Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Kekeringan, Warga Tanggungharjo Patungan Beli Air



Reporter:    /  @ 20:08:11  /  24 Oktober 2014

    Print       Email

GROBOGAN – Warga di sejumlah desa di Kecamatan Tanggungharjo, Kecamatan Tanggungharjo, mengalami krisis air bersih sejak beberapa akibat sumur warga telah mengering sejak beberapa bulan terakhir. Untuk memenuhi kebutuhan minum, memasak, dan lainnya warga terpaksa membeli air isi ulang atau patungan untuk membeli satu tangki air. Bahkan tidak sedikit pula yang memanfaatkan air belik di sekitar sungai.
”Sebagian besar sumur warga sudah tidak berair sejak beberapa bulan lalu. Bagi warga yang mempunyai cukup uang biasanya membeli satu tangki air berisi 5.000 liter seharga sekitar Rp 350 ribu. Sedangkan warga yang tidak mempunyai uang membeli air isi ulang atau hanya mengandalkan dropping air dari pemkab atau mengambil air belik,” terang salah seorang warga Agus, kemarin.
Warga Desa Tanggungharjo itu mengatakan, karena harga air tangki tidak murah, maka warga sering patungan untuk membeli satu tangki air berkapasitas 5.000 liter seharga Rp 350 ribu-Rp 400 ribu. Air bersih hasil patungan tersebut biasanya hanya dapat memenuhi kebutuhan memasak dan minum kurang dari satu minggu.

”Kami kadang patungan dengan warga lain membeli air satu tangki. Hal itu karena dropping air bersih dari pemkab tidak dapat diandalkan kapan datang, sementara setiap hari kami membutuhkan air untuk minum dan lainnya,” katanya.
Warga lainnya Dani berharap, pemkab memperhatikan kondisi warga yang mengalami krisis air bersih akibat kemarau sejak beberapa  bulan terakhir. Air sumur warga sudah tidak lagi berair, sehingga banyak warga Tanggungharjo dan sekitarnya memanfaatkan air tidak layak konsumsi.”Kami minta pemkab membantu dropping air bersih kepada warga yang dilanda kekeringan,” pintanya.
Berdasarkan  data Badan Penanggulanggan Bencana Daerah (BPBD),  dari 280 desa yang ada di Grobogan, sebanyak 175 desa yang tersebar di 15 kecamatan mengalami kekeringan. Kondisi kekeringan paling parah di Kecamatan Gabus, Kradenan, Ngaringan, dan Pulokulon. Sedangkan empat  kecamatan yang aman dari ancaman kekeringan yakni, Kecamatan Tergowanu, Klambu, Gubug, dan Godong.
Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono mengatakan, pemkab mengalokasikan anggaran untuk mengatasi kekeringan sebesar Rp 200 juta. Dana tersebut digunakan untuk biaya dropping air bersih kepada warga yang mengalami krisis air bersih akibat kemarau panjang.
BPBD meminta seluruh desa yang membutuhkan air bersih, segera mengajukan bantuan ke pemkab, supaya petugas dapat melakukan pengecekan dan pendataan warga sehingga kekeringan dapat segera teratasi. (SUMARNI)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →