Loading...
You are here:  Home  >  Politik & Pemerintahan  >  Artikel ini

Kreativitas yang Terkendala Akses Jalan



Reporter:    /  @ 02:11:55  /  21 Oktober 2014

    Print       Email

Diawali dengan dentuman musik dari para grup drumband, acara Karnaval Batik Lasem 2014, resmi dimulai. Suasana siang menjelang sore di jalur pantura Lasem-Tuyuhan itu, mendadak ramai. Masyarakat yang semula berada di pinggir jalan, merangsek ke tengah untuk bisa melihat lebih dekat, para model yang memeragakan batik.

Layaknya peragawati, ratusan siswa sekolah dari berbagai tingkatan itu, kemudian berjalan menyusuri jalur aspal, di bawah terik matahari yang cukup menyengat. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkah mereka untuk bisa terus melangkah mengikuti jalannya acara.

Mereka juga tidak memedulikan angin yang terus menerus berhembus dengan kencangnya, sehingga membuat pakaian yang mereka kenakan, di mana memang berupa pakaian yang tidak biasa dan ukurannya besar, bisa saja membuat mereka jatuh. Ada beberapa yang harus dipegang pada bagian belakangnya, untuk menahan kestabilan.

”Ini kencang sekali anginnya. Kita harus ekstra megangin. Kalau tidak, bisa-bisa malah kabur dan jatuh nantinya. Sayang kalau sampai berantakan. Soalnya kan, sudah susah-susah dibuat,” kata Melani, salah satu peserta karnaval, yang terlihat sibuk memegang bagian belakang model yang memakai pakaian hasil kreasi mereka.

Apalagi, perjalanan para peserta karnaval tersebut juga tidak bisa dikatakan mulus. Pasalnya, sepanjang jalan mereka harus berhenti, untuk melayani masyarakat yang ingin berfoto dengan mereka. Apalagi jika ada baju atau model batik yang unik, segera saja masyarakat berlari ke tengah jalan dan menyetop model tersebut. Kemudian, mereka akan berfoto bersama. Terkadang bukan hanya satu orang, tapi banyak orang yang ingin berfoto. Makin lamalah barisan model tersebut berjalan.

Tahun ini adalah tahun kedua digelarnya acara Karnaval Batik Lasem. Konon, motif batik Lasem diperkenalkan oleh seorang anak buah kapal Laksamana Cheng Ho yang bernama Bi Nang Un. Menurut cerita, Bi Nang Un adalah seorang saudagar muslim. 

Namun, jauh sebelumnya, masyarakat Lasem sudah menyukai seni membatik. Hanya saja, saat itu dianggap kurang komersial. ”Oleh Bi Nang Un tadi, masyarakat Lasem ini mulai diajarkan cara membatik yang lebih baik,” kata Camat Lasem Kukuh Purwasono, usai acara.

Karnaval Batik Lasem 2014, adalah puncak acara dari Festival Lasem 2014, yang digelar sejak 5 Oktober lalu. Ada banyak komunitas yang turut serta dalam kegiatan ini. Tujuannya satu, menghidupkan kembali segala potensi budaya asal Lasem. ”Selain tentunya, untuk mempererat tali silahturrahmi di antara komunitas seni yang ada di Lasem,” kata koordinator karnaval Moh Nurrohman.

Menurutnya, peserta karnaval tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Di mana tahun lalu, hanya sedikit yang turut memeriahkan acara ini. Tapi, pada tahun ini banyak sekolah yang kemudian mengirimkan wakilnya untuk ikut terlibat dalam acara tersebut.

”Kami ikut senang karena sudah banyak yang mau ikut dalam kegiatan ini. Sekolah-sekolah terutama, yang turut berpartisipasi untuk bisa melestarikan batik khas Lasem ini. Karena kalau bukan mereka yang sejak dini ikut melestarikan, terus siapa lagi,” tuturnya.

Nurrohman mengatakan, pihaknya ingin memperlihatkan kepada semua pihak, bahwa dengan kain batik maka kesejahteraan bisa dicapai. Dia mencontohkan dirinya, yang aktif mengolah kain-kain sisa dari batik, untuk membuat aneka kerajinan yang bernilai tinggi. 

”Bahkan, saya bisa ke luar negeri karena batik. Saya bisa buktikan bahwa batik bisa memberikan penghidupan. Batik bisa membuat kita ”kaya”. Bukan hanya soal materi saja, namun juga membuat kita kaya ide, kaya pengalaman. Dan yang terpenting, bahwa kita sudah ikut melestarikan warisan leluhur ini,” paparnya.

Namun, satu hal yang cukup mengganggu dari acara ini adalah belum sterilnya jalan yang digunakan untuk jalur model karnaval. Kendaraan besar seperti truk, bus, dan lainnya, masih terlihat di kanan kiri jalan. Sehingga membuat lebar jalan menjadi berkurang, dan membuat gerak para peserta menjadi tidak leluasa. 

Ini juga disadari oleh Nurrohman. Menurutnya, saat dirinya beraudiensi dengan Plt Bupati Rembang H Abdul Hafidz untuk menyampaikan soal acara tersebut, ada satu hal yang dimintanya dengan sangat. ”Waktu itu, Pak Bupati menanyakan apa yang bisa dibantu. Saya jawab bahwa kami butuh akses yang luas. Termasuk kami butuh steril jalannya untuk kegiatan ini. Kami mohon supaya bisa menutup akses jalan tersebut. Tapi hal itu ternyata tidak bisa dilakukan. Karena memang lokasi karnaval berada di jalur pantura yang juga vital,” katanya.

Salah satu ”korban” dari acara ini, ternyata adalaha Plt Bupati Rembang H Abdul Hafidz sendiri. Pasalnya, yang bersangkutan terjebak tidak bisa masuk ke lokasi acara, yang memang dijadwalkan untuk membuka. ”Akhirnya, Pak Bupati sampai harus dinaikkan dengan sepeda motor untuk sampai ke lokasi utama. Karena memang antusiasme warga untuk melihat acara ini juga sangat tinggi. Selain kendaraan itu sendiri. Macet memang,” cerita Camat Lasem Kukuh Purwasono, kemudian.

Namun, para sopir yang terpaksa antre dengan parkir di pinggir-pinggir jalan, mengaku terhibur dengan adanya karnaval ini. Acara tersebut, bisa dianggap sebagai salah satu hiburan dadakan bagi mereka. Kris, salah satunya. Sopir tronton ini, memang harus menahan diri kurang lebih tiga jam hingga karnaval selesai, untuk bisa kembali berjalan.

”Memang perjalanan saya agak terganggu. Lama jadinya sampai ke lokasi tujuan. Tapi, saya malah jadi ada hiburan. Melihat banyak yang jadi model pakai baju bentuknya beraneka ragam. Tidak apa-apa kalau telat. Saya dukung acara seperti ini setiap tahunnya,” katanya. (Merie)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →