Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini

13 Sisa Lahan Logung Sudah Deal



Reporter:    /  @ 02:54:44  /  28 Oktober 2014

    Print       Email

KUDUS – Upaya untuk bisa segera membangun Waduk Logung, tampaknya semakin mendekati kenyataan. Sebanyak 13 sisa bidang lahan milik warga yang sebelumnya masih ada kendala, kini sudah tersepakati dengan pemiliknya.

Ke-13 bidang lahan itu adalah milik warga Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, dan Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo. Keduanya adalah desa di mana menjadi lokasi utama pembangunan Waduk Logung.

Panitia pembebasan lahan Waduk Logung memang terus melakukan komunikasi dan pendekatan kepada warga pemilik 13 lahan tersebut. Sebelumnya, dari total 498 bidang lahan di Kandangmas dan 199 bidang lahan di Tanjungrejo yang dibutuhkan untuk pembangunan Logung, masih menyisakan 83 bidang lahan di Kandangmas dan 12 bidang di Tanjungrejo.

Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (Cipkataru) Didik Tri Prasetyo melalui Kasi Pertanahan Edi Suprapto mengatakan, pihaknya sudah sepakat atau deal dengan warga pemilik 13 bidang lahan tersebut. ”Kami terus menjalin komunikasi dan pendekatan, supaya pembangunan waduk ini bisa segera dilaksanakan,” ujarnya.

Warga pemilik lahan, menurut Edi, sudah setuju untuk melepaskan lahannya. Mereka juga akan segera mendapatkan ganti rugi. ”Paling cepat, kami rencanakan pembayaran ganti rugi akan kami lakukan pada pekan ini juga,” terangnya.

Sebenarnya, sebagaimana dikatakan Edi, ada 19 bidang lahan yang harusnya dibebaskan demi kepentingan Waduk Logung. Namun dalam perjalanannya, saat diurus administrasinya, ternyata sebanyak 6 bidang lahan tidak ada sertifikat kepemilikan lahan. Sehingga tinggal 13 lahan yang dibebaskan. ”Namun, kami sudah meminta mereka yang tidak punya sertifikat, untuk mengurusnya ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). Setelah semuanya lengkap, maka kami akan langsung membayar mereka,” katanya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Cipkataru Didik Tri Prasetyo menambahkan, sebenarnya total kebutuhan lahan untuk dimulainya pembangunan Waduk Logung sendiri, adalah seluas 196 hektare. Namun, pihaknya terus melakukan pendekatan kepada warga. ”Terutama yang belum bersedia membebaskan lahannya. Pendekatan ini dilakukan, supaya warga bersedia membebaskan lahannya. Sebelum nanti akhirnya, jika sudah mentok, maka cara konsinyasi akan dilakukan,” paparnya.

Konsinyasi, menurut Didik, adalah jalan terakhir bagi upaya pembayaran ganti rugi Waduk Logung ini. Hal tersebut dilakukan, jika sampai batas waktu pembebasan lahan, warga tidak mau menerima kompensasi harga tanah yang diberikan oleh pemerintah. ”Itu sudah jalan terakhir. Tapi kita akan lakukan dulu pendekatan dan koordinasi dengan warga,” imbuhnya.

Di samping soal pembebasan lahan, menurut Didik, pihaknya juga tengah menyelesaikan proses tukar guling lahan milik Perhutani seluas 35 hektare. Prosesnya saat ini tinggal menunggu persetujuan dari Kementerian Kehutanan. Termasuk lahannya tukar guling juga diantara ke rumah. ”Kami telah menyediakan lahan pengganti di tiga desa. Yakni Desa Wonosoco, Klaling, dan Tanjungrejo,” katanya. (Merie)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →