Loading...
You are here:  Home  >  Seni & Budaya  >  Artikel ini

Warga Lalui Hutan untuk Peroleh Air Bersih



Reporter:    /  @ 02:34:47  /  27 Oktober 2014

    Print       Email

Salah satu warga Cabak, Kabul (70) sedang mengambil air dari belik yang harus ia tempuh sejauh satu kilometer dari rumahnya, Sabtu (25/10). (KOMA / Nur Hidayah)

BLORA – Sejak enam bulan terakhir, kekeringan terus mendera warga Kabupaten Blora. Warga harus berjalan sedikitnya satu hingga lebih dari tujuh kilometer, untuk mendapatkan air di sejumlah mata air, di sekitar sungai yang telah mengering.
Meski sudah enam bulan mengalami kekeringan, warga Blora mengaku baru dua kali mendapat pasokan air bersih dari pemerintah daerah setempat. Pasokan pertama, diterima warga pada pertengahan Agustus silam.

Seperti yang dialami oleh sejumlah warga Kampung Cabak, Kecamatan Jiken, Blora, mereka kembali kesulitan mendapatkan air bersih. Pasalnya dropping bantuan air bersih yang diberikan oleh Pemerintah maupun perusahaan Pertamina di Blora, tidak mencukupi keperluan warga.
Salah seorang warga Cabak, Kecamatan Jiken, Kabul (70), mengatakan, dia sering telat mendapatkan bantuan air bersih. Dengan kondisi tersebut, selama ini dia selalu mengambil air dari belik pinggir sungai, yang letaknya di tengah hutan. Air bersih itu pun berjarak satu kilometer dari rumahnya.
”Kalau mengambil air harus menempuh jalan, sejauh satu kilometer, jalannya pun cukup terjal. Seperti saat ini, kerap kali warga sekitar harus menembus hutan untuk mengambil air bersih,” katanya, Sabtu (25/10).
Dia mengatakan, untuk memperoleh air bersih sebagai kebutuhan sehari-hari, mau tidak mau ia terpaksa menimba atau mengambil air dari belik, meski jalan terjal, sulit dilalui dan cukup jauh. Karena air bersih merupakan kebutuhan pokok rumah tangga yang digunakan untuk mencuci, memasak, minum hingga mandi.
”Rutinitas seperti ini harus dilakoninya kembali, lantaran debit air sumur di kampungnya sering menyusut selama musim kemarau panjang” ujarnya.
Sementara itu, jika hal itu tidak ia lakukan sendiri imbasnya bengkaknya pengeluaran. Karena untuk satu jerigen saja warga harus membeli seharga Rp 2 ribu, dan untuk per harinya, sedikitnya membutuhkan 10 jerigen untuk keperluan mandi, dan memasak.
Kabul berharap, pemerintah setempat mengetahui bahwa masih banyak warga yang kesulitan air bersih. Dan segera mengirim bantuan air bersih secara berkala dan rutin.
”Kasihan warga yang sudah renta/tua, jika harus berjalan cukup jauh sambil memanggul air. Tapi jika hal itu tidak dilakukan, terpaksa harus membeli air. Tentu hal itu sangat memberatkan warga,” pungkasnya. (Nur Hidayah/ Titis Ayu)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →