Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini

Proyek Perahu Adalah Proyek Spesifik



Reporter:    /  @ 03:12:34  /  21 Oktober 2014

    Print       Email

Mantan Kepala Kantor Kesbangpollinmas Ali Rifa’i saat menjelaskan persoalan proyek pengadaan perahu kepada sejumlah wartawan, kemarin. Dia menegaskan jika proyek tersebut sudah sesuai dengan prosedur yang ada. (KOMA / Merie)

KUDUS – Proyek pengadaan perahu atau sekoci yang dilakukan Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpollinmas) pada tahun 2010 lalu, disebut sebagai proyek spesifik. Yakni penanganan banjir yang setiap tahunnya selalu terjadi, utamanya di wilayah Kecamatan Undaan.

Hal itu disampaikan mantan Kepala Kantor Kesbangpollinmas Kudus Ali Rifa’i, kepada sejumlah wartawan kemarin (20/10). Menurutnya, saat akhir Desember 2007 hingga awal 2008, di wilayah Kecamatan Undaan terjadi banjir besar yang merendam seluruh kawasan tersebut.

”Usai banjir itulah, sekitar tahun 2009-2010, kemudian muncul aspirasi di kalangan DPRD Kabupaten Kudus, untuk dibuatkan perahu khusus yang bisa mengatasi persoalan itu. Munculnya saat Kesbangpollinmas rapat kerja dengan Komisi A DPRD Kudus. Dan itu adalah aspirasi dari masyarakat yang disampaikan melalui dewan,” tuturnya.

Karena dianggap sebagai sesuatu yang memang cukup penting, akhirnya dibentuklah tim yang akan mengkoordinasikan pengadaan perahu. Prosedur yang ditempuh juga sudah sesuai dengan ketentuan. ”Kami usulkan di Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD), kemudian juga dibahas di Komisi A, sampai akhirnya pembentukan panitia untuk keperluan proyek itu sendiri,” paparnya.

Proyek ini kemudian disebut sebagai proyek spesifik, karena memang ada beberapa spesialisasi di dalamnya. Yakni bisa mengatasi persoalan ketika banjir melanda satu kawasan, misalnya di Undaan. Perahu itu sendiri, didesain agar bisa melawan arus. ”Ini memang perahu khusus, perahu spesifik untuk kondisi bencana banjir. Supaya kalau terjadi banjir lagi seperti tahun 2008 itu, maka sudah bisa diatasi dengan perahu tersebut,” katanya.

Dengan anggaran yang dipatok Rp 271 juta, pengadaan perahu itu akhirnya dilakukan pada Oktober 2010. Pembuatnya adalah anak perusahaan PT PAL Indonesia di Surabaya. Tidak cukup hanya pihak Kesbangpollinmas saja yang kemudian datang langsung ke perusahaan pembuat, namun jajaran Komisi A juga diajak ke sana. ”Supaya bisa melihat langsung bagaimana dan darimana kita nanti memesan perahu itu. Supaya bisa ikut mengawasi. Kebetulan waktu itu saya tidak ikut ke sana. Tapi semua sudah diurus oleh kasi Linmas kala itu, Atok Darmobroto,” jelasnya.

Berdasarkan dokumen kontrak yang ada, proyek tersebut ternyata bukan hanya pengadaan perahu saja. Melainkan juga pengadaan lampu sekoci. Lampu ini, berguna jika perahu digunakan pada malam hari. ”Waktu itu, juga saya sempat mengusulkan untuk membuat semacam lori guna mengangkut perahu. Soalnya kan, memang berat. Tidak bisa dinaikkan ke kendaraan. Lebih baik dibawa lori dan ditarik dengan kendaraan lain. Hanya saja, usulan itu kemudian tidak jadi dilaksanakan,” ujar pria yang sekarang menjabat sebagai staf ahli bupati Bidang Hukum dan Politik.

Setelah perahu jadi, kemudian dilakukan pengecekan oleh tim yang sudah ditunjuk. Bahkan, tes atau uji coba terhadap kondisi perahu apakah bisa digunakan di air, juga sudah dilakukan. Dan semuanya dalam kondisi baik-baik saja. ”Bahkan, tidak ada temuan apapun mengenai penyimpangan atau penyalahgunaan anggaran dalam pengadaan perahu ini. Baik itu dari Inspektorat maupun dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan, red),” tegasnya.

Karena itu, Ali juga tidak paham kenapa kemudian proyek perahu ini diselidiki pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Kudus. Dirinya sudah mengikuti seluruh prosedur yang ada, dalam melaksanakan sebuah proyek. ”Tapi, kalau kemudian kami dipanggil kejaksaan atau dimintai keterangan, kami terbuka saja. Saya siap datang. Kita akan jelaskan semuanya,” katanya.

Disinggung mengenai perahu yang mangkrak, menurut Ali hal itu dikarenakan penggunaan yang tidak optimal. Jika digunakan semaksimal mungkin, maka perahu akan lebih bisa digunakan. ”Tapi saya juga tidak tahu kenapa jadi begitu. Karena ketika kita masih di sana, belum pernah ada lagi banjir besar yang membutuhkan kehadiran perahu. Barangkali karena tidak ada bencana itulah, maka perahu jadi tidak digunakan,” imbuhnya. (Merie)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →