Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini

Target APBN Tak Tercapai, Cukai Rokok Jadi Sasaran



Reporter:    /  @ 02:35:12  /  20 Oktober 2014

    Print       Email

KUDUS – Pemerintah pusat kembali menaikkan tarif cukai hasil tembakau melalui keputusan yang ditandatangani Menteri Keuangan, per 1 Januari 2015 mendatang. Kalangan pelaku industri hasil tembakau (IHT) menilainya sebagai upaya pemerintah untuk makin mematikan industri tersebut.

Kenaikan cukai rokok ini, berkisar antara 8,72 persen. Disebutkan bahwa kenaikan ini, terjadi atas beberapa pertimbangan. Di antaranya, perlunya meningkatkan penerimaan negara. Ditambah lagi, pada tahun lalu tidak ada kenaikan tarif cukai.

Alasan untuk meningkatkan penerimaan negara inilah yang kemudian yang dipersoalkan pelaku IHT. Agus Suparyanto dari PR Gentong Gotri misalnya, mengatakan jika kenaikan tarif cukai tersebut, adalah bentuk dari bagaimana pemerintah masih sangat menggantungkan diri kepada industri hasil tembakau ini.

”Kami melihat bahwa ketika pemerintah gagal untuk memenuhi pendapatan negaranya, kemudian langsung cukai hasil tembakau ini menjadi sasaran. Caranya gampang sekali, dengan menaikkan tarif cukai yang ada. Supaya penerimaan APBN menjadi bisa tepenuhi targetnya. Pemerintah ,” katanya kemarin.

Agus mengatakan bahwa ini juga salah satu keputusan yang sama sekali tidak memihak kepada pelaku IHT. Kebijakan yang dinilai akan semakin membuat IHT semakin lama semakin mati. Terutama sekali untuk pabrikan rokok kecil, yang sekarang ini memang sedang dalam masa susah untuk terus berkembang.

”Bagaimana kemudian kita yang dari pabrikan kecil ini akan semakin berkembang, dibantu untuk hidup, ketika kebijakan yang ada malah semakin mematikan kami. Dengan kenaikan cukai rokok ini, otomatis harga rokok akan terus naik. Belum lagi biaya-biaya lainnya. Lantas, bagaimana kami yang dari pabrikan kecil ini bisa terus bertahan,” tuturnya.

Hal yang sama disampaikan Konfederasi Serikat Buruh Sejahtea (KSBSI), yang menilai jika keputusan pemerintah menaikkan tarif cukai rokok tesebut, tidak lebih hanya upaya untuk mematikan IHT.

Koordinator KSBSI Slamet ”Mamik” Machmudi mengatakan, target penerimaan negara dari cukai rokok, menempatkan IHT sebagai industri perahan. ”Tidak ada alternatif bagi IHT, kecuali mempertahankan kelangsungan usaha dengan harga jual produk menyesuaikan kenaikan cukai,” terangnya.

Dari kenaikan tarif cukai, menurut Mamik, dampak terparah dialami Industri Sigaret Kretek Tangan (SKT). Hal ini disebabkan harga cukai produk SKT tidak jarang lebih tinggi dari Sigaret Kretek Mesin (SKM). ”Sementara tren konsumsi akhir-akhir ini mengalami migrasi dari SKT ke SKM. Jumlah peminat SKT mulai mengalami penurunan.  Padahal IHT kecil atau menengah, banyak memproduksi SKT dengan sistem kerja padat karya,” paparnya.

KSBSI menilai pemerintah terlalu yakin dengan target perolehan negara tahun 2015, sebesar Rp 126,7 triliun dari cukai rokok. Untuk mencapai target tersebut, harusnya memperhitungkan kondisi IHT dan daya beli konsumen. ”Target pemerintah tidak akan terlampaui, manakala pengusaha IHT mengurangi pembelian cukai, lantaran enggan berspekulasi dengan kenaikan produk yang akan dipasarkan,” katanya.

Kenaikan tarif cukai rokok, pada dasarnya hanya mempertimbangkan pengendalian konsumsi dan peredaran produk tembakau. Tanpa melihat sisi industri, tenaga kerja dan sektor riil. Kondisi demikian berdampak pada penutupan usaha dan PHK buruh. Bahkan memicu beredarnya produk rokok ilegal.

KSBSI mendesak pemerintah memperhatikan buruh IHT yang terancam PHK. Selama ini, pemerintah bersikap tidak adil dan cenderung mengabaikan aspek kesejahteraan buruh IHT. ”Penurunan produksi di sektor SKT mengurangi pendapatan para buruh serta ancaman kehilangan pekerjaan,” imbuhnya. (Merie)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →