Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Jepara  >  Artikel ini

Sosialisasikan Gerakan One Day No Rice



Reporter:    /  @ 02:25:52  /  20 Oktober 2014

    Print       Email

Gudang beras di Bulog Jepara masih menyediakan beras bagi warga sekitar. Namun, di tahun mendatang, jumlah stok beras akan berkurang seiring menyempitnya lahan pertanian. (KOMA / Wahyu KZ)

JEPARA – Tahun lalu, Jepara mengalami surplus beras sebanyak 21 ribu ton. Namun, dengan maraknya alih fungsi lahan di Kota Ukir itu, menjadikan stok bahan pangan dari beras mengalami pengurangan di tahun-tahun mendatang. Sehingga, Pemkab Jepara menyerukan gerakan One Day NO Rice. 

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Jepara Budi Bawa Yuwana mengatakan gerakan tersebut, sejalan dengan program Kawasan Ruang Pangan Lestari (KRPL). Dengan program One Day No Rice tersebut, warga Jepara diminta tidak mengonsumsi nasi selama satu hari, dan menggantinya dengan sumber karbohidrat lainnya.

”Warga bisa memilih satu hari dalam sepekan untuk tidak makan nasi. Apabila program tersebut berhasil, maka di Jepara bisa menghemat konsumsi beras,” kata Budi, kemarin.

Menurut Budi, apabila kegiatan tersebut berjalan selama setahun, maka bisa menghemat dan mengurangi konsumsi beras 3,14 persen. Jumlah ini lebih besar, jika dibandingkan dengan arahan dari presiden pada 2007 silam yang menyerukan gerakan serupa. ”Saat itu, pemerintah pusat menginstruksikan mengurangi konsumsi beras sebesar 1,5 persen per tahun,” imbuhnya. 

Budi menyatakan, upaya yang dilakukan saat ini bekerjasama dengan satuan kerja pemerintah daerah (SKPD) terkait, agar program tersebut bisa dijalankan. Sehingga, masyarakat sebagai obyek dari program tersebut bisa melaksanakan dan menetapkan satu hari dalam sepekan untuk tidak mengonsumsi beras. 

”Tahun ini, diprediksi tidak ada surplus beras. Karena, hasil panen mengalami penurunan,” terang Budi. 

Sekda Sholih menambahkan, agar kebutuhan beras tahun ini terpenuhi, para petani di Jepara harus melakukan sejumlah tindakan pertanian. Mulai dari intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi. Hal itu dilakukan, untuk menjaga kedaulatan pangan di Kota Ukir itu. Sedangkan untuk mendukung program One Day No Rice, pihaknya akan mencoba mengurangi anggaran konsumsi setiap digelar rapat.

”Mungkin, di setiap rapat akan dikurangi pos anggaran makanan, terutama nasi. Bisa diganti dengan makanan ringan, atau makanan pengganti nasi, contohnya jagung dan ketela,” ucapnya. (Wahyu KZ / Aries Budi)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →