Loading...
You are here:  Home  >  Politik & Pemerintahan  >  Artikel ini

Pelihara Musang, Tak Sekadar Hobi dan Tren



Reporter:    /  @ 02:26:54  /  28 Oktober 2014

    Print       Email

Musang adalah nama umum bagi sekelompok mamalia pemangsa (bangsa karnivora) dari suku Viverridae. Hewan ini kebanyakan merupakan hewan malam (nokturnal) dan pemanjat yang baik. 

Yang paling dikenal dari berbagai jenisnya adalah musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus). Musang ini biasa hidup di dekat pemukiman, termasuk perkotaan. Jika anda tinggal disekitar lingkungan yang masih asri dalam arti masih banyak pepohonan, perkebunan dekat dengan sungai anda pasti pernah menjumpai binatang musang ini.

Musang bertubuh sedang, dengan panjang total sekitar 90 cm (termasuk ekor, sekitar 40 cm atau kurang). Abu-abu kecoklatan dengan ekor hitam-coklat mulus.

Sisi atas tubuh abu-abu kecoklatan, dengan variasi dari warna tengguli (coklat merah tua) sampai kehijauan. Jalur di punggung lebih gelap, biasanya berupa tiga atau lima garis gelap yang tidak begitu jelas dan terputus-putus, atau membentuk deretan bintik-bintik besar. Sisi samping dan bagian perut lebih pucat. Terdapat beberapa bintik samar di sebelah menyebelah tubuhnya. 

Fajar (21) sebagai ketua komunitas Muria Musang Club (MMC) mengatakan, dahulu binatang Musang ini sering diburu karena dianggap menyusahkan para petani dan peternak. Ada yang diburu untuk diambil kulitnya. Sampai saat ini perburuan musang masih terjadi, walaupun tidak sesering dulu. Berbagai komunitas hewan peliharaan yang ada di Indonesia, mencoba melestarikan kehidupan musang, sehingga mereka tetap bisa eksis tanpa harus diburu.

”Komunitas pecinta musang mulai berdiri seperti yang saya tahu sudah ada komunitas online di www.kaskus.com. Mereka mencoba memperkenalkan hewan ini, sebagai hewan peliharaan yang lucu dan juga aktif. Juga ada komunitas resmi atau bisa dibilang pusatnya, yaitu Musang Lovers Indonesia yang bertempat di Jakarta,” jelasnya.

Awal mula ketertarikannya memelihara musang adalah, ketika ia memiliki hobi berburu dengan senapan angin. Kemudian ia bertemu dengan seorang teman dalam perburuan itu, yang tak lain juga sebagai anggota komunitas pecinta musang yang berada di Jakarta.

”Saya bertemu om Yogi Eka Kurniawan (30), kemudian banyak ngobrol dan dia mengarah pada hewan musang. Saya juga tertarik untuk memelihara musang, dengan kata lain menyelamatkan dari perburuan liar. Kebanyakan peburu menembak mati sang musang. Jadi secara terus menerus jika hal itu dilakukan maka populasinya akan berkurang,” paparnya.

Setelah banyak sharing dengan Yogi, akhirnya mereka berdua sepakat untuk membentuk sebuah komunitas pecinta musang di Kudus. Berawal dari ide Yogi Eka Kurniawan itulah, akhirnya pada 1 September 2012 Muria Musang Club (MMC) resmi dibentuk. 

Kini MMC telah berusia dua tahun. Yogi yang berprofesi sebagai seorang pengajar di SMK 1 Kudus dan telah berkeluarga itu, mempercayakan kepada Fajar dan teman-temannya untuk melanjutkan visi misi komunitas MMC.

Kini Yogi yang juga sebagai salah satu pendiri Musang Lover Indonesia yang berpusat di Jakarta, menjadi pembina MMC dan Fajar sebagai ketua MMC. Fajar pun mengajak teman SMA nya Feri yang dijadikan sebagai wakil ketua, memiliki inisiatif untuk lebih meramaikan Kudus, dengan aktifitas positif dalam klub pecinta musang.

”Pulang dari Yogyakarta, karena kuliah di sana, saya ketemu komunitas reptile, yang sudah aktif terlebih dahulu dengan anggota yang solid dan banyak. Belajar dari sana bagaimana membangun komunitas. Akhirnya kami memulainya lewat sosmed, gathering tiap Minggu pagi di Alun-alun Kudus. Banyak respon masyarakat yang bertanya tentang adopsi, bagaimana cara gabung, meski pada akhirnya bongkar pasang anggota,” terangnya.

Ia menambahkan, terjadinya pasang surut anggota itu dikarenakan banyak faktor. Di antaranya yang musangnya hilang atau mati. Sehingga ia enggan untuk gabung lagi. Padahal, dari teman-teman komunitas siap membantu segala kesulitan tiap-tiap anggota MMC.

”Saya berfikir pelestarian itu tidak harus membutuhkan modal besar atau suatu komunitas yang besar. Namun dengan niat, fokusm, dan curahan kasih sayang yang menjadi hobi, kita bisa memulai sesuatu yang kecil untuk membuat suatu perubahan yang sedikit demi sedikit menjadi besar. Tentunya hobi memelihara hewan seperti musang, harus juga diiringi dengan tanggung jawab kita melestarikan hewan tersebut,” imbuh Fajar. (Titis Ayu)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →