Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Semarang Ambles 8 Cm Per Tahun



Reporter:    /  @ 20:16:58  /  24 Oktober 2014

    Print       Email

Seorang anak bermain air banjir di kawasan Pasar Johar Semarang, beberapa waktu lalu. Eksploitasi air bawah tanah yang tak terkendali menyebabkan tanah di Semarang terus ambles, dan tergenang rob. (KORAN MURIA)

KOTA SEMARANG – Ekploitasi air bawah tanah (ABT) dan beban tanah akibat pembangunan di Kota Semarang, perlu dikendalikan. Karena dua faktor itu menyebabkan amblesnya permukaan tanah di Ibu Kota Jateng itu semakin parah.
Peneliti dari Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dwi Sarah menilai, setiap tahun pemerintah harus semakin ketat mengatur masalah ini.
”Setiap ada pembangunan diminta memperhatikan zona konservasi, dan regulasi yang mengaturnya sudah ada. Tinggal pengawasan di lapangan yang perlu dipertegas,” katanya dikutip Antara, kemarin.
Ia menjelaskan, struktur tanah di Kota Semarang berupa lapisan tanah liat (lempung), pasir, dan kerikil. Karena dulunya Kota Semarang merupakan kawasan pantai. Sehingga secara alamiah, kondisi struktur tanah masih mengalami konsolidasi, serta berpotensi terjadi amblesan tanah tiap tahun.

Menurut dia, amblesnya tanah akan semakin cepat. Karena pembangunan terjadi sangat pesat. Bahkan rata-rata amblesan tanah di kawasan Semarang bagian bawah mencapai 1-8 sentimeter per tahun, dan akibatnya sering tergenang rob dan banjir.
”Dampak dari kejadian itu adalah kerusakan infrastruktur dan perumahan milik masyarakat,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa amblesnya tanah menjadi cepat, karena faktor antropogenik atau ulah manusia. Seperti ekploitasi ABT berlebihan dan pembangunan yang terus menerus tanpa pengawasan.
”Perlu dipasang alat pemantau pemampatan di bawah permukaan. Pemerintah setempat perlu melakukan monitoring kondisi geologi di daaerah Semarang bawah. Agar laju ambesnya bisa diketahui secara pasti,” paparnya.
Dosen Fakultas Teknik Sipil Undip Semarang Muhrozi menilai, amblesnya tanah di Kota Semarang, menjadi permasalahan serius, dan harus segera dicari solusinya.
”Selain rob dan banjir, amblesnya tanah berdampak terhadap bangunanan sipil. Di antaranya tidak berfungsinya infrastruktur bangunan sipil, berkurangnya tingkat layanan bangunan, dan terjadi kegagalan konstruksi bangunan,” tukasnya. (ALI MUNTOHA)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →