Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Fitrah dan Potensi Manusia Perspektif Alquran



Reporter:    /  @ 04:25:44  /  24 Oktober 2014

    Print       Email

Oleh: Lina Kushidayati, Dosen STAIN Kudus

 

Dalam istilah Arab, fitrah berarti asal kejadian, kesucian, dan agama yang benar. Arti asal kejadian bersinonim (persamaan makna) dengan kata ibda dan khalq. Fitrah juga bermakna ‘sunah Nabi’ sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan Abi Hurairah, khams min al-fitrah (lima yang termasuk fitrah) yakni berkhitan, mencukur bulu, menggunting kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak. 

 

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah binti Abu Bakar (istri Nabi) bahwa terdapat 10 hal yang termasuk fitrah yakni mencukur kumis, memelihara janggut, menggosok gigi, memasukkan air dalam hidung (ketika wudlu), memotong kuku, mencuci sela-sela jari dan lipatan telinga (ketika wudlu), mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, beristinjak, dan khitan, sehingga fitrah dapat diartikan tradisi Nabi atau sifat bawaan manusia. 

Kata fitrah secara harfiyah bermakna membelah, memecah, menjadikan besar, terbuka, perangai, tabiat, kejadian asli, agama, pikiran atau ciptaan yang tidak matang/yang belum masak, atau yang baru. Dalam Al-quran, kata ‘fitrah’ disebutkan sebanyak 28 kali, namun yang berhubungan dengan fitrah manusia sebanyak 14 kali yakni dalam kontek (a) penciptaan manusia dari sisi pengakuan, Q.s; Ar-Rum: 30 ‘Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama Allah yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu”, (b) Kata fitrah dalam Q.s; Ibrahim:10 “Apakah ada keraguan terhadap Allah, pencipta langit dan bumi”. Q.s; Al-Infithar:1 “Apabila langit terbelah”. 

Mufasir mengidentifikasi, kata fitrah dalam Al-quran disebutkan 20 kali, dalam bentuk fi’l madli sebanyak  9 kali, fitrah mempunyi arti menciptakan-menjadikan, dalam bentuk fi’il mudlori’ fitrah berarti yang menciptakan/yang menjadikan, bentuk isim maf’ul tertuang sekali, fitrah bermakna pecah-terbelah, dan dalam bentuk isim masdar sebanyak dua kali, fitrah berarti tidak seimbang. Kata ‘fitrah’ tersebut bahwa manusia sejak asal kejadiannya membawa potensi beragama. Ada pula yang memahami fitrah dibedakan menjadi 4 kelompok yakni fatalis, netral, positif, dan dualis. 

Pandangan fatalis bahwa kehidupan manusia telah ‘dicetak’ sesuai kehendak Tuhan sejalur dengan aliran qodariyah (pesimisme). Manusia ibarat wayang kulit yang senantiasa siap dimainkan oleh sang dalang (Tuhan). Sebagaimana Q.s: Asy-Syuara: 24 “Jika Allah menghendaki niscaya Ia mengunci hatimu”, Q.s: Ali Imran: 73 “Karunia itu dari Allah, Allah memberikan karunia-Nya untuk orang yang dikehendaki”. Aliran ini ditokohi Syekh Abdul Qodir Al-Jailani. 

Pandangan netralis bahwa hidup dan kehidupan manusia dihadapkan pada keleluasaan manusia untuk memilih antara yang disukai dengan yang tak disukai. Pesan Q.s Al-Balad:10 “Kami tunjukkan kepadanya (manusia) dua jalan”. Q.s:Al-Kahfi:29 “Barang siapa ingin beriman hendaklah ia beriman dan barang siapa ingin kafir biarlah ia kafir”, Q.s: Al-Syams:“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”, Al-Baqoroh: 286 “Ia mendapat pahala dari yang diusahakannya dan mendapat siksa dari yang diusahakannya pula”, Q.s; Ar-Ra’du:11 “Allah tak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali usahanya sendiri”. Pandangan positifis bahwa sedari awal manusia berpotensi menerima kebenaran, Q.s:Al-A’rof: 127 “Allah mengambil kesaksian jiwa (manusia di alam ruh) seraya berfirman: bukankah Aku ini Tuhanmu? Manusia menjawab: betul, Engkau Tuhanku”. Ditokohi oleh Ibn Taimiyah, Ibn Qoyyim Al-Jauziyah, Muhamad Ali Ash-Syabuni, Muhamad Syafi’i, dan Muhamad Asad. 

Adapun pandangan dualis beranggapan bahwa manusia berpotensi baik dan buruk sangat tergantung dengan kondisi lingkungan dan zaman, Q.s: An-Nahl: 78 “Allah melahirkan kamu (manusia) dari perut ibumu dalam kondisi tidak tahu sesuatupun”. Ditokohi oleh Sayyid Qutub dan Ali Syari’ati. 

Terdapat perbedaan makna kata antara fitrah, watak (tabi’at), dan naluri (ghorizah). Fitrah merupakan sifat mendasar, batiniyah yang dimiliki oleh manusia. Watak (tabi’at) bermakna sifat dasar atau karakter yang terdiri bentuk dan materi yang dimiliki oleh (makhluk) benda. Naluri (ghorizah) adalah sifat dasar bukan berupa kesadaran (hati) yang dimiliki oleh hewan. 

Makna fitrah dalam konsepsi mufasirin, memiliki beberapa makna yakni (a) Kejadian; Q.s:Adz-Dzariyat:56 “Dan tidaklah Allah ciptakan Jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadanya”, (b) Naluri manusia diciptakan Allah beragama tauhid, Q.s:Al A’raf:127“Percayakah engkau bahwa Aku (Allah) Tuhanmu? Manusia menjawab: ya, aku percaya (sebagai saksinya) bahwa Engkaulah Tuhanku, (c) Kodrat jiwa, budi nurani; kodrat manusia adalah menerima kebenaran, jika manusia menyeberang pada keburukan karena faktor lingkungan. Hadis Nabi SAW “Setiap bayi yang dilahirkan dalam kondisi fitrah, bapak dan ibunyalah (lingkungan) yang membentuk menjadi Yahudi, Nasrani, atau pula Majusi”, (d) Ciptaan Allah;Q.s:Ar-Rum:30 ”Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada (agama) Allah (tetaplah atas) fitrah (buatan Allah) yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya”, (e) Mengakui Keesaan Allah; sebagaimana Al-A’raf: 172 “Allah berfirman: Bukankah Aku ini tuhanmu?, manusia menjawab: ya, Engkau tuhanku (bala syahidna)”, (f) Ikhlas; pesan Q.s: Al-Bayyinah:5 “Mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan (ikhlas)”, (g) Potensi Dasar Manusia; mengakui keberadaan penciptanya sebagai tempat kembali sebagaimana Q.s:Yasin: 22 “Hanya kepadaNyalah kamu semua akan dikembalikan”.

Adapun komponen dasar fitrah adalah bakat, insting (gharizah), nafsu dan dorongannya, karakter atau tabiat manusia, hereditas atau keturunan, dan intuisi (kemampuan psikologis manusia menerima ilham dari-Nya). Fitrah bermakna (i) bakat, instink; berupa kemampuan akademis (ilmiah) dan keahlian (professional) di berbagai bidang kehidupan, (ii) nafsu dan dorongannya; kemampuan berbuat tanpa melalui proses belajar (capability), (iii) nafsu dan dorongannya; nafsu mengarah pada kebajikan (muthmainnah) dan kemunkaran (lawwamah), (iv) karakter atau tabiat; potensi yang bersumber dari diri pribadi manusia, (v) hereditas atau keturunan; ciri fisikologis dan psikologis yang diturunkan dari orang tua, dan (vi) intuisi; kemampuan psikologis manusia untuk menerima ilham dari Tuhan.

Potensi Negatif Manusia

Selain manusia berbekal potensi yang bernilai positif, manusia pun dibekali potensi negatif, seperti (1) berpenyakit (hati), Q.s: Al-Baqoroh:10 “Dalam hati manusia terdapat penyakit (tak mau menerima kebenaran) lalu oleh Allah ditambah penyakitnya, (2) menjadi perusak, Al-Baqoroh:11“Bila dikatakan kepada mereka:Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: sesungguhnya kami orang yang mengadakan perbaikan”, (3) plin-plan, Al-Baqoroh:14 “Bila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka menjawab: aku beriman, dan jika bertemu dengan pimpinannya mereka menjawab: kami berpendirian sama dengan kamu”, (4) tuli, bisu, dan buta hati, Al-Baqoroh:18 “Mereka tuli, bisu, dan buta (menerima kebenaran) mereka tidak akan kembali, (5) bermusuhan, Al-Baqoroh: 36 “Sebagian mereka menjadi musuh sebagian yang lain”, (6) ragu, Al-Baqoroh:147 “Janganlah kamu termasuk orang yang ragu”, (7) mendapatkan cobaan, Al-Baqoroh: 155 “kami beri cobaan kepadamu berupa ketakutan, kelaparan,kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan”, (8) melampaui batas, Al-Baqoroh: 190 “Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas”, (9) berselisih, Al-Baqoroh: 213 “Allah menurunkan kitab dengan benar untuk memberi keputusan tentang perkara yang diperselisihkan”, (10) memfitnah dan membunuh, Al-Baqoroh: 217 “Berbuat fitnah lebih besar dosanya daripada membunuh”, (11) bersumpah dengan nama Tuhan, Al-Baqoroh:224 “janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam bersumpah”, (12) takut mati, Al-Baqoroh:243 “Mereka beribu jumlahnya takut mati”. Q.s; Al-Jumuah:8“Sesungguhnya kematian yang kamu takuti akan menemuimu”. (13) menyakiti  perasaan si penerima pemberian, Al-Baqoroh:264“Janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebut dan menyakiti perasaan si penerima”, (14) takut miskin, Al-Baqoroh:268“Syetan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan”, (15) putus asa, Q.s:Ar-rum:36 Apabila tertimpa musibah karena kesalahannya mereka berputus asa, (16) bersuara seperti keledai, Q.s:Luqman:19 “Sederhanakanlah (cara) jalanmu dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburu-buruk suara ialah suara keledai”. (17) bermegah-megahan dalam hidup, Q.s: At-Takatsur:1 “Janganlah bermegah-megahan”.(18) dzalim dan bodoh, Q.s:Al-Akhzab:72“Sesungguhnya manusia itu dzalim dan bodoh”. (19) pikun, Q.s:An-Nakhl:70 “Di antara kamu ada yang diberi umur panjang hingga pikun”, (20) sumpah palsu, Q.s: An-Nahl: 94 “Janganlah kamu jadikan sumpahmu sebagai alat penipu”, (21) menjual janji, Q.s:An-Nahl:95 ”Janganlah kamu tukar janjimu dengan Allah dengan harga yang murah”, (22) pendusta, Q.s; Asy-Syam:14 “Mereka berdusta”, (23) berbuat keji, Q.s; Al-A’raf:28“Mereka melakukan perbuatan keji”, (24) banyak membantah, Q.s; Al-Kahfi:54 “Manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah”, (25) dzalim dan mengingkari nikmat, Q.s; Ibrahim:34 “Sesungguhnya manusia itu dzalim dan mengingkari nikmat”,(26) keluh-kesah dan kikir, Q.s; Al-Ma’arij:19 ”Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah dan kikir”, (27) mengajak-ajak tapi tak melaksanakan sendiri, Q.s; As-Shaaf: 2 “Mengapa kamu mengatakan, tetapi tak berbuat?, (28) fasik, Q.s; Al-Hasyr: 19 “Janganlah kamu lupa kepada Allah lalu Allah melupakan diri kamu sendiri, dialah orang fasik”. 

Setelah memahami potensi positif dan negatif pada diri manusia, hikmah yang dapat dipetik adalah menyadari bahwa kita tak sempurna. Peningkatan kualitas diri menjadi modal dasar untuk hidup dengan lingkungannya dan membangun diri bekal menghadap Ilahi. Tahun Baru Hijriyah sebagai momentum untuk bangkit. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →