang didaki, mengidentifikasi keanekaragaman hayati, kearifan lokal  yang ada di masyarakat, yang tentunya akan berguna untuk pengembangan masyarakat di sekitar gunung. 

Atau dengan mencatat perjalanan yang dilakukan dan menginformasikan ke publik, agar orang yang akan melakukan perjalanan serupa dengan mudah mendapatkan akses informasi tersebut, hal ini nantinya akan sangat berguna untuk pengembangan wisata desa dalam konteks pengembangan ekowisata berbasis masyarakat lokal. Jika kesulitan mencatat, maka tindakan yang lebih mudah lagi adalah tidak melakukan coret-mencoret dan meninggalkan sampah pembungkus makanan atau minuman di lokasi yang dituju. 

Saya yakin generasi muda bangsa kita akan lebih menghargai dan menghayati budaya, alamnya sendiri jika sudah pernah menelusuri, menjelajahi tempat tersebut. Inilah salah satu yang bisa dilakukan generasi muda untuk menumbuhkan nasionalime, cinta tanah air, Indonesia. 

Pada kesempatan langka dan waktu yang berbeda, secara serius saya bertanya pada anak usia SMP, apa arti sumpah pemuda bagi dirinya, jawabannya  ‘Membangkitkan rasa nasionalisme anak muda yang banyak hilang karena globalisasi”. Apa yang bisa kamu lakukan? Belajar dengan giat karena anak muda adalah pemimpin bangsa di masa depan. Bagaimana caranya?  kecuali dengan belajar, harus jujur, mengerjakan pekerjaan rumah dan disiplin, tidak membolos sekolah. Kecuali itu, saya suka menonton bola dari klub luar negeri, tapi kalau kesebelasan nasional kita main, saya juga menonton, senang dan bangga kalau menang. Saya juga menyukai musik dari Indonesia, bukan yang K-pop. Saya seperti pelajar yang lain, suka bermain game dalam komputer tetapi hanya di hari libur atau tidak ada pelajaran.  

Banyak versi lain, yang bisa kita tangkap. Bagaimana anak muda di sekeliling kita memaknai Sumpah Pemuda. Artinya di sekeliling kita perlu terus menerus di gemakan dan diaplikasikan kebanggaan dalam diri bahwa generasi muda harus belajar memahami kehidupan dan mengetahui bahwa negara kita memiliki kekayaan sumber daya alam dan budaya yang beragam dan tidak kalah dengan luar negeri, generasi muda  yang nantinya akan bekerja sesuai dengan profesi dan keminatan serta keahlian akan mengelola dan menjaganya dengan bijak dan adil. Tentu saja, dengan perilaku yang peduli dengan sesama dan bertanggungjawab. Setuju ? (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →