Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini

Waduk Logung Sebuah Keharusan



Reporter:    /  @ 02:53:59  /  27 Oktober 2014

    Print       Email

Inilah calon lokasi Waduk Logung yang turut Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe. Beberapa waktu lalu, warga di lokasi ini meminta pengukuran ulang dan dipenuhi oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk memastikan luasan tanah yang terkena proyek. (KOMA / Siti Merie)

KUDUS – Terwujudnya Waduk Logung adalah sebuah keharusan. Pasalnya, keberadaan waduk tersebut akan membantu pasokan air minum bagi Kabupaten Kudus, yang akan diolah melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kudus.

Direktur PDAM Kudus Achmadi mengatakan, jika nantinya Waduk Logung benar-benar teralisasi, maka akan sangat membantu untuk penyediakan pasokan air bagi masyarakat Kabupaten Kudus.
”Waduk Logung menjadi sumber air baku di permukaan. Nantinya akan bisa diolah menjadi air baku bagi kebutuhan masyarakat. Bahkan, bisa mencapai 200 liter per detik, yang bisa diperuntukkan bagi kurang lebih 80 kepala keluarga (KK). Bayangkan kalau kemudian beroperasi penuh. Akan banyak yang dilayani,” paparnya.
Achmadi mengatakan, Waduk Logung akan sangat bermanfaat bukan hanya untuk mengatasi masalah pasokan air untuk pertanian. Namun juga sebagai pasokan air minum bagi warga. Apalagi saat ini, kecenderungannya penurunan elevasi sumur yang dimiliki PDAM.
”Dengan pasokan air yang diambil dari Waduk Kedungombo, kami akan mengolahnya untuk disalurkan kepada masyarakat. Sehingga, kebutuhan air akan bisa terpenuhi dengan baik nantinya,” katanya.
Eleveasi air pada sumur-sumur yang dimiliki PDAM memang makin menurun setiap tahunnya. Data pada bulan September 2014 lalu, penurunan elevasi sumur itu mencapai 2 meter. Padahal tahun sebelumnya, penurunannya hanya berkisar pada 0,8-1 meter. Untuk level posisi elevasi saat ini, terhitung dari permukaan tanah, sumur PDAM ada pada kisaran 26-28 meter.
Angka ini masih cukup normal, mengingat posisi tidak aman atau sudah sangat kritis, adalah pada kisaran level 40 meter dari permukaan tanah. Akibat dari situasi ini, posisi pompa yang digunakan untuk menyedot air sendiri, sudah diturunkan. Dari yang semula hanya pada kisaran 40-45 meter, saat ini sudah mencapai 55 meter.
Persoalan Waduk Logung hingga saat ini memang masih pada sebatas upaya pembebasan lahan yang dimiliki warga. Beberapa di antaranya memang belum selesai, sehingga ada yang harus diukur ulang. Hanya saja, jika kemudian sampai akhir tahun tidak juga menemui kesepakatan, maka jalan yang akan ditempu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus adalah melakukan konsinyasi. Yakni menitipkan uang ganti rugi ke Pengadilan Negeri (PN) Kudus. Karena tahun 2015, sudah dimulai pembangunan fisiknya.
Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (Ciptakaru) Kudus Didiek Tri Prasetyo pernah mengatakan bahwa pembebasan lahan saat ini sudah mencapai 79 persen. Sesuai ketentuan, konsinyasi atau menitipkan uang ganti rugi ke pengadilan sudah dapat dilakukan.
”Kami belum melakukan opsi tersebut dan memilih melanjutkan pendekatan kepada warga. Tentang pembebasan tanahnya, Kami masih berupaya dengan pendekatan,” jelasnya. (Merie)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →