Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini

Lelang Sewa Tanah Gulang Ricuh



Reporter:    /  @ 02:07:27  /  23 Oktober 2014

    Print       Email

Aparat kepolisian terlihat meredam aksi warga yang hendak adu jotos dengan sesama warga lainnya, dalam proses lelang sewa tanah banda desa di Balai Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, kemarin (22/10). (KOMA / Merie)

KUDUS – Dua kubu warga nyaris terlibat adu jotos, saat diadakan lelang sewa tanah banda Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, di balai desa setempat, Rabu (22/10). Kedua kubu nyaris beradu fisik, akibat kebijakan kepala desa yangg menurut mereka tidak benar.

Aksi adu jotos tersebut terjadi, hanya beberapa saat setelah proses lelang dibuka. Sejumlah warga langsung mengajukan protes, atas kebijakan kepala desa. Pasalnya, kepala desa menukar sejumlah lahan bengkok desa dengan banda desa. Bengkok milik delapan orang perangkat desa tersebut, ditukar dengan lahan banda desa yang terbilang lebih subur. 

Namun, aksi protes dari kubu yang tidak setuju penukaran lahan itu, malah memancing emosi dari kubu yang mendukung proses lelang. Inilah yang kemudian membuat kedua kubu menjadi bersitegang, dan nyaris terjadi adu jotos antarwarga.

Beruntung, sejumlah aparat kepolisian dan TNI yang berada di lokasi dengan sigap untuk melerai warga. Sehingga ketegangan tersebut tidak lantas berubah menjadi tindakan yang anarkis.

Salah seorang warga, Ali, mengaku menolak ditukarnya lahan banda desa dengan bengkok perangkat. Pasalnya, harga sewa tanah banda desa jauh lebih mahal dibanding bengkok desa. 

”Kami tidak sepakat akan hal itu. Karena banda desa yang ditukar tersebut jauh lebih subur dari bengkok milik perangkat. Selama ini banda desa yang akan ditukar, menjadi andalan pendapatan asli desa,” katanya, mewakili sejumlah warga yang juga tidak setuju.

Apalagi, kebijakan dari kepala desa yang menukar tanah bengkok dengan banda desa tersebut, tidak melalui kesepakatan bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Warga juga menengarai adanya muatan politis dalam kebijakan tersebut. ”Saya selaku BPD tidak pernah diajak berbicara mengenai persoalan ini,” kata Parmono, salah seorang anggota BPD.

Meski mendapat protes, namun proses lelang tetap berjalan. Pihak panitia bersikukuh melanjutkan proses lelang dan mempersilahkan pihak yang tidak sepakat untuk menempuh jalur hukum. ”Kami tetap akan membawa permasalahan ini ke meja hukum,” tambah Ali.

Sementara, Kepala Desa Gulang Mila Susanti mengatakan, ditukarnya tanah banda desa dengan bengkok perangkat desa itu, sesuai dengan Suarat Keputusan Kepala (SK) Desa Nomor 141.1/22/2014 tentang Penetapan Lahan Bandha Desa dan Bengkok Perangkat Desa. ”Sesuai ketentuan perdes, kepala desa berhak menetapkan lahan banda desa dan bengkok perangkat,” tegasnya.

Menurutnya, setidaknya ada 2,4 hektare lahan bengkok milik delapan orang perangkat desa yang ditukar dengan lahan banda desa. Sedangkan mengenai tidak diajaknya BPD untuk berembug, menurut Mila, karena penetapan lokasi banda desa dan bengkok perangkat tersebut merupakan hak dan kewenangan kepala desa.  (Merie)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →