Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini

Air Embung Ngemplak Terparah



Reporter:    /  @ 02:49:37  /  24 Oktober 2014

    Print       Email

Kondisi air yang ada di Embung Ngemplak, yang menyusut tajam sejak beberapa pekan terakhir. Hal ini membuat proses tanam yang dilakukan petani di sana, menjadi terganggu. (KOMA / Merie)

KUDUS – Embung Ngemplak yang ada di Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, ternyata sudah semakin menyusut airnya sejak beberapa pekan terakhir. Kondisi pada tahun ini, bisa dibilang terparah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Desa (Kades) Ngemplak Sutrisno mengatakan, pada kondisi normal, air embung bisa mencapai kedalaman empat meter. Namun pada saat ini, kedalaman air diperkirakan hanya mencapai setengah meter saja. ”Kondisi seperti ini, di mana air menyusut, itu memang biasa terjadi setiap tahunnya. Hanya saja, tahun ini bisa dibilang sangat parah kondisinya,” terangnya, kemarin (23/10).

Air yang ada di embung, memang sudah menyusut tajam. Padahal kurang lebih sebulan lalu, beberapa karamba warga yang ditempatkan di embung, masih dipenuhi air. Sekarang ini, karamba-karamba tersebut sudah terlihat di permukaan. Sedangkan areal sawah yang ada di sekitarnya, juga sudah mulai mengering dan retak-retak tanahnya.

Kondisi air yang menyusut tersebut, memang mengganggu proses tanam padi yang dilakukan petani. Selama ini, air dari Embung Ngemplak, memang digunakan untuk mengairi areal persawahan di wilayah itu. Embung Ngemplak dibangun, dengan tujuan untuk mengantisipasi pasokan air dari Waduk Kedung Ombo yang biasanya sering terlambat. 

Embung Ngemplak mulai dibangun tahun 2007 lalu. Lokasinya ada di dua desa, yakni di Desa Ngemplak sepanjang 4 kilometer, dan di Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, sepanjang 1 kilometer. Manfaatnya adalha untuk cadangan irigasi pengairan sawah seluas 700 hektare, di Desa Ngemplak dan Karangrowo. 

Sutrisno mengatakan, ratusan hektare areal sawah yang mengandalkan pasokan dari Embung Ngemplak, saat ini memang menjadi terganggu. Kurang lebih ada 422 hektare areal sawah yang mengandalkan aliran air dari sana. ”Saat ini, hampir 70 persen sawah menjadi terganggu pengairannya, akibat embung yang mengering. Itu hanya untuk desa saya saja, ya,” katanya.

Petani kemudian mengandalkan pompa air untuk menyedot air dari embung. Hanya saja, cara ini kemudian malah membuat biaya operasional semakin meningkat. Inilah yang kemudian dicemaskan para petani. 

”Jadi memang situasi yang kita hadapi setiap tahunnya selalu sama. Yakni ketika musim kemarau seperti ini kekeringan atau kekurangan air, sedangkan musim penghujan, areal pertanian sering kebanjiran. Namun, saat ini yang kita harapkan adalah air di embung bisa kembali penuh sebagaimana sebelumnya. Ini untuk membantu proses tanam petani,” katanya. (Merie)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →