Loading...
You are here:  Home  >  Politik & Pemerintahan  >  Artikel ini

Gong Perdamaian Dunia, Diprakarsai Orang Jepara



Reporter:    /  @ 02:27:20  /  23 Oktober 2014

    Print       Email

Mungkin tak ada yang banyak mengira sosok Djuyoto Suntani, sang presiden masyarakat perdamaian dunia itu, berasal dari desa kecil yang terletak di lereng pegunungan muria. Yakni Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, Jepara. Bagaimana sosok Djuyoto semasa kecil?

Sosok Djuyoto Suntani kecil tidaklah berbeda dari teman-teman sepermainannya. Namun, keinginannya untuk mendamaikan dunia, sejak kecil sudah dicita-citakannya. Djuyoto mengaku paling benci dengan pertengkaran apalagi perang antar negara, yang masih terjadi di muka bumi. Sejak saat itu, cita-citanya tersebut semakin menggebu-gebu.

Anak dari pasangan Suntani dan Musrini ini sejak sekolah dikenal teman-temannya sebagai sosok pendiam yang cerdas. Ketika mengenyam pendidikan di SMA I Jepara, Djuyoto sering mengkritik berbagai bentuk kebijakan yang menurutnya tidak adil.

Arifin (35) sebagai orang kepercayaan Djuyoto sebagai penanggung jawab museum Gong Perdamaian Dunia di Plajan, Pakis Aji, Jepara menuturkan, saat itu bapak hanya menjadi anak perangkat desa, dan harus berjuang keras untuk mengejar cita-cita. Rumahnya yang cukup jauh dari jalan raya tetap ditempuh dengan jalan kaki dari Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji hingga Desa Krasak, Kecamatan Bangsri yang saat ini dibakukan menjadi jalan Perdamaian Dunia.

”Bapak terlahir dari keluarga yang cukup religius menjadikannya cukup dibekali dengan pendidikan agama. Namun, beliau tidak pernah memilah-milah teman dalam bergaul. Baginya, semua umat itu sama dan menginginkan perdamain,” terangnya.

Arifin yang sudah lama bekerja dengan Djuyoto itu mengatakan, sosok bapak yang kerap mencermati berbagai kondisi sekitarnya. Bahkan lingkup dunia yang banyak terjadi permusuhan dan peperangan. 

Djuyoto yang lahir di Desa Plajan 12 Juni 55 tahun silam itu, memang mengaku sangat mendukung berbagai upaya perdamaian dunia yang dilakukan selama ini. Untuk itu, ia menggagas pembuatan gong perdamaian sebagai satu-satunya sarana persaudaraan, dan pemersatu masyarakat di seluruh dunia.

Gong tersebut merupakan peninggalan dari nenek moyangnya yang saat ini sudah berusia sekitar 450 tahun lebih. Saat itu ia berinisiatif untuk menjadikannya gong perdamaian dunia. 

”Menurut bapak, gong tersebut bisa digunakan untuk mendamaikan dunia. Karena dinilai dari sejarah dan filosofi gong tersebut. Beliau juga mengusahakan untuk mengumpulkan tanah dari 200 negara, untuk menyatukan berbagai bangsa yang ada dunia, agar terjadi kedamaian di mana-mana. Itulah cita-cita bapak yang kini mulai terealisasi,” ungkapnya.

Suami dari Susianty Kawira ini berharap, gong tersebut benar-benar bisa menebarkan perdamaian di muka bumi. Dan untuk menghormati cikal bakal gong perdamaian tersebut, di sebelah rumah orang tuanya sebagai asal usul gong itu, dibuat situs pusat bumi.

”Ya di sinilah di sebelah rumah orang tua bapak Djuoyoto Suntani dijadikan museum. Gong tersebut sudah delapan keturunan di tempat di sini, dan di sini pula terdapat 200 tanah dari 200 negara,” imbuhnya. (Titis Ayu)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →