Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini

Jajan Berbahaya Bebas Beredar



Reporter:    /  @ 19:28:38  /  24 Oktober 2014

    Print       Email

Kasi Perlindungan Konsumen Dinas Dagsar Kudus memperlihatkan makanan yang mengandung bahan pewarna berlebihan. Jajanan itu banyak beredar dan cukup laris dibeli anak-anak. (KOMA/FAISOL HADI)

KUDUS – Jajanan anak yang mengandung bahan pewarna berbahaya masih bebas beredar di pasaran. Hal ini terlihat dari hasil uji laborat yang dilakukan Dinas Perdagangan dan Pasar (Dagsar) Kudus yang menemukan, hampir semua jajanan menggunakan pewarna yang berlebihan.
Pewarna makanan berlebihan, yang dikonsumsi secara terus menerus akan berefek buruk pada kesehatan. Kasi Perlindungan Konsumen pada Dinas Dagsar Kudus Nurartri Sulistyani mengatakan, pihaknya melakukan pemeriksaan terhadap 25 jenis makanan yang berada di pasar.
Jajajan yang dipilih itu merupakan makanan yang tergolong paling laris, dan banyak dijual di sekolah-sekolah.
”Dari uji laborat yang keluar pada 29 September 2014 lalu, semua jajan yang kami ujikan laborat positif menggunakan pewarna makanan berlebihan. Namun untuk kandungan lain tidak ditemukan,” kata Nurartri, kepada Koran Muria, kemarin.
Menurutnya, beberapa jenis makanan yang diuji laborat di antaranya kerupuk, permen, minuman kemasan, jelli dan lain sebagainya. Semuanya menggunakan pewarna berlebih pada jajanan yang dijual.

Ciri yang menonjol dari banyaknya pewarna makanan lanjutnya, dilihat dari warna yang sangat mencolok. Makanan dengan pewarna yang berlebih trelihat lebih segar, dan terlihat lebih menarik. Berbeda dengan yang tidak menggunakan, makanan cenderung lebih kusam.
Dia mengatakan, bahaya dari kebanyakan menggunakan pewarna berlebih adalah dapat membuat gangguan pencernaan. Dalam dosis tinggi dan waktu lama, dapat megakibatkan kanker. Terlebih bagi pengkonsumsi dengan daya tahan tubuh yang lemah. Dampaknya akan dapat tersebar dengan lebih cepat.
”Kami tidak memperingatkan para pedagang untuk tidak menjualnya. sebab hasil laborat yang keluar, hanya menjumpai berlebihnya menggunakan pewarna. Sedangkan unsur lain seperti pengawet berupa formalin dan bahan berbahaya lainnya tidak ditemukan,” ujarnya.
Dia mencontohkan, pada tahun sebelumnya pernah dilakukan uji laborat dengan hal yang sama. Namun waktu itu ditemukan pada ikan teri yang mengandung formalin, sehingga pihak Dagsar melarang untuk menjualnya kepada masyarakat. (FAISOL HADI/ALI MUNTOHA)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →