Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Lahan Kekeringan, Petani di Kabupaten Grobogan Tunda Penanaman



Reporter:    /  @ 02:32:39  /  27 Oktober 2014

    Print       Email

Petani mebersihkan rumput liar di lahan persawahan yang mengering akibat musim kemarau. Para petani terpaksa menunda musim tanam sampai lahan pertanian mereka mendapatkan pengairan atau menunggu musim penghujan. (ANTARA)

GROBOGAN – Musim tanam pertama (MT-1) di Kabupaten Grobogan semestinya dilakukan mulai pertengahan Oktober ini. Namun karena hujan belum turun dan debit embung, waduk, serta sumber mata air lain telah mengering, para petani belum berani mengolah lahan apalagi menebar bibit. Sehingga tidak sedikit petani yang hingga kini terpaksa menelantarkan sawahnya.

”Lahan sawah petani di daerah Tawangharjo dan sekitarnya mengalami kekeringan sejak tiga bulan terakhir. Air irigasi dan sungai telah mengering, sehingga petani belum berani menanam bibit pada beberapa pekan terakhir,” ujar salah seorang petani, Hayono, kemarin.
Menurut dia, jika hujan sudah mulai turun dan lahan pertanian kembali dapat diolah maka petani akan langsung turun sawah. Karena hingga mendekati akhir Oktober hujan belum turun, petani terpaksa menunda MT 1 yang seharusnya telah dilakukan pada awal Oktober lalu dan panen raya sekitar Januari-Februari.
”Informasi dari BMKG musim hujan sekitar pertengahan November. Sehingga kemungkinan kami mulai menanam pada akhir November atau mundur sekitar 1-2 bulan dari jadwal MT 1. Petani tidak mau merugi akibat tanaman padi mati akibat kekurangan air karena menanam saat hujan belum turun seperti sekarang,” katanya.
Petani lainnya Fatoni mengatakan, seharusnya sejak akhir September petani mulai mengolah lahan untuk penyemaian bibit padi untuk persiapan MT 1 pada Oktober. Namun karena areal persawahan kering kerontang dan irigasi tidak mengalir, kemungkinan besar MT 1 dilakukan awal atau pertengahan November, dengan mengandalkan air dari WKO.
”Kami berharap hujan segera turun, sehingga petani dapat segera mengolah lahan untuk menanam padi. Sebab jika hanya mengandalkan air Waduk Kedung Ombo, kami khawatir aliran waduk tidak opimal karena debit menyusut drastis akibat kemarau panjang,” harapnya.
Kepala Pengelola WKO Purwanto mengatakan, debit air WKO pada pekan kedua Oktober mencapai 5.327.460 meter kubik dengan elevasi 88.4 meter. Pintu air waduk yang berada di Desa Rambat, Kecamatan Geyer, itu, dibuka 55 meter kubik per detik untuk persiapan pengairan lahan pertanian jelang MT 1 dan kebutuhan air minum.
”Meski ada penurunan volume air di musim kemarau, namun masih dapat mengairi  kebutuhan MT 1 pada bulan ini. Selama ini WKO juga mengairi lahan pertanian di Grobogan melalui Bendung Sedadi, Sidorejo, Klambu, dan Lanang ,” katanya. (Sumarni)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →