Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

PNS Bukan Tujuan Akhir Seorang Sarjana



Reporter:    /  @ 02:07:30  /  21 Oktober 2014

    Print       Email

Oleh : Yanuri Natalia Sunata, S. Pd

Editor buku warga Bogorejo Kabupaten Blora 

 

 

Akhir-akhir ini masyarakat kita disibukkan dengan pendaftaran seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS). Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) mengumumkan, proses pendaftaran CPNS 2014 telah berhasil menyedot lebih dari dua juta pelamar sampai Jumat (3/10/2014). Namun, jumlah pendaftar tidak sebanding dengan jumlah formasi yang ada. Sebagian besar kesempatan seleksi CPNS diberikan kepada pelamar yang sudah mendapatkan gelar sarjana. Gelar sarjana diberikan oleh institusi pendidikan tinggi dengan menyelesaikan studi kurang lebih 4 tahun. Bila seorang mahasiswa diajukan pertanyaan akan kemana mereka setelah lulus kuliah nanti, sebagian besar dari mereka akan menjawab “mencari suatu pekerjaan” ataupun bekerja pada suatu perusahaan atau lembaga baik dari pemerintah maupun swasta. Sedikit yang akan menjawab untuk menciptakan pekerjaan sendiri atau yang sering disebut dengan berwirausaha. Fakta di lapangan menunjukkan antara pelamar pekerjaan dengan lapangan kerja tidak sebanding bahkan melampaui batas normal. Di Indonesia masih banyak pelamar kerjanya dibanding lapangan kerja yang tersedia, sehingga mengakibatkan pengangguran di kalangan terdidik yang semakin lama semakin besar kuantitasnya.

 

Banyak alasan dan pendapat mereka yang takut dalam berwirausaha, salah satunya karena berbagai mitos di kalangan masyarakat bahwa menjadi wirausahawan mudah bangkrut, penghasilannya tidak pasti, ketegangan mental yang tinggi, serta pandangan negatif orang lain jika belum sukses. Hal itulah yang cukup mengganggu dan sering menimbulkan ketakutan yang luar biasa dan kemudian orang berusaha menghindarinya. Sebaliknya, jika seseorang mampu berpikir jernih bahwa dengan berwirausaha ada beberapa kelebihan yang bisa didapatkan yaitu peluang sangat besar dan tidak terbatas untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, peluang dalam melakukan perubahan, serta dapat melakukan bisnis sesuai dengan kesukaan masing-masing. Untuk itu perlu dibutuhkan pengetahuan yang mendalam tentang seluk-beluk kewirausahaan.

Untuk membekali kalangan terdidik, saat ini pemerintah melalui Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mewacanakan program pelatihan kewirausahaan (entrepreneurship). Hal tersebut digadang-gadang menjadi salah satu terobosan yang logis dan strategis untuk mengatasi permasalahan pengangguran muda dan terdidik di Indonesia. Keberadaan wirausaha di dalam sebuah negara memiliki peran penting terhadap perkembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, potensi sumber daya alam yang melimpah dan ketersediaan sumber daya manusia di Indonesia mampu melahirkan generasi-generasi wirausaha muda yang unggul dan berdaya saing di berbagai bidang usaha.  Saat ini Indonesia pun telah ditunjuk PBB menjadi salah satu negara percontohan dalam hal penyiapan lapangan pekerjaan yang layak dan produktif bagi kaum muda. Pemerintah menindaklanjuti dengan membentuk Jejaring Lapangan Kerja bagi Kaum Muda Indonesia (Indonesian Youth Employment Network) yang melibatkan koordinasi lintas kementerian terkait dan lembaga non pemerintah.

Menurut Purdi E. Chandra ada beberapa resep jitu bagi yang ingin berwirausaha, yaitu jurus BODOL, BOTOL, dan BOBOL. Jika masih bingung ketika memulai suatu bisnis karena tidak mempunyai modal, jurus BODOL (Berani Optimis Duit Orang Lain) tepat untuk diterapkan. Di dalam berbisnis diperlukan keberanian dan rasa optimis. Jika tidak mempunyai modal tidak ada salahnya meminjam uang orang lain. Kalau kita mempunyai modal yang cukup untuk berbisnis, tetapi tidak ahli di bidang bisnis, jurus BOTOL (Berani Optimis Tenaga Orang Lain) dapat diterapkan. Dengan kata lain, untuk menjalankan bisnis tidak harus dengan menggunakan tenaga sendiri tetapi dapat juga memanfaatkan tenaga orang lain yang mampu dan berkompetensi sesuai bidang usaha yang diajukan. Jurus yang terakhir adalah BOBOL (Berani Optimis Bisnis Orang Lain). Jurus ini digunakan jika ide bisnis tak ada maka kita bisa meniru bisnis orang lain, misalnya dengan cara waralaba. 

Upaya pengentasan pengangguran kalangan terdidik melalui penciptaan wirausaha muda merupakan tanggung jawab semua. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu kerjasama dari berbagai stake holder terkait, yang meliputi pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, serta kelompok masyarakat lainnya. Pemerintah dapat menggencarkan pelaksanaan Gerakan Penanggulangan Pengangguran (GPP) dengan pemberdayaan masyarakat mandiri, penerapan teknologi tepat guna, pendayagunaan tenaga kerja professional, pendampingan, penciptaan lapangan pekerjaan padat karya, dan peningkatan intensitas penyelenggaraan job fair.

 Melalui berbagai usaha tersebut, diharapkan dapat memberikan hasil yang optimal bagi perekonomian masyarakat. Selain itu, perspektif masyarakat dapat diubah bahwa lulusan sarjana tidak hanya berkutat pada mendapatkan pekerjaan dari pemerintah atau menjadi PNS, tetapi juga dapat menciptakan lapangan usaha sendiri dengan berwirausaha.(*) 

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →