Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Yang Muda Yang Indonesia



Reporter:    /  @ 02:23:27  /  28 Oktober 2014

    Print       Email

Oleh: Abdul Wahab

(Dosen/Kaprodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fak. Dakwah dan Komunikasi Unisnu Jepara)

 

 

“Aku telah diutus membawa agama yang murni yang mudah dipahami dan diamalkan, ternyata para pemuda yang mendukungku pada saat orang-orang tua menentangku ” (Sabda Nabi)

Sebuah ungkapan yang menggambarkan peran sentral pemuda dalam perjuangan dan pembangunan. Memang, pada waktu itu setidaknya terdapat 40 pemuda pelopor dalam kancah perjuangan dan perkembangan Islam, mereka antara lain Ali Ibn Abi Thalib, Umar Ibn al-Khaththab, Asma’ Binti Abi Bakr, Zaid Ibn Tsabit, dan lain-lain. Dengan kemurnian idealisme, keberanian, semangat pengabdian,  kreativitas dan inovasi, serta kobaran semangat, mereka tampil di garda depan perjuangan bersama Nabi yang mereka cintai untuk menggapai tersebarnya Islam yang rahmatan lil alamin. 

 

Dinamika sejarah kepemudaan juga terjadi di Indonesia, kita tentu masih ingat, bahwa  prakemerdekaan telah terjadi berbagai gerakan pemuda yang sangat inspiratif, bahkan telah dimulai sejak 1908. Sebut saja Budi Utomo, kemudian perkumpulan Tri Koro Dharmo (1917), sebuah perkumpulan yang anggotanya adalah anak-anak sekolah menengah yang berasal dari pulau Jawa, perkumpulan ini memiliki tiga tujuan mulia yaitu, Sakti, Budi, dan Bakti. Kemudian muncul Jong Java (1918) yang merupakan perubahan nama dari Tri Koro Dharmo yang dianggap masih terkesan berbau “kesukuan”. Setelah itu bermunculan Jong-Jong yang lain, seperti Jong Sulawesi, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Minahasa, dan lain-lain. Sampai pada 27-28 Oktober 1928 diadakan kongres pemuda II, yang tujuannya untuk mempersatukan segala perkumpulan pemuda Indonesia yang ada dalam satu badan perkumpulan dan pergerakan. Kongres ini menghasilkan sumpah pemuda yang berisi tiga sendi persatuan Indonesia, yaitu persatuan tanah air, bangsa, dan bahasa, yaitu Indonesia. Dan dalam kongres ini pula diperkenalkan lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan, dan bendera merah putih sebagai bendera pusaka bangsa Indonesia. Dan gerakan-gerakan pemuda ini berlanjut sampai masa Indonesia dan Indonesia baru (pra dan pasca reformasi) hingga saat ini tentunya.

Apabila kita mencermati dinamika gerakan dan perjuangan pemuda, memang seakan tiada habisnya, karena bnyak sisi yang harus ikut dilihat. Kita tentu merasakan bagaimana kemurnian dan keikhlasan perjuangan pemuda “masa lalu”, mereka rela mengorbankan apa saja yang mereka miliki demi terwujudnya kemakmuran dan kesejahteraan bangsa dan Negara yang mereka cintai, mereka rela melakukan apa saja demi persatuan, kesatuan, dan keutuhan tanah air yang mereka huni. Akan tetapi bagaimana dengan potret pemuda saat ini? Apakah kaum muda saat ini masih memiliki kemurnian gerakan dan perjuangan? Apakah mereka rela mengorbankan apa saja yang mereka punya demi terwujudnya kemakmuran dan kesejahteraan bangsa dan Negara? Atau bahkan sebaliknya, mereka “merampok” apa saja yang dimiliki oleh Negara demi kemakmuran dan kesejahteraan dirinya sendiri? Kalau dahulu para pemuda menggagas persatuan dan kesatuan bahasa, tumpah darah, dan bangsa yang satu melalui sumpah pemuda, apakah saat ini kaum muda berani bersumpah pemuda atau malah menjadi “sampah pemuda”?

Tentu kita di sini tidak sedang mengeneralisasi, karena bangsa kita masih memiliki ribuan bahkan jutaan pemuda yang berprestasi dan mengharumkan nama bangsa di kancah internasional, terdapat mereka yang berhasil menjuarai berbagai olimpiade sain internasional, berhasil mengelola lembaga pendidikan kerakyatan, sukses memberdayakan masyarakat melalui berbagai lembaga keuangan dan usaha lain, serta masih terlalu banyak prestasi pemuda yang terhampar di hadapan kita. Akan tetapi di sisi yang lain, kita masih saja melihat generasi muda kita terjangkit berbagai “virus” yang sangat mematikan eksistensi kemanusiaan. Hampir di segala ranah kasus, kita melihat pemuda ada di dalamnya. Di ranah kasus politik misalnya, kita menyaksikan tidak sedikit para politisi muda yang awalnya digadang-gadang menjadi pemimpin bangsa ini malah tersangkut berbagai kasus semisal korupsi, makelar kasus, dan problem hukum yang lain. Kemudian di ranah sosial, kehidupan hedonis masih mendominasi kaum muda kita. Seolah ada paradigma yang terbentuk bahwa pelajar menjadi “katro” tanpa tawuran, pacaran akan dianggap “kampungan” tanpa melakukan hubungan badan, mereka yang berdemonstrasi dan melakukan aksi-aksi lain dengan berbagai kedoknya, ternyata tidak sedikit yang ditunggangi oleh “kepentingan” kelompok pemodal tertentu, dan masih banyak lagi potret “buram” yang melibatkan kaum muda di dalamnya.

Kita memang patut resah menyaksikan kaum muda yang merasa gengsi dan tidak percaya diri apabila berkomunikasi menggunakan bahasa negerinya sendiri, tidak bangga dengan kultur bangsanya sendiri, dan tidak nyaman menghuni tanah airnya sendiri. Bagaimana mungkin Sumpah Pemuda yang selalu rutin kita peringati ini menemukan makna terdalamnya, apabila ternyata dalam praktik kehidupan sehari-hari pemuda kita lebih merepresentasikan bahasa, bangsa, dan tanah air “orang lain”?. Bukan berarti tidak sah apabila pemuda kita menggunakan bahasa “asing” dalam berkomunikasi, atau mereka mengagung-agungkan kultur Negara lain, tetapi jangan sampai semua itu justru melunturkan karakter mereka akan bahasa, budaya, dan tanah air mereka sendiri. Kita harus berhati-hati berbagai bentuk penjajahan yang saat ini memang bukan lagi berupa manusia “angker” yang memegang senjata, tetapi berubah menjadi “makhluk-makhluk” lain yang bisa jadi berbentuk aktivitas, media, teknologi, ideologi, dan lain sebagainya. Teknologi misalnya, diciptakan untuk membantu tugas-tugas manusia agar nyaman dan mudah menjalankan misi kemanusiaannya (ibadah dan khilafah; mengabdi dan memimpin), tetapi yang terjadi justru sebaliknya, manusia malah diperbudak teknologi sehingga kehilangan sisi dan dimensi kemanusiaannya bahkan terdapat yang lebih hina dari binatang.

Identitas keindonesiaan kita hampir luntur tergeser oleh identitas-identitas baru yang “diimpor” dari luar. Mereka yang gandrung dengan Arab, kemudian mengimitasikan diri menjadi kearab-araban, mulai simbol-simbol yang dipakai, sampai pada logat dan penggunaan istilah, kamu diganti antum, saya menjadi ana, saudara menjadi akhi atau ukhti, dan sebagainya. Begitu juga yang “gila” Barat, mereka mengekspresikan diri menjadi kebarat-baratan, bahkan sampai pada wilayah “kebebasan” tanpa batas. Kita sudah seharusnya melihat apa yang sudah terpampang dalam sejarah mengenai para pendiri bangsa ini. Banyak sekali di antara mereka yang merupakan hasil didikan Belanda, tetapi toh jiwa dan ruh mereka tetap Indonesia (seperti Soekarno dkk.), tidak sedikit juga yang menamatkan pendidikan di Timur Tengah, tetapi setelah kembali ke Indonesia mereka tetap menjadi “orang Indonesia” (semisal KH. Hasyim Asy’ari dkk.). Inilah identitas, karakter, ruh yang harus kita jaga dan pertahankan agar tidak mudah “terjajah” oleh identitas dan ruh baru yang bahkan terkadang kita sendiri belum memahami “hitam-putihnya”.

Momentum sumpah pemuda ini sudah saatnya kita jadikan sebagai wahana introspeksi akan eksistensi dan posisi pemuda selama ini. Kaum muda sudah waktunya memposisikan diri di garda terdepan perjuangan dan pembangunan. Peringatan sumpah pemuda kita jadikan sebagai inspirasi semangat untuk selalu bangga dengan bahasa, bangsa, serta tanah air Indonesia, sehingga semakin memperkuat karakter keindonesiaan kita menuju terwujudnya Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur di bawah lindungan Sang Maha Merajai, Allah SWT. Amin.  (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →