Loading...
You are here:  Home  >  Politik & Pemerintahan  >  Artikel ini

Tak Hanya Renovasi, Lakukan Juga Kaderisasi



Reporter:    /  @ 01:18:02  /  22 Oktober 2014

    Print       Email

Seorang pekerja sedang menyemprotkan cairan khusus yang diperuntukkan bagi perlindungan batu bata Menara Kudus. Dengan cairan ini, maka batu bata akan awet dan terhindar dari lumut. Sehingga keberadaannya akan tetap baik-baik saja. (KOMA / Merie)

Keberadaan Tim Balai Peninggalan Cagar Budaya (BPCB) yang terdiri dari 10 anggotanya di Menara Kudus, ternyata bukan hanya terkait dengan masalah pemugaran atau renovasi semata. Selama kurang lebih delapan bulan mereka bekerja, ereka juga memberikan pembelajaran kepada pekerja lokal yang membantu pemugaran.

Para pekerja lokal itu, dididik menjadi tenaga pemugar yang profesional. Yakni yang sesuai dengan standar operasional pemugaran. Hal itu dilakukan tim, di sela-sela proses renovasi. Memang waktu yang digunakan untuk pengkaderan ini, bisa dibilang singkat.

Koordinator pemugaran Menara Kudus dari BPCB Jateng Rabiman atau yang akrab disapa Mbah Man, mengatakan bahwa kegiatan yang dilakukan pihaknya itu, adalah belajar nonformal mengenai sebuah proses pemugaran. Saat proses renovasi berlangsung, para pekerja lokal itu kemudian dididik bagaimana proses pemugaran yang benar.

”Pekerja yang membantu tim BPCB saat pemugaran Menara Kudus, rata-rata sudah memiliki keahlian di bidang masing – masing. Nah, saat mereka ikut dalam proses pemugaran ini, kami memberikan arahan yang benar bagaimana cara memugar. Termasuk memperlakukan material dengan baik, supaya tidak cepat atau mudah rusak. Jadi metodenya sederhana saja. Sambil bekerja, sambil kita belajar bersama-sama,” tuturnya.

Mbah Man mengatakan, umumnya para pekerja tersebut langsung mengerti dan memahami apa yang disampaikan pihaknya. Ini merupakan satu hal yang sangat bagus, karena selanjutnya mereka akan bisa melakukan semua prosesnya dengan sendiri. Artinya, saat dilakukan pemeliharaan usai renovasi, maka mereka sudah memahami dan mengetahui apa yang harus dilakukan. 

Peran pekerja lokal, menurut Mbah Man, sangatlah penting. Mereka akan kembali dibutuhkan jika kemudian ada pekerjaan-pekerjaan susulan yang dilakukan di Menrara Kudus. Karena itu, memberikan pengetahuan yang lengkap tentang bagaimana melakukan pembongkaran dengan baik, juga sangat penting dilakukan. 

”Seperti membongkar bangunan – bangunan lain yang kondisinya memprihatinkan. Dalam kondisi seperti itu, pekerja lokal tetap dibutuhkan peranny. Yang pasti pekerja lokal yang dilibatkan dalam pemugaran, mendapatkan ilmu yang baru bagaimana memugar bangunan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah. Dan hal ini tidak hanya berlaku di Kudus saja. Melainkan di daerah manapun ketika BPCB melakukan kegiatan pemugaran,” tuturnya.

Usai pemugaran, bukan berarti kemudian tugas dari BPCB berakhir. Mbah Man mengatakan, pihaknya akan tetap melakukan pendampingan kepada proses pemeliharaan Menara Kudus. Jika kemudian nantinya ada pekerjaan yang dianggap cukup vital, maka mereka akan siap untuk terjun kembali ke lapangan untuk melakukan supervisi. ”Itu sudah sesuai dengan tugas dan standar pekerjaan kami soalnya,” tegasnya.

Ada cerita lain seputar proses pemugaran Menara Kudus yang sudah usai dilakukan kemarin. Yakni protes dari pengunjung yang menginginkan supaya proses tersebut segera diselesaikan. Mereka merasa bahwa bambu-bambu penyangga menara yang dibuat selama proses pemugaran dilakukan, membuat pemandangan yang tidak bagus saat pengunjung berfoto di depan Menara Kudus.

Ini dialami oleh Mbah Man, yang mengatakan jika dirinya memang sering mendapatkan protes seperti itu. Terutama dari peziarah yang datang jauh-jauh dari berbagai kota lainnya. ”Mereka bilang untuk segera menyelesaikan pemugaran. Soalnya mereka terganggu saat melakukan sesi foto di depan menara, tapi masih ada bambunya. Jadi, hasil fotonya tidak bagus, karena menaranya ketutup bambu-bambu penyangga itu,” ujarnya.

Selama proses renovasi, memang bangunan Menara Kudus tidak bisa dilihat secara utuh. Itu karena banyaknya penyangga dari bambu yang dibuat untuk proses renovasi. Jadi wajarlah jika kemudian pengunjung yang datang dari jauh, sedikit kecewa saat berfoto dengan latar belakang Menara Kudus, namun tidak bisa tampak secara utuh.

Di sisi lain, sebenarnya bukan hanya Menara Kudus saja yang sebenarnya membutuhkan renovasi. Beberapa bangunan BCB lainnya, juga perlu mendapat perhatian. Misalnya saja Masjid Bubar, yang merupakan peninggalan Sunan Kudus. Masjid ini dibangun pada abad ke-15, dan terletak di Dukuh Tepasan, Desa Demangan, Kecamatan Kota. Saat ini, kondisinya juga bisa dibilang memprihatinkan.

Masjid yang memiliki luas 37,80 meter persegi tersebut, memang diusulkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus untuk bisa juga dipugar. Kondisinya cukup memprihatinkan, di mana susunan batu bata pada anatomi bangunan sudah tidak beraturan. Ini dikarenakan memang sudah rusak dan perlu penggantian.

Usulan ini juga sudah disampaikan kepada BPCB Jateng agar segera dilakukan pemugaran. Namun memang belum mendapatkan tanggapan. Hanya saja, upaya untuk menyelamatkan Masjid Bubar ini, sebagai bagian dari sejarah juga, harus dilakukan. Supaya jejak sejarah Islam di Kudus tidak punah.

Dari pendataan yang dilakukan Disbudpar Kudus, hingga tahun 2005 lalu, setidaknya ada 78 cagar budaya kategori yang tidak bergerak. Dan beberapa di antaranya telah dilakukan pemugaran. Semua proses untuk upaya penyelamatan tersebut, sampai sekarang memang masih terus dilakukan. (Merie)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →